• Jingga Senja

    Life is a struggle and keep it by your self.

  • Jingga Senja 2

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • Jingga Senja 3

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

Kamis, 30 Oktober 2014

makalah tentang Pengertian dan Pendekatan Studi estetika





BAB I
PENDAHULUAN


A.  Pengertian, Definisi  dan Pendekatan Studi
     1.  Pengertian Estetika
           Istilah estetika berasal dari kata Yunani:
a.       Aistetika yang berarti hal-hal yang dapat dicerap dengan panca indra
b.  Aisthesis yang berarti pencerapan panca indra (sense percepstion)
               (The Liang Gie, 1976:15)

 Jadi, estetika menurut arti etimologis, adalah teori tentang ilmu penginderaan. Pencerapan panca indra sebagai titik tolak dari pembahasan Estetika didasarkan pada asumsi bahwa timbulnya rasa keindahan itu pada awalnya melalui rangsangan panca indra.
Istilah estetika sebagai ”ilmu tentang seni dan keindahan” pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten, seorang filsuf Jerman yang hidup pada tahun 1714-1762. Walaupun pembahasan estetika sebagai ilmu baru dimulai pada abad ke XVII namun pemikiran tentang keindahan dan seni sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, yang disebut dengan istilah ”beauty” yang diterjemahkan dengan istilah ”Filsafat Keindahan”.      
Keindahan, menurut luasnya lingkupan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Keindahan dalam arti yang terluas, meliputi keindahan alam, keindahan seni, keindahan moral, keindahan intelektual dan keindahan mutlak (absolut)
2.      Keindahan dalam arti estetis murni : menyangkut pengalaman esetetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
3.      Keindahan dalam arti terbatas hanya menyangkut benda-benda yang dicerap dengan penglihatan, yakni berupa kiendahan bentuk dan warna (The Linag Gie, 1996:17-18).  
Dalam kenyataanya, pencerapan indra penglihatan hanya bersifat terbatas yang menyangkut cahaya, warna dan bentuk. Keindahan dalam arti pengertian inderawi sebenarnya lebih luas daripada yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan, sebab beberapa karya seni dapat pula dicerap oleh indera pendengaran, misalnya seni suara.
Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian idea kebaikan, misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
Plotinus mengatakan tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang  indah.

  1. Definisi
Definisi estetika itu beragam. Tiap-tiap filsuf mempunyai pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tetapi pada prinsipnya, mereka sependapat bahwa estetika adalah cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan/hal yang indah, yang terdapat dalam alam dan seni. Definisi-definisi itu diantaranya:

a.      Definisi umum :
Estetika adalah cabang filsafat yang membahas mengenai keindahan/hal yang indah, yang terdapat pada alam dan seni.

b.      Luis O. Kattoff:
Cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni.

c.       Dictionary of Philosophy (dagobert D. Runes):
Cabang filsafat yang berhubungan dengan keindahan atau hal yang indah, khusunya dalam seni serta citarasa dan ukuran-ukuran nilai baku dalam menilai seni.
d.      The Encyclopedia of Philosophy
Estetik adalah cabang Filsafat yang bertalian dengan penguraian pengertian-pengertian dan pemecahan persoalan-persoalan yang timbul bilamana seseorang merenungkan tentang benda-benda estetis. Pada gilirannya benda-benda estetis adalah semua benda yang tekena oleh pengalaman estetis; dengan demikian hanyalah setelah pengemalan estetis dapat secukupnya dinyarakan ciri-ciri bisalah seseorang menentukan batasnya golongan benda-benda estetis tersebut.

e.       William Halverson
Cabang filsafat (axciology)yang bertalian dengan sifat dasa dari nilai-nilai non-moral khususnya keindahan dan nilai-nilai lainya apapun yang mempunyai sangkutan istimewa dengan seni.

f.       Van meter Ames (Collier's Encyclopedia)
Penelaahan tentang apa yang tersangkut dalam penciptaan, penghargaan dan kritik seni, dalam ubungan seni dengan peranan yang berubah dari sei dalam suatu dunia pancaroba.
g.      Gerome Stolnitz (The Encyclopedia of Phylosophy)
Estetika dilukiskan sebagai penelaahan filsafati tentang keindahan dan kejelekan. Keindahan mempunyai nilai estetis yang bersifat positif, sedangkan kejelekan mempunyai nilai estetis yang bersifat negatif. Hal yang jelek bukan berarti tidak adanya unsur keindahan.

h.      The american Society for aestheties
Semua penelaahan menenai seni dan bermacam-macam pengalaman yang berhubungan dengan itu dari suatu sudut pandang filsafati, ilmiah dan teoritis lainnya, termasuk dari psikologi, sosiologi, anthropology, sejarah kebudayaan kritik seni dan pendidikan (The Liang Gie,1976,16-31).

3.  Ruang Lingkup Filsafat keindahan dan Estetika
Ruang lingkup yang dibahas dengaan estetika meliputi:
1.      Persoalan tentang nilai estetis (estheic value)
2.      Pengalaman estetis ( esthetic experience)
3.      seni (art)
4.      seniman
Hal ini dipelajari secara historis, ilmiah, teoritis, informatif dan filosofis.

Secara historis artinya estetika dipelajari dari segi sejarahnya dan diharapkan dapat memberikan informasi dan manfaat bagi keidupan manusia. Secara ilmiah artinya estetika dipelajari diuji dan dikaji seperti halnya ilmu pengetahuan. Secara teoritis artinya dengan menggunakan teori-teori atau dalil-dalil serta  pendapat-pendapat dari para filsuf atau ilmuwan di dalam pembahasan estetika secara empiris dan ilmiah. Pendekatan studi secara informatif yaitu dengan mendapatkan masukan atau informasi mengenai sesuatu hal ,baik lewat media massa, ilmu pengetahuan, empiri maupun pendapat  masyarakat. Pendekatan studi filosofis diharapkan mampu mencari dan menemukan esensi atau substansi dari keindahan itu.

Persoalan tentang Nilai Estetis (nilai keindahan)
Dalam rangka teori umum tentang nilai, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomis dan nilai-nilai yang lain. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetis.
Mengenai nilai, ada pendapat yang membedakan antara nilai subjektif dan nilai objektif. Pembedaan lainnya ialah antara nilai perseorangan dan nilai kemasyarakat. Dilihat dari segi  ragamnya nilai dibedakan menjadi nilai intrinsik, nilai instrumental,  nilai inheren dan nilai kontributif.
Nilai estetis sebagai salah satu jenis nilai manusiawi (nilai religius,etis dan intelektual) menurut The Liang Gie, tersusun dari sejumlah nilai yang dalam estetika dikenal dengan kategori-kategori nilai estetis atau kategori-kategori nilai keindahan.Pada umumnya filsuf membedakan adanya tiga pasang yaitu:
a. kategori-kategori yang agung dan yang elok
b. kategori-kategori yang indah dan yang jelek
c. kategorI-kategori yang komis dan yang tragis

Akhirnya Kaplan menambahkan kecabulan (obscennity) sebagai kategori nilai estetis (The Liang Gie, 1978 : 169).

