Selasa, 13 Mei 2014

makalah tentang verba majemuk



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Kompositum atau bentuk majemuk adalah penggabungan dua bentuk kata atau lebih. Bentuk ini terdiri atas verba majemuk dan verba nominal. Verba majemuk adalah deret dua kata atau lebih menghasilkan makna yang masih dapat diruntut dari makna komponennya yang tergabung (Moeliono, 2001: 22).
Verba nominal pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan verba majemuk. Suami-istri merupakan verba nominal karena maknanya masih dapat diuraikan dari makna kata suami dan istri. Hal ini sangat jelas berbeda dengan idiom. Idiom juga terbentuk melalui proses penggabungan beberapa kata. Perbedaan antara verba majemuk dan nomina majemuk dengan idiom terdapat pada penulusuran makna kata yang membentuknya. Jika makna verbal majemuk dan nominal majemuk masing dapat diuraikan, makna idiom tidak dapat diuraikan secara langsung dari masing-masing makna yang tergabung. Kata naik dapat digabungkan dengan darah sehingga terbentuk naik darah. Perpaduan dua kata ini menimbulkan makna baru dan tidak ada hubungannya dengan darah yang naik.
Berdasarkan panjang-pendeknya, verba majemuk dan verba nominal berbeda dengan idiom. Perpaduan bentuk majemuk pada umumnya terdiri atas dua kata. Tatap muka, bunuh diri, dan maju mundur merupakan contoh verba majemuk dan uang pangkal, anak cucu, dan cetak coba merupakan contoh verba nominal.
 Akan tetapi, perpaduan pada bentuk idiom dapat terdiri dari dua kata atau lebih. Kata bertepuk sebelah tangan, bermain api, dan memancing di air keruh adalah bentuk-bentuk idiom.
Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Dalam verba majemuk, penjejeran dua kata atau lebih itu menumbuhkan makna yang secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung. Idiom juga merupakan perpaduan dua kata atau lebih tetapi makna dari makna masing-masing kata yang bergantung.

B.   Rumusan Masalah
VERBA MAJEMUK
C.   Pembahasan Masalah
1.      Verba Majemuk
2.      Jenis-Jenis Verba  Majemuk
3.      Idiom
4.      Perbedaan Verba Majemuk dan Idiom
5.      Kompositum
6.      Jenis-Jenis Kompositum
7.      Perbedaan Verba Majemuk dengan  Kompositum

D.   Tujuan Makalah
Tujuannya agar dapat menambah wawasan bagi pembaca khususnya para mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah agar lebih memahami tentang “VERBA MAJEMUK”.
E.   Manfaat Makalah
Makalah ini di buat sebagai acuan atau panduan untuk para pembaca dan juga mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah dalam proses pembelajaran “MORFOLOGI”  baik di sekolah maupun di luar sekolah.







BAB II
PEMBAHASAN
VERBA MAJEMUK

A.   VERBA MAJEMUK
Menurut Bear (1988), Majemuk adalah leksem baru hasil dari gabungan dua leksem atau lebih. Katamba (1994 : 291), mengatakan bahwa majemuk adalah kata yang terdiri atas, minimal dua dasar yang tiap-tiap dasar dapat berdiri sendiri. kridalaksana (2008), menyebutnya sebagai gabungan leksem dengan leksem yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang memiliki kata yang memiliki fonologis, gramatikal, dan semantik yang khususnya menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.
Verba majemuk adalah deret dua kata atau lebih menghasilkan makna yang masih dapat diruntut dari makna komponennya yang tergabung (Moeliono, 2001: 22).
Jadi, Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Dalam verba majemuk, penjejeran dua kata atau lebih itu menumbuhkan makna yang secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.
Contoh : 
·         Memperjualbelikan, menghancurleburkan (pengafiksasian dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk).
·         Cuci mata, cuci tangan

B.   JENIS-JENIS VERBA MAJEMUK
Berdasarkan bentuk morfologisnya, verba majemuk terbagi atas
(1)   Verba majemuk dasar,
(2)   Verba majemuk berafiks,
(3)   Verba majemuk berulang.
·         Verba Majemuk Dasar
Verba majemuk dasar ialah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang, dan dapat berdiri sendiri dalam frasa, klausa, atau kalimat.
Contoh:
1.      Mabuk laut
2.      Kurang makan
3.      Hancur lebur

