Jumat, 17 Januari 2014

sastrawan dari SUMATERA UTARA



1.      Helvy Tiana Rosa
            Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 43 tahun) adalah sastrawan, Pendiri Forum Lingkar Pena dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
            Meski sudah menulis ratusan cerpen sejak kecil dan remaja, karya-karya Helvy tak kunjung dibukukan hingga 1997. Helvy kerap berupaya mengumpulkan cerpen-cerpennya yang berserakan di berbagai media, terutama di Majalah Annida dan membawanya ke penerbit. Tahun 1995 ia pernah menunggu empat jam di sebuah penerbitan sambil membawa naskahnya dan pulang dengan tangan hampa. Tahun 1996 tanpa sepengetahuan Helvy, cerpen-cerpen Helvy yang berserakan itu diterbitkan oleh Ummah Media, Malaysia dan diakui sebagai karya dari Ahmad Faris Muda, dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia. Helvy sempat ingin menempuh jalur hukum, namun karena rumit dan berbelit-belit serta membutuhkan biaya untuk pengacara, ia kemudian hanya bisa menuliskan tentang hal tersebut di koran-koran.
            Tahun 1997 akhirnya Majalah Annida melalui Penerbit Pustaka Annida dan menerbitkan karya Helvy: Ketika Mas Gagah Pergi. Buku ini membawanya mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam Short Story Writing Program yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara, 1998. Tahun 1999 Helvy diundang mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Tahun 2000 cerpennya tentang Aceh: “Jaring-Jaring Merah”yang ditulis sebelum reformasi 1998, terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Horison dalam satu dekade (1990-2000). Tahun 2000 ia diundang mengikuti Kongres Cerpen I Indonesia di Yogyakarta dan Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darussalam (2001). Tahun 2001 Helvy diundang membacakan puisinya pada acara Baca Puisi Tiga Generasi di Taman Ismail Marzuki, bersama Toety Herati, Leon Agusta, Afrizal Malna, Isbedy Stiawan dan Dorothea Rosa Herliany. Pada tahun yang sama Helvy melanjutkan kuliah pascasarjana di Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Salah satu dosen yang mengajarnya adalah penyair terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Pada tahun itu pula bersama Taufiq Ismail, WS Rendra, Hamid Jabbar, Emha Ainun Najib Helvy diundang ke Banda Aceh dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya.
            Tahun 2002 bersama Martin Aleida, ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan cerpen-cerpennya di Taman Ismail Marzuki. Helvy diundang ke Kairo, Mesir untuk mengisi acara Simposium Budaya di Universitas Al Azhar Mesir (2002), bekerjasama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ICMI. Saat itu pula ia meresmikan berdirinya Forum Lingkar Pena Mesir, dengan Ketua Habiburrahman El Shirazy. Bersama dengan teman-temannya di FLP, Habiburrahman mengikuti workshop penulisan yang waktu itu disampaikan Helvy dan Ahmadun Y. Herfanda, diadakan oleh FLP Mesir dan ICMI.
Helvy menjadi sastrawan Indonesia pertama yang diundang membentangkan makalah dalam Singapore Writers Festival bersama sastrawan lain dari puluhan negara (2003). Ia juga diminta menjadi juri kehormatan Golden Point Award, suatu ajang penghargaan sastra bergengsi di Singapura.
2.      Sitor Situmorang

Pekerjaan
Penulis
Kebangsaan
Indonesia
Suku bangsa
Batak
Aliran sastra
Puisi
            Sitor Situmorang (lahir di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923; umur 89 tahun) adalah wartawan, sastrawan, dan penyair Indonesia. Ayahnya adalah Ompu Babiat Situmorang yang pernah berjuang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.
            Sitor dilahirkan dengan nama Raja Usu. Dia menempuh pendidikan pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung kemudian AMS di Batavia (kini Jakarta). Pada tahun 1950-1952, Sitor sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris. Selanjutnya, ia memperdalam ilmu memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California pada tahun 1956-57.
            Waktu kelas dua SMP, Sitor berkunjung ke rumah abangnya di Sibolga dan menemukan buku Max Havelaar karya Multatuli.l Buku itu selesai dibaca dalam 2-3 hari tanpa putus, walau penguasaan bahasa Belandanya belum memadai. Isi buku menyentuh kesadaran kebangsaannya. Ia menerjemahkan sajak Saidjah dan Adinda dari Max Havelaar ke dalam bahasa Batak. Sejak itu, minat dan pehatian terhadap sastra makin tumbuh, dan dibarengi aspirasi "kelak akan menjadi pengarang".
            Teeuw menyebutkan bahwa Sitor Situmorang menjadi penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya Chairil Anwar. Sitor menjadi semakin terlibat dalam ideologi perjuangan pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an, sebagai pengagum Presiden Soekarno, benar-benar melepaskan kesetiaanya kepada Angkatan '45 khususnya Chairil Anwar, pada masa ini.

0 komentar:

Posting Komentar