Kecabulan (obscennity) lebih condong pada pendekatan secara etik atau moral. Dalam bidang seni dan keindahan, lebih tepat dengan istilah erotis.


BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN ESTETIKA

            Sejarah perkembangan estetika didasarkan pada sejarah perkembangan estetika di Barat yang dimulai dari filsafat Yunani Kuno. Hal ini dikarenakan estetika telah dibahas secara terperinci berabad-abad lamanya dan dikembangkan dalam lingkungan Filsafat Barat. Hal ini bukan berarti di Timur tidak ada pemikiran estetika.
            Secara garis besarnya, tingkatan/tahapan periodisasi estetika disusun dalam delapan periode, yaitu:
1.Periode  Klasik (dogmatik)
2.Periode Skolastik
3.Periode Renaisance
4.Periode Aufklarung
5.Periode Idealis
6.Periode Romantik
7.Periode Positifistik
8.Periode Kontemporer

A. Periode Klasik (Dogmatik)
Dalam periode ini para folosof yang membahas estetika diantaranya adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Dari ketiga filosof ini dapat dikatakan bahwa Socrates sebagai perintis, Plato yang meletakkan dasar-dasar estetika dan Aristoteles yang meneruskan ajaran-ajaran Plato.
Dalam periode ini ada beberapa ciri mengenai pandangan estetikanya, yaitu :
1. Bersifat metafisik
Keindahan adalah ide, identik dengan ide kebenaran dan ide kebaikan. Keindahan itu mempunyai tingkatan kualitas, dan yang tertinggi adalah keindahan Tuhan.
2. Bersifat objektifistik
Setiap benda yang memiliki keindahan sesungguhnya berad dalam keindahan Tuhan. Alam menjadi indah karena mengambil peranannya atau berpartisipasi dalam keindahan Tuhan.
3. Bersifat fungsional
Pandangan tentang seni dan keindahan haruslah berkaitan dengan kesusilaan (moral), kesenangan, kebenaran dan keadilan.

        Socrates: 468-399SM
          Socrates sebagai seorang perintis yang meletakkan batu pertama bagi fundamen estetika, sebelum ilmu itu diberi nama. Dia adalah anak dari seorang pemahat yang bernama Sophromiscos dan ibunya bernama Phainarete adalah seorang bidan
          Jalan pikiran yang dipergunakan Socrates dalam mencari hakekat keindahan ialah dengan menggunakan cara dialog. Socrates menamakan metodenya ”maeutika tehnic (seni kebidanan)” yang berusaha menolong  mengeluarkan pengertian-pemgertian atau kebenaran. Socrates mencoba mencari pengertian umum dengan jalan dioalog.
          Dalam dialog-dialognya Socrates membuka persoalan dengan mempertanyakan sesuatu itu disebut indah dan sesuatu itu disebut buruk. Apakah sesuatu yang disebut indah itu memiliki keindahan? Lantas apakah keindahan itu? Disini Socrates mencoba merumuskan arti keindahan dari jawaban-jawaban lawan dialognya.
          Menurut Socrates, keindahan yang sejati itu ada di dalam jiwa (roch). Raga  hanya merupakan pembungkus keindahan. Keindahan bukan merupakan sifat tertentu dari suatu benda, tetapi sesuatu yang ada dibalik bendanya itu yang bersifat kejiwaan.

Plato: 427-347SM.
        Menurut Plato keindahan itu bertingkat., untuk mencapai keindahan yang tertinggi (keindahan yang absolut) melalui fase-fase tertentu (Wajiz Anwar, 1980).
        Fase pertama, orang akan tertarik pada suatu benda/tubuh yang indah. Disini manusia akan sadar bahwa kesenangan pada bentuk keindahan keragaan (indrawi) tidak dapat memberikan kepuasan pada jiwa kita. Setelah  kita sadar bahwa keindahan dalam benda/tubuh itu hanya pembungkus yang bersifat lahiriah, maka kita tidak lagi terpengaruh oleh hal-hal yang lahiriah.            Manusia akan meningkatkan perhatiannya pada tingkah laku hal yang dicintai, yaitu pada norma-norma kesusilaan (noma moral) secara konkrit. Hal ini terlihat dalam tingkah laku dari orang/hal-hal yang kita cintai.
        Dalam fase kedua, maka kecintaan terhadap norma moral secara konkrit  ini berkembang menjadi kecintaan akan norma moral secara absolut yang berupa ajaran-ajaran tentang kesusilaan/bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku yang baik.
        Dalam fase ketiga, orang akan mengetahui jurang yang memisahkan antara moral dan pengetahuan, dan orang akan berusaha untuk mencari keindahan dalam berbagai pengetahuan. Orang Yunani dulu berbicara tentang buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Kalaui manusia sudah sampai pada fase yang ketiga ini maka akan mengantarkan manusia pada fase  yang keempat yaitu keindahan yang mutlak/absulut.
        Disinilah orang berhasil melihat keindahan mutlak, yang sesungguhnya indah, keindahan universal dan maha tingggi. Dan disinilah  segala sesuatu berasal dan kesitu pula segala sesuatu harus kembali.

Seni
        Seni yang baik menurut Plato adalah seni musik.  Musik mempunyai peranan yang penting dalam negara yaitu dapat mempengaruhi dalam bidang moral dan politik. Di bidang moral, musik dapat memperhalus perasaan manusia (musik yang sentimentil) dan dapat juga sebaliknya.
        Dibidang politik, musik dapat mengubah jiwa patriotik dan kecintaan terhadap tanah air. Selain seni musik, maka retorik atau seni berpidato merupakan seni utilitary (seni dimana segi kegunaanya diutamakan, bukan keindahan, kebenaran atau kebijaksanaanya) maka seni ini lebih berguna bagi kaum politisi, yang bertujuan untuk menggalakkan orang lain dalam mengikuti tujuan akhirnya. ”Selalu pergunakanlah retorik dengan keadilan” adalah suatu anjuran yang akhirnya  Plato mengakui  untuk eksistensinya, yakni untuk kemungkunan-kemungkinan didaktif. Problem hubungan antara seni dan pendidikan telah diungkapkan dalam bukunya Republik, tetapi ketika timbul lagi dalam Laws, tidak ada lagi sugesti untuk mengutuknya. Malah sebaliknya disini Plato secara tegas menguatkan keterangan hubungan satu sama lainnya. Musik, tarian dan nyanyan koor sangat terpuji karena nilai pendidikannya, dan tanpa banyak kesusahan lagi seni kini menjadi guru utama kehidupan. Pembalikan yang sangat tajam konsep Plato ini disebabkan adanya hubungan harmonis antara seni dan kehidupan, sebagai akibatnya dia membukakan pintu perhatian adanya kemampuan mendidik pada retorik dan adanya sintesis dalam instruksi dan kesenangan, yang kemudian mewataki teori paedagogik seni. Konsekueninya tentang konsepsi seni sebagai gabungan antara yang baik, benar dan yang indah  (Abdul Kadir, 1974:10).