·         Verba Majemuk Berafiks
Verba majemuk berafiks adalah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu.
Verba majemuk berafiks dapat dibagi atas:
a.       Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang pangkalnya tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat yang seterusnya disebut bentuk majemuk terikat.
Contoh :
1.      Temu                    
2.      Selenggara            
b.      Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri dan seterusnya disebut bentuk majemuk bebas.
Contoh :
1.      Marah
2.      Darat
3.      Pergi

·         Verba Majemuk Berulang
Verba majemuk berulang adalah verba majemuk pada bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasikan pula. Hanya komponen verba yang mengalami reduplikasi pula.
Contoh:
1.      Tebak-menebak
2.      Menerka-nerka
3.      Gerak-gerik
Berdasarkan komponen-komponennya, verba majemuk terbagi atas
1.      Verba majemuk bertingkat,
2.      Verba majemuk setara.
·      Verba Majemuk Bertingkat
Verba majemuk bertingkat adalah verba majemuk yang salah satu komponennya merupakan inti. Hubungan itu dapat dilihat jelas apabila verba majemuk itu diparafrasekan.
 Contohnya:
1.      Jumpa pers              =       jumpa dengan pers
2.      Haus kekuasaan      =       haus akan kekuasaan

·      Verba Majemuk Setara
Verba majemuk setara ialah verba majemuk yang kedua komponennya merupakan inti. Hubungan itu dapat dilihat pada parafrase sebagai berikut:
Contohnya:
1.      Timbul tenggelam       =   timbul dan tenggelam
2.      Jatuh bangun               =   jatuh dan bangun
Jelaslah bahwa bukan satu komponen yang menjadi inti, tetapi kedua-duanya. Dari parafrase tersebut terlihat bahwa hubungan kedua komponen bersifat koordinatif.
C.   IDIOM
Idiom adalah entitas leksikal yang lebih berfungsi sebagai sebuah kata, walapun terdiri atas beberapa kata (Katamba, 1994:291). Kridalaksana (2007) mendefinisikan idiom sebagai konstruksi yang maknanya tidak sama dengan makna komponennya.
Di Scullio dan Williams (dalam Katamba, 1994) menyebut idiom dengan istilah listemes karena kata tersebut harus listed  dalam leksikon yang kekhasan maknanya tidak tunduk pada kaidah umum dan harus dihafalkan. Idiom seperti musang berbulu ayam atau tertangkap basah  tidak dapat diketahui artinya melalui kata pembentuknya. Bentuk tersebut harus didaftar tersendiri dalam kamus dan dihafalkan maknanya. Kridalaksana memasukkan idiom ke dalam bentuk majemuk atau kompositum karena bentuknya yang selalu merupakan gabungan kata atau leksem.
Idiom juga merupakan perpaduan dua kata atau lebih, tetapi makna dan perpaduan ini tidak dapat secara langsung ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung. Kata naik misalnya, dapat dipadukan dengan kata darah sehingga menjadi naik darah.
Jadi, Idiom adalah dua kata atau lebih yang maknanya tidak sama dengan makna komponen-komponen pada kata.
D.   PERBEDAAN VERBA MAJEMUK DAN IDIOM
Perbedaan verba majemuk dengan idiom:
·      Terdapat pada penelusuran makna kata yang membentuknya
Pada verba majemuk dapat diuraikan , sedangkan idiom tidak dapat diuraikan secara langsung dari masing-masing makna yang tergabung.
Text Box: Verba majemuk =>  A + B menimbulkan makna C
Idiom                =>  A + B menimbulkan makna AB

Kalau di pakai formula untuk membedakan verba majemuk dengan idiom, maka perbedaan itu adalah:



Contoh :
v  Verba Majemuk
Maju mundur => kata “maju” dapat digabung dengan “mundur” sehingga terbentuk
                             “maju mundur”. Perpaduan dua kata menimbulkan makna yang sama
                              dengan kata tersebut yaitu menyatakan “ingin maju dan ingin
                              mundur”
  dan saling berhubungan.

v  Idiom
Naik darah => kata “naik” dapat digabung dengan kata “darah” sehingga terbentuk                          
                         “naik darah”. Perpaduan dua kata menimbulkan makna baru yaitu
                           menyatakan bahwa “mudah marah” dan tidak ada hubungannya dengan
                          darah yang naik.