Seniman
        Di dalam bukunya ”Republik”, Plato mempunyai pendapat yang tidak begitu ramah terhadap seniman. Negarawan mendapat tempat (penghargaan) yang lebih tinggi diantara manusia-manusia pencipta atau seniman, karena mereka menimbang masyarakat berdasar ide kebaikan, keadilan, kebenaran, dan keindahan. Seniman hanyalah meniru ide keindahan yang ada di dunia ini yang merupakan penjelmaan dari keindahan absolut/illahi yang ada di dunia idea. Seniman yang sejati adalah Demiurgus (Tuhan) yang menciptakan alam semesta sebagai imitasi dari idea bentuk yang abadi. Diantara seniman-seniman yang ada, Plato mempunyai pandangan positif terhadap sastrawan dan penyair.

Sastrawan
        Tulisan-tulisan Plato termasuk sastra Yunani Klasik yang ditulis dengan gaya bahasa yang indah sekali. Dalam dialog yang berjudul ”Symposium” ia berpendapat bahwa suatu uraian lisan yang memakai gaya bahasa yang indah disebabkan oleh karena pengaruh seorang dewa,si pembicara itu sedang kemasukan roch seorang dewa.Disini Plato secara implisit menyinggung teori ”partisipasi”,seorang sastrawan dapat menulis dan berdendang dengan indah sekali karena ia ”ämbil bagian”dalam pandangan dan alam para dewa,ia seolah-olah diangkat diluar dirinya sendiri(ekstasis),diatas awan,dialam idea-idea ,melihat keadaan yang sebenarnya (Dick Hartoko,1983:31-32).

Penyair
        Syair-syair yang indah itu bukan karya manusia, tetapi adalah syair surgawi dan ciptaan Tuhan.Parapenyair tersebut hanyalah merupakan penafsir Tuhan.Lewat teori ”partisipasi”maka seorang penyair yang rendah martabatnya dapat membawakan nyanyian-nyanyian yang terindah.Para penyair memiliki ”kekuatan misterius”yang bersifat Illahiah.Seniman tidak lagi mengimitasi ,tetapi sebaliknya ia memperoleh inspirasi yang karenanya merupakan bagian dari Illahi(Abdul Kadir,1976:7).

Aristoteles: 384-322 SM.
        Keindahan dianggap sebagai suatu kekuatan yang memiliki berbagai unsur yang membuat sesuatu hal yang indah.       Dalam bukunya Poetics, Aristoteles mengatakan  ”untuk menjadi indah, suatu makhluk hidup dan setiap kebulatan yang terdiri atas bagian-bagian harus tidak hanya menyajikan suatu ketertiban tertentu dalam pengaturannya dari bagian-bagian, melainkan juga merupakan suatu besaran tertentu yang pasti. Menurut Aristoteles unsur-unsur keindahan dalam alam maupun pada karya manusia adalah suatu ketertiban dan suatu besaran/ukuran tertentu (The Liang Gie, 1996:41).

Seni
        Menurut Aristoteles, seni adalah kemampuan menciptakan sesuatu hal atas pikiran akal. Seni adalah tiruan (imitasi) dari alam, tetapi imitasi yang membawa kepada kebaikan. Walaupun seni itu tiruan dari alam seperti apa adanya, tetapi merupakan hasil kreasi (akal) manusia. Seni harus dapat menciptakan bentuk keindahan yang sempurna, yang dapat mengantarkan manusia menuju keindahan pada keindahan yang mutlak.

B.  Periode Skolastik
Dalam sejarah Filsafat Barat abad pertengahan adalah masa timbulnya filsafat baru. Hal ini dikarenakan kefilsafatan itu dilakukan oleh bangsa Eropa Barat dengan para filosofnya yang umumnya pemimpin gereja atau penganut Kristiani yang taat. Filsafat abad pertengahan ini dikenal dengan sebutan Filsafat Skolastik.
Dalam abad pertengahan ini masalah theologia mendapat perhatian utama dari para filosof.
Masalah estetika dikemukakan oleh Thomas Aquinas: 1225-1274.  Filsuf ini adalah pengagum Aristoteles. Menurut Thomas Aquinas keindahan itu terdapat dalam 3 kondisi, yaitu :
1.      Integrity or perfection  (keutuhan atau kesempurnaan)
2.      Proportion or harmony  (perimbangan atau keserasian)
3.      Brightness or clarity  (kecermelangan atau kejelasan)

Munurut Thomas Aquinas, hal-hal yang cacat (tidak utuh, tidak sempurna) adalah jelek, sedangkan hal-hal yang berwarna cemerlang atau terang adalah indah. Tiga unsur keindahan itu oleh para ahli modern disebut kesatuan, perimbangan dan kejelasan.

C.   Periode Renaissance
Kata Renaissance berarti kelahiran kembali, yaitu membagun kembali semangat kehidupan klasik Yunani dan Romawi dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni. Gerakan pembaharuan ini dilakukan terutama oleh para humauis Italia yang dimulai kurang lebih abad ke XIV. Gerakan ini hampir disegala bidang ilmu pengetahuan, kesenian dan filsafat. Tetapi yang paling semarak gerakan ini adalah pada bidang seni.
Pada periode ini masalah seni menjadi titik perhatian. Uraian mengenaai estetika secara luas ditulis oleh Massilimo Visimo, sedangkan penulis-penulis lainnya banyak mengulas teori-teori seni. Leon Batista dan Albert Durer dalam bidang seni rupa,Giosefe Zarlino dan Wincenzo Galilei dalam bidang musik,serta Lodovia Castelvetro dalam bidang puisi.

D.   Periode Aufklarung
Pencerahan merupakan gerakan lanjutan dari Renaissance. Dalam periode ini masih terlihat pengaruh rationalisme Descartes dan Empirisme Bacon dalam pembahasan Estetika.
Baumgarten (Alexander Gotlieb Baumgarten), dia seorang filsuf Jerman yang hidup tahun 1714-1762. dialah orang pertama yang memperkenalkan istilah ”estetika” sebagai ilmu tentang seni dan keindahan.
Baumgarten membedakan pengetahuan itu menjadi 2 macam:
1. Pengetahuan intelektual (intellectual knowledge)
2. Pengetahuan indrawi (sension knowledge)
     (The liang Gie, 1980)
   
Pengetahuan intelektual itu disebut juga pengetahuan tegas, sedangkan pengetahuan indrawi dianggap sebagai pengetahuan kabur. Estetika adalah ilmu tentang pengetahuan indrawi yang tujuannya adalah keindahan. Tujuan daripada keindahan adalah untuk menyenangkan dan menimbulkan keinginan. Manifestasi keindahan tertinggi tercermin pada alam, maka tujuan utama dari seni adalah mencontoh alam.
Pengaruh Empirisme Bacon nampak dalam hal imajinasi rasa estetis atau cita rasa. Hal ini terlihat dalam pendapat Edmund Burke dan Lord Kaimes. Menurut Edmud Burke (1729-1798) masalah selera itu tidak dapat dijadikan hakim dalam keindahan (Wajiz Anwar, 1980). Sedangkan Lord Kaimes dalam karyanya Elements of Criticism yang terbit pada tahun 1961 sependapat dengan Burke. Keindahan adalah sesuatu yang dapat menyenangkan selera. Dia mengemukakan suatu titik tolak baru, bahwa pengalaman mengenai suatu emosi walaupun sangat pedih  seperti emosi takut atau kesengsaraan adalah menyenangkan. Emosi yang menyedihkan adalah menyenangkan bila direnungkan. Perang, bencana alam adalah  menyedihkan, tetapi menyenangkan bila kita melihatnya dipanggung sandiwara atau dalam seni film. Kejadian yang paling dahsyat dan mengerikan justru paling mengesankan dan menggembirakan bila diingat. Keindahahan ialah menyenangkan. Oleh karena itu keindahan ditentukan oleh selera semata-mata.

E.   Periode Idealis
Sejalan dengan perkembangan filsafat, idealisme  mempengaruhi pendangan estetika di Jerman. Immanuel Kant merupakan filsuf pertama yang mengemukakan teori estetika dari pandangan objektif. Maka penyelidikan estetika berubah, dari penelaahan ontologis beralih ke bidang ilmu jiwa, yang sebelumnya telah dirintis oleh rationalime dan empirisme.
Filsuf-filsuf yang termasuk dalam peroide ini diantraanya adalah: Immanuel kant, Schiler, Scheling dan Hegel.

1.  Immanuel Kant:1724-1804
Estetika Kant berdasarkan pada ajaran bahwa manusia itu mempunyai pengetahuan tentang ”nature di luar dirinya” dan ”dirinya di dalam nature” (Abdul Kadir, 1975).
Pada ”nature di luar dirinya”, manusia mencari kebenaran dan pada “dirinya di dalam nature”, manusia mencari kebaikan yang pertama. Kebaikan yang pertama ini  merupakan “pure reason” dan kebaikan yang kedua merupakan “practical reason” (free will). Disamping itu, masih ada lagi yaitu kemampuan untuk memberi keputusan (judgement) ialah yang membentuk putusan tanpa pamrih dan menghasilkan kenikmatan tanpa keinginan. Keindahan dalam seni mempunyai hubungan erat dengan kemampuan manusia dalam menilai karya seni yang bersangkutan. Kemampuan ini disebutnya dengan istilah “cita rasa” (taste).
Immanuel Kant membedakan adanya dua macam keindahan, yaitu keindahan bebas (pulchritudevoga) dan keindahan bersyarat yang semata-mata tergantung (pulchritudo adhaerens). (Abdul Kadir, 1974:37). Keindahan bebas tidak mempunyai konsep preposisi tentang bagaimana seharusnya benda itu. Contoh bunga sebagai keindahan natural ada perbedaan dalam penilaian tentang selera terhadap bunga itu, bagi botani dan yang bukan botani. Disamping bunga, ia juga menunjukkan barang-barang sebagai contoh (burung betet, burung cendrawasih, humming bird) dan keong-keong laut.
Keindahan yang semata-mata tergantung (pulchritudo adhaerens) membutuhkan konsep demikian serta penyempurnaan benda itu sesuai dengan konsepnya (keindahan bersyarat), yang tergantung pada konsep-konsep yang berasal juga dari sebuah konsep yang mempunyai tujuan tertentu.
Dari keindahan natural ia melangkah ke keindahan artistik dengan memberikan contoh hiasan-hiasan tepi atau kertas hiasan dinding dan fantasi-fantasi musik (Abdul Kadir, 197:38).
Hubungan antara keindahan natural dan keindahan artistik ternyata mengalami kontradiksi-kontradiksi. Immanuel Kant memandang artis (seniman) sebagai seorang yang dilengkapi dengan imajinasi yang juga merupakan pusat produksi ilmu pengetahuan, seperti halnya “talent” (bakat natural) yang mempengaruhi (memperkarsai hukum-hukum seni. Karena talent  yang merupakan pusat produksi seorang artis yang dibawanya sejak lahir itu sendiri sebagai bagian dari nature. Menurut Immanuel Kant genius adalah talent, genius adalah disposisi mental yang memang ada sejak lahir (ingenium) dan melaluinyalah alam (nature) memberikan hukum-hukum seni. Bagi Immanuel Kant, genius seorang artis tidak dapat sejajar dengan selera murni dan karenanya merupakan preposisi sebuah konsep yang pasti tentang karyanya sejauh karya itu mempunyai tujuan (Abdul Kadir, 1974:40).
Berdasarkan teorinya tentang keindahan bebas, Immanuel Kant dapat dianggap sebagai perintis seniman anti-konsep yang sekarang termasuk aliran abstrak. Immanuel Kant berusaha unutk mengkoeksistensikan antara keindahan natural dengan keindahan bersyarat dan mensejajarkan dari bentuk nyata tentang keindahan dan seni, ternyata hasilnya sampai pada keraguan yang  gersang. Immanuel Kant memaksakan pertentangan antra keindahan bersyarat dengan keindahan bebas. Konsekuensi dualisme ini ialah dalam menilai keindahan yang murni, maka penilaian terhadap selera juga murni, sedangkan sebuah penilaian tentang selera yang terkait pada sebuah obyek ,yang mempunyai tujuan inti tertentu.
Analisa tentang penilaian estetis dibagi menjadi 2, yaitu: analisa tentang keindahan
analisa tentang kengungan
Pada analisa tentang keindahan, pandangan Immanuel Kant memaparkannya dalam 4 pertimbangan yaitu: berdasarkan pada segi kualitas, kuantitas, hubungan dan modalitas.
a. Pertimbangan dari segi kualitas
    Keindahan ialah kesenangan total yang terjadi tanpa konsep.
b. Pertimbangan dari segi kuantitas
Keindahan berwujud tanpa konsep, sebagai objek dari pemuasan hidup yang mendesak.Keindahan merupakan suatu  kesenangan yang menyeluruh.
c. Pertimbangan dari segi hubungan
Putusan selera bersandar pada prinsip-prinsip dasar yang bebas dari daya tarik dan emosi serta bebas dari konsep kesempurnaan.Hal ini berarti bahwa keindahan ialah konsep tentang adanya tujuan pada objek, tetapi tujuan itu tidak terwujud dengan tegas.
d. Pertimbangan dari segi modalitas
Putusan selera menurut kesenangan yang timbul dari objek tertentu.Kesenangan merupakan keharusan subjektip,tetapi berwujud dalam bentuk objektip ketika dicerap oleh indera manusia.Keindahan ialah apa yang diakui sebagai objek pemuasan darurat yang tidak berkonsep (Wadjiz Anwar,1980:23).