·      Berdasarkan panjang pendeknya
Pada verba majemuk perpaduan bentuk terdiri atas dua kata. Sedangkan idiom perpaduannya terdiri dari dua kata atau lebih.
Contoh :
v  Verba Majemuk
1.      Maju mundur
2.      Tatap muka
3.      Bunuh diri

v  Idiom
1.    Bertepuk sebelah tangan
2.    Bermain api
3.    Memancing di air keruh

E. KOMPOSITUM
Kompositum (pemajemukan) adalah gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis dan semantic yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.
Harimurti memberikan tiga ciri yang secara jelas membedakan komposisi dan frasa, yaitu sebagai berikut.
Ciri-ciri yang membedakan kata majemuk dari frase:
1.      Ketaktersisipan, yaitu komponen-komponen kompositum tersebut tidak dapat disisipi apa pun. Harimurti member contoh kata alat negara. Kata ini masih bisa disisipi partikel dari sehingga menjadi alat dari negara. Jadi, kata ini bukan kata majemuk, melainkan frase.
2.      Ketakterluasan, yaitu komponen-komponen kompositu tersebut tidak dapat diafiksasi dan dimodifikasi. Jika terjadi perluasan, itu pun hanya mungkin untuk semua komponen sekaligus. Contoh yang diberikan adalah kereta api yang dapat dimodifikasi menjadi perkeretaapian.
3.      Ketakterbalikan, yaitu komponen-komponen tersebut tidak dapat dipertukarkan. Menurutnya, bapak ibu, pulang pergi, dan lebih kurang bukanlah komposisi melainkan frase koordinatif karena dapat dibalikkan. Arif bijaksana, hutan belantara, dan bujuk rayu barulah disebut kompositum karena tidak dapat dibalikkan.
Jadi, menurut Harimurti, jika tidak memenuhi ciri-ciri di atas, bentuk tersebut bukan kompositum, melainkan frase.

F.  JENIS-JENIS KOMPOSITUM
Ada beberapa jenis kompositum yaitu:
1.                  Kompositum subordinatif substantif
Kompositum subordinatif subtantif adalah kompositum yang tidak berakfiks atau tidak berpatikel antara kedua unsurnya.
Contoh: Anak air, buah hati, kepala keluarga, mata panah, perut bumi, suku kata, dan anak sungai.
2.                  Kompositum subordinatif atributif
Kompositum subordinatif atributif adalah kompositum ini sebagian besar juga berfungsi secara predikat dan sebagai satuan maknanya tergantung dari nomina di luar kompositum.
Contoh : Bebas becak, banyak akal, banyak bicara, bebas tugas, berat hati, gelap hati, hilang akal, campur tangan, buruk hati, datang bulan, mati rasa, naik gaji, kurang darah, lepas tangan, panjang umur, ringan tangan, patah tulang, senang hati, tipis harapan, tunarungu, dan tebal muka.
3.                  Kompositum koordinatif
Kompositum koordinatif adalah yang hubungan antar unsurnya bersifat koordinatif.
Contoh : Gegap gempita, adat istiadat, aman sejahtera, panjang lebar, besar kecil, ayah ibu, basah kuyup, anak cucu, dan ambil alih.
4.                  Kompositum berproleksem
Kompositum berproleksem adalah kompositum yang satu unsurnya berupa proleksem.
Contoh : asusila, bilingualisme, metafisika, makro-ekonomi, dan semifinal.




BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Dalam verba majemuk, penjejeran dua kata atau lebih itu menumbuhkan makna yang secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.
Idiom adalah dua kata atau lebih yang maknanya tidak sama dengan makna komponen-komponen pada kata.
Perbedaan verba majemuk dengan idiom:
·      Terdapat pada penelusuran makna kata yang membentuknya
Pada verba majemuk dapat diuraikan , sedangkan idiom tidak dapat diuraikan secara langsung dari masing-masing makna yang tergabung.
·      Berdasarkan panjang pendeknya
Pada verba majemuk perpaduan bentuk terdiri atas dua kata. Sedangkan idiom perpaduannya terdiri dari dua kata atau lebih.
Kompositum (pemajemukan) adalah gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis dan semantic yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.









DAFTAR PUSTAKA



0 komentar:

Posting Komentar