Analisanya tentang keagungan terdapat adanya perbedaan antara keindahan dan keagungan. Keindahan termasuk putusan selera sedangkan keagungan mempunyai akar di dalam kecerdasan (geistesgefuehl). Keindahan selamanya bertalian dengan bentuk (forma), sedangkan keagungan ada kalanya bergantung kepada forma dan non forma yang menyangkut tidak adanya forma dan cacat.Kant membedakan antara dua bentuk keagungan,bentuk matematis yang statis dan bentuk dinamis(Wadjiz Anwar,1980:23).

Pengalaman Estetik.
Bagi Immanuel Kant alam merupakan sumber utama bagi pengalaman estetik(Dick Hartoko,1983,12-13).Immanuel Kant membedakan putusan estetik dari putusan cognitif semata-mata disatu pihak dan putusan moral dilain pihak.Pengalaman estetik itu tidak hanya  ingin tahu (bersifat cognitif), tetapi mengikut sertakan daya-daya lain dalam diri kita,seperti misalnya kemauan, daya penilaian emosi,bahkan seluruh diri kita (Dick Hartoko:1911,8).
Dalam hal mempertahankan pengalaman estetik berbeda dengan pengalaman moral.Dalam keyakinan moral, kalau kita yakin bahwa suatu perbuatan jahat,maka kita sanggup mempertaruhkan nyawa kita, lebih baik mati dari pada berbuat serong.Dalam pengalaman estetik walaupun menyangkut seluruh diri kita, namun untuk mempertahankan suatu penilaian estetik kita tidak sanggup mempertahankan nyawa kita. (Dick Hartoko;1911;8).

2. Hegel ; 1770-1831.
Menurut Hegel, seluruh bidang keindahan merupakan suatu moment (unsur dialektis) dalam perkembangan roh (Geist, spirit) menuju kesempurnaan. Hal itu dapat ditemukan dalam pengalaman manusia. Kedudukannya diambang antara yang jasmani dan yang rohani (materi menuju roh, roh menjelma dalam materi tepat pada saat peralihan yang bermuka ganda itu dialami) dan bukan itu saja, karena sekaligus merupakan moment atau saat kebenaran (pengertian) dan kebaikan (penghendakan) bersentuhan satu sama lain (maka tidak wajar masalah ”arti” atau ”nilai etis” dikemukakan dalam konteks kesenian). Moment itu tidak pernah dialami atau dapat ditunjukkan dalam bentuk yang ”sempurna”, hanya dalam bentuk ”penyimpangan-penyimpangan yang indah” dari moment keseimbangan penyentuhan atau peralihan itu. Dengan demikian muncullah kategori-kategori estetis, seperti ”yang sublim (roh 'menang' atas materi)”, ”yang lucu” atau ”yang humor” (arti 'menang' atas nilai), ”yang jelita” atau ”gracious” (nilai 'mengalahkan' arti), tentu saja semua itu dalam batas keindahan itu sendiri, malahan yang sublim mempunyai unsur tragisnya dan sebaliknya, yang lucu dan yang jelita, yang pertama dilihat juga sebagai yang mewakili kepriaan, yang kedua kewanitaan (Mudji sutrisno, 1993:48).
Karya seni merupakan bidang dimana keindahan mempunyai manifestasi yang khusus. Karya seni menunjukkan kemampuan manusia menangkap keindahan alam dan merupakan kesaksian tersempurna mengenai fakta bahwa manusia mengintuisi keindahan, karena kalau manusia secara khusus mempunyai intuisi yang tidak mati mengenai keindahan, ia mengungkapkannya dalam karya seni. Kelebihan seniman bahwa ia mempunyai kemampuan mengungkapkan, karena ia terlibat lebih banyak dari pada yang kita lihat (Lorens Bagus, 1991:117).
Bagi Hegel, seniman adalah jenius, selain yang bersangkutan memiliki bakat alami, maka bakat itu harus direnungi dan dikembangkan lewat kerja praktek dan penguasaan keterampilan menampilkan sesuatu. Jika genius harus dapat menampilkan sesuatu yang original, maka artinya sama saja dengan menampilkan yang obyektif. Agar bisa original dan obyektif, maka yang bersangkutan harus memiliki kebebasan dalam mencipta. Kebebasan itu ditunjukkan oleh kamampunanya mengobyektifikasi imajinasinya lewat medium dan teknik yang serasi, yang akan membawanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Mencipta karya seni dan menghayatinya dalam medium seperti itu boleh dilihat sebagai upaya agar tidak terjadi ”pengendapan” perasaan. Yang inderawi itu harus menjadi wadah obyektifikasi roh. Seni mengacu kepada perasaan, disamping kepada imajinasi (Humar Sahman, 1993:189-190).
Kebenaran dan keindahan menurut Hegel adalah satu dan dari hal yang sama. Bedanya hanya terletak pada kebenaran adalah idea itu sendiri dan adanya ada dan pada idea itu sendiri dan dapat difikirkan. Manifestasinya keluar, tidak hanya  kebenaaran saja, tetapi juga keindahan.     
Bagi Hegel keindahan adalah sesuatu yang transedental.Dia membedakan

F. Periode Romantik
Aliran romantik merupakan reaksi terhadap rasionalisme yang mendewakan rasio. Kini perasaan menjadi dominan. Kalai sebelumnya sang seniman tunduk pada kaidah-kaidah yang ketat, kini sang seniman berdaulat dengan merdeka, asal meluapkan secara spontan dan otomatis emosi-emosinya.
Aliran inidirintis oleh J.J Rousseau yang hidup pada pertengahan abad ke-XVIII. Rousseau bertitik tolak pada suatu pandangan dasar, yaitu bahwa alam murni itu baik dan ndah sehingga segala sesuatu yang dekat pada alam murni juga baik dan indah (Dick Hartoko, 1984)
Dalam hal seni Roesseau berpendapat bahwa bakat alam hendaknya dikembangjan secara bebas, jangan sampai datur oleh macam-macam teori dan guru. Asal, emosi yang spontan diluapkan maka hasilnya pasti indah.
Pada tingkat awal, gerakan romantik berada pada pemikiran Schellingdan bentuk-bentuk baru kesusastraan baru di Jerman dan Inggris pada tahun 1890-1891. Ada 4 hal yang menjadi pusat perhatian dari penulis-penulis estetika pada periode ini adalah: ekspresi, imajinasi, organisasi dan simbolisasi.
Salah seorang filsuf besar pada periode ini adalah Arthur Schopenhauer dan Nietzche. Menurut  Schopenhauer, hakekat yang terdalam dari kenyataan adalah kehendak (karsa). Dalam diri manusia,  kehendak yang bersifat itu tidak dapat dipuaskan. Sebagai akibatnya manusia mengalami kesengsaraan. Untuk mengatasi keadaan itu, tersedia dua jalan yaitu jalan etis dan estetis. Jalan etis yaitu dengan berbuat dan bertingkah laku baik sedangkan jalan estetis, dengan menikmati kesenian khusususnya musik. Tetapi musik hanya dapat dinikmati dan melupakan kesengsaraan yang sementara.
Jika kehendak itu memilukan atau kehendak untuk hidup itu menyedihkan, maka seni adalah hiburan yang terbaik dan merupakan tempat istirahat yang terjamin. Disatu pihaj, seni membangkitkan kekuatan dan menghilangkan rasa lelah, tetapi dipihak lain ia juga mendatangkan semangat keindahan yang menghapuskan krisis-krisis dalam hidup.

G. Periode Positifistik.
Dalam periode ini estetika dipelajari secara empiris dan ilmiah yang berdasarkan pengalaman-pengalaman riil yang nyata dalam kehudupan sehari-hari. Estetika dibahas dalam hubungannya dengan ilmu lain,misalnya psikilogi dan matematika.Para filsuf yang membahas estetika diantaranya Fehner,George Birkhof, A.Moles dan Edward Bullough      .   

1. Gustaf T.Fecner (1801-1887 ) 
Dia berpendapat bahwa estetika yang dikembangkan oleh para filsuf sebelumnya sebagai estetika ''dari atas'' (The Liang Gie,1976). Fechner berpendapat bahwa sebaiknya estetik itu dihampiri ''dari bawah'' dengan mempergunakan pengamatan secara empiris dan percobaan secara laboratorium terhadap sesuatu hal yang nyata.Metode yang dipakainya adalah metode Experimentil.Tujuan yang ingin dicapai adalah berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah /dalil-dalil mengapa orang lebih menyukai sesuatu hal yang indah tertentu, dan kurang menyukai yang lain.

2.A.Moles 
Percobaan-percobaanng dilakukan menunjukkan bahwa proses-proses dalam otak manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat struktural dari pola-pola perangsang seperti misalnya :sesuatu yang baru, sesuatu yang rumit dan sesuatu yang mengagetkan. Sifat-sifat yang merangsang ini dapat dipandang sebagai unsur-unsur penyusun dari bentuk atau struktur seni.

3.Edward Bullough
Dia menerapkan psikologi introspeksi dan teori sikap dengan melakukan penyelidikan terhadap apa yang dinamakan kesadaran estetis (aesthetic consciousness)(The Liang Gie,1976).Psikoanalisa dengan teori-teorinya memberikan penjelasan bahwa karya seni sebagai mana halnya dengan impian dan mitologi merupakan perwujudan dari keinginan manusia yang paling dalam.Keinginan ini memperoleh kepuasan lebih besar dalam bentuk seni dari pada dalam realitas kehidupan biasa.Penggunaan hasil-hasil dari ilmu jiwa anak (child psychology) dianggap dapat memberikan keterangan-keterangan yang memadai mengenai pertumbuhan dorongan batin dalam mencipta seni.Dorongan batin ini mencakup semua dinamika kejiwaan yang tidak bersifat intelektualistis, misalnya hasrat untuk meniru, kecenderungan untuk memamerkan, kesediaan untuk menyenangkan pihak lain, keinginan bermain-main, pemanfaatan energi yang berlebihan dan peluapan perasaan yang ada dalam   diri setiap orang.Dalam periode  positifistis ini, walaupun pembahasan estetika sudah bersifat ilmiah, tetapi bukan berarti bahwa pendekatan secara filsafati sudah tidak dipergunakan lagi.

H.  Periode Kontemporer.
Dalam periode ini, muncul sejumlah pandangan estetika dalam waktu yang relatif bersamaandan sampai kini masih banyak pengikutnya.Pandangan estetika yang banyak ini (multi isme), tumbuh pada awal abad ke 19 dan menjadi lebih semarak lagi pada abad ke 20. berikut ini tujuh pandangan yang menonjol dalam periode ini.
1.   Seni untuk seni (lárt pour l'art)
Semboyan  L'art pour L'art yang termashur ini pertama kali dipergunakan oleh seorang filosof Victor Cousin (1792-1867). Pandangan ini menganggap bahwa seni merupakan deklarasi artistik yang independen sebagai suatu tanggung jawab professional. Seniman ditempatkan sebagai suatu pribadi yang bebas dan terpisah dari kepentingan masyarakat. Tujuan seni hanya untuk seni, tidak mengabdi kepada kepentingan politik, ekonomi, sosial dan agama. Pandangan ini merupakan suatu reaksi terhadap kondisi pada waktu itu untuk mengembalikan kemurnian status seni.
      
       2. Realisme
Realisme menganggap bahwa karya seni harus  menampilkan kenyataan yang sesungguhnya, seperti sebuah gambar reproduksi (seperti photo). Salah seorang tokoh dari pandangan ini ialah Nicolay C. Chernyshevski dengan karyanya The Aestheics Relation or Art to Reality (1865).

3. Sosialisme (Tanggungjawab sosial)
Suatu pandangan yang sangat bertentangan dengan pandangan seni untuk seni, bahwa seni merupakan kekuatan sosial dan refleksi dari kenyataan sosial. Seniman adalah bagian dari masyarakat dan mempunyai tanggungjawab sosial.

Estetikus terbesar yang termasuk dalam pandangan ini ialah Nikkolayevitch Tolstoy (1982-1910). Di dalam karyanya yang terkenal what is art (1898) Tolstoy mengulas persoalan seni dan keindahn secara lebih luas. Menurut Tolstoy, dalam arti subyektif, apa yang dinamakan keindahan adalah apa yang memberikan kita suatu kenikmatan atau kesenangan. Sedangkan dalam arti obyektif, keindahan adalah sesuatu yang absolut dan sempurna, karena kita menerima manifestasi dari kesempurnaan tersebut . Bagi Tolstoy seni yang ialah seni yang dapat memindahakna perasaan arus hidup manusia scara sama dan seirama. Nilai-nilai agama dianjurkan dalam ekspresi seni, kaena persepsi keagamaan tidak lain adalah gejala pertama dari manusia dengan dunia sekitarnya. Tolstoy telah membahas estetika dari sudut kekristenan yang penuh kritik terhadap kepincangan sosial, negara, gereja dan kebodohan kaum bangsawan (Hassan Sadily;1984).

4. Ekspresionisme
Estetikus Benedetto Croce (1866-1952) telah meninggalkan pengaruh besar pada abad ke 20 ini. Pandangannya ditulis dalam bukunya Aesthetics as Science of Expression and Generale Linguistic (1902).
Menurut Groce, Estetika  ilmu tentang image atau sebagai pengetahuan intuitif dan bersifat objektif. Bagi Crocekeindahan tergantung pada keinginan imajinasi, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami serta mengalami hasil kegiatan intuisi dalam bentuknya yang murni.Croce termasuk penganut “seni untuk seni”. Seni tidak benar kalau dicampuri oleh berbagai kepentingan,misalnya ilmu pengetahuan,hiburan ataupun moral.

5. Naturalisme
Pandangan estetika naturalisme para filosof Amerika lebih menekankan pada ketenangan hidup untuk kelangsungan budaya manusia.
Salah satu tokohnya George Santayana. Dia berpendapat bahwa nilai keindahan terletak pada hasrat alami untuk mengalami keselarasan sosial dan untuk merenungkan keindahan menciptakan moralitas, seni, puisi dan agama, yang ada dalam imajinasi dan berusaha untuk mewujudkan secara konkret dengan tindakan, kombinasi dari esensi-esensi dan semata-mata ideal. Estetika berhubungan dengan penceraapan nilai-nilai. Keindahan sebagai nilai intristik dan diobjektifkan, artinya sebagai kualitas yang ada pada suatu benda.


6. Marxisme
Marxisme telah memberikan pengaruh kepada para estetikus terutama di negara-negara sosialis dan komunis. Prinsip dasar estetikanya ialah seni dan semua kegitan manusia yang  tertinggi merupakan budaya "super struktur" yang ditetapkan oleh kondisi sejarah masyarakat, terutama kondisi ekonomi.
Estetika Rusia Georgi V. Plekaniv dalam bukunya Art and Social Live  (1912), mengembangkan estetika materialisme dialektika dan menyerang doktrin “seni untuk seni” yang telah berkembang di Eropa.

7. Eksistensialisme
Pandangan mengenai kekuatan otonomi sebagai kualitas obyektif yang ada dalam dirinya sendiri telah dicetuskan oleh para filosof Eksistensialisme.
J.P. Satre membedakan antara obyek estetik dengan benda-benda lainnya di dunia. Perbedaannya terletak pada "ekspresi dunia", bahwa setiap benda estetis secara personal adalah "ada dalam dirinya sendiri" (pour soi). Dalam hal ini Satre telah memberikan jalan untuk adanya suatu konsep tentang "kebenaran otentik" dari eksistensi seni.

BAB III
NILAI ESTETIK

A.  Pengertian Nilai Estetik
Dalam rangka teori umum tentang nilai, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nlai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomis dan nilai-nilai yang lain. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetis.
Pada prinsipnya masalah estetika selalu bertumpu pada dua hal, yaitu keindahan dan seni,tetapi dari kedua hal tersebut berkaitan dengan masalah nilai, pengalaman estetis dan pencipta seni (seniman). Keindahan dan seni merupakan dua hal yang saling berhubungan. Salah satu bentuk perwujudan keindahan adalah dalam bentuk karya seni.
Bagaimana hubungan keindahan dengan seni, telah dijawab oleh para filsuf sepanjang zaman. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni dan keindahan tidak terpisahkan. Sedangkan yang lainnya berpendapat seni tidak selalu harus indah atau bertujuan untuk keindahan. Pendapat bahwa seni tidak terpisahkan dengan keindahan terutama oleh Baumgarten sebagai pelopor ilmu estetika. Menurut Baumgarten, tujuan dari keindahan untuk menyenangkan dan menimbulkan keinginan. Manifestasi keindahan tertinggi tercermin pada alam, maka tujuan seni adalah keindahan dan mencontoh alam.
Para ahli seni yang berpendapat, bahwa seni tidak selalu indah menunjuk karya-karya seni kontemporer dewasa ini (lukisan dan patung) menampilkan gambar-gambar kotor bahkan menjijikkan dan menunjuk pula pada karya manusia purba yang menampilkan wujud yang kadangkala menyeramkan. Mereka berpendapat bahwa seni bukan produk keindahan, tetapi produk problem seniman.
Seni memang bukan produk keindahan, tetapi keindahan itu merupakan suatu idealisasi yang sebaiknya melekat pada media seni itu.Keindahan bukan hanya kesenangan inderawi, tetapi juga terletak di dalam hati.

 B.  Aliran dalam Filsafat Nilai
Ada beberapa aliran dalam filsafat nilai, yaitu : 
1. Aliran objektifisme, mengatakan bahwa nilai itu terletak pada objek itu sendiri, sama sekali lepas atau tidak tergantung dari keinginan subjek atau kesukaan manusia. Nilai itu sudah ada sebelum orang itu menilai. Jadi nilai itu adanya absolut.  (Parmono, 1991:9). Salah seorang tokoh dari aliran ini adalah Plato, yang mengatakan bahwa nilai merupakan dunia yang tetap dan ternyata, nilai berada di dalam dunia konsep, dunia ide. Sedangkan Prof. E.C Spoulding mengatakan bahwa : nilai-nilai adalah "subsistens" yang berexistensi dalam ruang dan waktu, karena subsisten nilai-nilai itu bebas dari keinginan dan kesukaan manusia (Parmono, 1991:10).

2. Aliran subjektifisme, mengatakan bahwa nilai sama sekali tergantung atau ditentukan oleh subjek. Edmund Burke mengatakan bahwa keindahan ditentukan oleh selera. Suatu objek baru bernilai apabila diinginkan atau didambakan oleh subjek. Subjeklah yang memasukkan nilai ke dalam objek, sehingga objek itu bernilai (Parmono, 1991:10).
                 Dengan kedua aliran yang mempunyai sudut pandang yang berbeda, dimana objektifisme mendasarkan pandangan pada objek yang berdiri sendiri, terlepas dari pengaruh subjek, sedangkan subjektifisme memfokuskan pada peranan dan pengaruh subjek semata.

  1. Oleh karena setiap aliran mempunyai kelemahan, maka lahirlah aliran ketiga yaitu aliran yang berprinsip menyatakan bahwa nilai itu tidak semata-mata terletak pada objek dan juga tidak terletak pada subjek, artinya hanya kepunyaan dunia batin. Salah seorang tokoh aliran ini,  George Santayana mengatakan keindahan tidak hanya mempunyai nilai, tetapi juga dinikmati oleh yang melihatnya. Nilai itu merupakan hasil interaksi antara subjek dan objeknya.

  1. Aliran Pragmatisme, Sesuatu itu bernilai apabila dapat memberikan manfaat atau kegunaan, misalnya lembu. Bagi seorang petani lembu mempunyai fungsi sebagai teman bekerja mengerjakan sawah dan ladangnya. Bagi seorang pedagang, lembu merupakan aset dalam bidang ekonomi. Dan bagi umat beragama Hindhu, lembu menjadi binatang kendaraan dewa Wisnu yang dikeramatkan.


5. Aliran Esensi,
 sesuatu dikatakan bernilai indah, misalnya  karena hanya itu sendiri. Bunga mawar itu indah karena memang di dalam bendanya itu sendiri mmpunyai sifat indah.


C. Jenis dan Ragam Nilai
The Liang Gie membedakan empat macam jenis nilai, yaitu : 
1.  kekudusan (holiness)
yaitu kebaikan yang sekaligus merupakan kebenaran. Maksudnya yang memiliki kepercayaan maka sesuatu yang dianggap kudus atau suci pastilah merupakan suatu kebaikan yang dikejar dan sekaligus diyakini sebagai kebenaran.

2.  Kebaikan (goodness)
yaitu kekudusan yang sekaligus merupakan keindahan. Maksudnya kebaikan biasanya merupakan sesuau hal yang dianggap luhur atau kudus dan sekaligus dirasakan sebagai hal yang indah, sehingga perlu diulang-ulang melakukannya untuk memperbesar atau melangsungkan terus perasaan senang yang diperoleh.

3.  Kebenaran (thruth)
yaitu keindahan yang sekaligus merupakan kekudusan. Maksudnya kebenaran merupakan sesuatu hal yang menyenangkan karena indah dan dengan kekudusan sebagai keberhargaan yang universal dan patut dimiliki terus-menerus.

4.  Keindahan (beauty)
yaitu kebenaran yang sekaligus merupakan kebaikan. Maksudnya sesuatu yang betul-betul indah merupakan suatu kebenaran bagi yang dapat menikmati dan sekaligus juga sesuatu hal yang baik sehingga ingin dinikmati terus (The Liang Gie, 1976:162).

Dari empat jenis nilai yang diuraikan di atas, masing-masing mewujudkan menjadi :
a.  kekudusan menjadi nilai religius
b.  Kebaikan menjadi nilai etis
c.  Kebenaran menjadi nilai intelektual
d.  Keindahan menjadi nilai estetis

Dari jenis-jenis nilai tersebut, ternyata nilai mempunyai ragam nilai yang menurut The Liang Gie dalam bukunya Dari Administrasi ke Filsafat dapat diklasifikasikan menjadi : 
1.  Nilai Instrumental
Yaitu nilai yang berfungsi sebagai suasana atau alat untuk mencapai sesuatu hal lain, termasuk sesuatu nilai apapun yang lain. Ragam nilai ini pada umumnya terdapat pada benda.
2.  Nilai Inheren
Yaitu nilai yang umumnya hanya melekat pada benda yang mampu secara langsung dan sekaligus menimbulkan sesuatu pengalaman yang berharga atau baik, seperti kepuasan.

3.  Nilai Kontributif
Yaitu nilai dari sesuatu hal atau pengalaman sebagai bagian dari keseluruhan menyumbang pada keberhargaan dari  keseluruhan itu.
4.  Nilai Intrinsik
Yaitu nilai dari suatu pengalaman yang bersifat baik atau patut dimiliki sebagai tujuan tersendiri dan untuk pengalaman itu sendiri (The Liang gie, 1978:170).

D. Katagori Nilai Estetik
Nilai estetis sebagai salah satu jenis nilai manusiawi (nilai religius, nilai etis, nilai intelektual) menurut The Liang Gie, tersusun dari sejumlah nilai yang dalam estetika dikenal sebagai kategori-kategori keindahan atau kategori-kategori estetis. Pada umumnya filsuf membedakan adanya tiga pasang, yaitu :  
1. Kategori yang agung dan yang elok
2.  Kategori yang komis dan yang tragis
3.  Kategori yang indah dan yang jelek
akhirnya Kaplan menambahkan kecabulan (obscenity) sebagai suatu kategori estetis.  (The Liang Gie, 1978:169).

Ahli estetika Jerman dari abad ke-19 Adolf Zeising mengemukakan pensistematisan kategori-kategori keindahan menjadi 6 ragam yang disusun menurut lingkaran warna primer dan sekunder sebagai berikut : 
1.  Merah                           :  murni indah
2.  Charming Orange         :  menarik 
3.  Comic (komis)             :  kuning
4.  Humoris                      :  hijau 
5.  Tragis                           :  biru (tragis)
6.  Ungu sublime               :  (agung)
Menurut Zeising kategori yang murni indah bersifat menyenangkan atau menimbulkan perasaan senang pada orang. Kategoti yang menarik membangkitkan antara lain kekaguman. Kategori yang komis dapat menggelikan hati orang. Kategori yang humoristis dapat menimbulkan rasa terhibur atau lucu. Kategori yang tragis mengakibatkan perasaan yang sedih, sedang kategori yang agung membuat orang sangat terkesan karena kemegahan atau kedahsyatan.
Kategori yang agung baru disebut-sebut oleh para ahli keindahan dalam abad ke-18. Berlainan dengan kategori yang murni indah, kategori yang agung diakui membangkitkan pada orang yang mengamatinya suatu perasaan takjub karena sifat-sifatnya yang impressive, majestic, glorius (keren mengesankan, megah hebat, meriah gemilang), dan bahkan kadang-kadang dahsyat. Kebanyakan ahli estetika berpendapat bahwa kategori yang agung dan kategori yang indah dapat ada secara bersamaan. Tetapi tokoh pemikir Inggris, Edmund Burke (172-1797) menyatakan bahwa kedua kategori itu saling menyisihkan dan berlawanan.

Teori-teori humor
Kategori yang komis dan kategori yang humoris membangkitkan pada orang perasaan yang menggelikan, yang membuat tertawa, yang menghibur dan yang lucu. Khusus pada kategori yang humoris selain membuat orang tertawa atau tersenyum, juga dapat dijadikan sarana untuk secara halus atau secara tak langsung menyindir, mengejek, menghantam, dan melakukan pembalasan kepada pihak lain kawan atau lawan.
Lelucon yang humoris kini banyak diciptakan orang dalam masyarakat sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan atau menyampaikan suatu maksud. Dengan demikian lahirlah berbagai humor. Istilah humor menurut Martin Eshleman dewasa ini dipakai secara luas untuk menunjuk pada setiap hal yang merangsang kecenderungan orang pada tertawa yang lucu (everything that appelas to man's disposition toward comic laughter). Para ahli estetika kini telah mengembangkan berbagai teori humor untuk menunjukkan dan menerangkan apa sesungguhnya yang terdapat pada sesuatu hal yang membangkitkan gelak tertawa lucu pada orang-orang. Dalam garis besarnya berbagai teori humor itu dapat digolongkan menjadi tiga macam : 
1.  Teori Keunggulan  (Superiority theory)
2.  Teori ketaksesuaian (Incongruity theory)
3.  Teori pembebasan (Relief theory)

1).    Teori keunggulan menekankan bahwa inti humor ialah rasa lebih baik, lebih tinggi, atau lebih sempurna pada seseorang dalam menghadapi sesuatu keadaan yang mengandung kekurangan atau kelemahan. Menurut teori ini, seseorang akan tertawa bilamana mendadak memperoleh perasaan unggul karena dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kekeliruan atau mengalami hal tak menguntungkan. Teori ini dapat dipakai untuk menerangkan mengapa para penonton tertawa terbahak-bahak melihat badut sirkus yang terbentur tiang, jatuh tersandung, melakukan aneka kekeliruan, atau perilakunya menunjukkan berbagai ketololan.

2).    Teori ketaksesuaian menjelaskan bahwa humor timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong dari sesuatu situssi yang sangat diharapka mejadi suatu hal yang sama sekali tidak diduga atau tidak pada tempatnya. Tertawa terjadi karena harapan yang dikacaukan (frustated expectation) sehingga seseorang dari suatu sikap mental dilontarkan ke dalam sikap mental yang sama sekali berlainan.

3).    Menurut teori pembebasan, inti dari humor ialah pembebasan atau pelepasan dari kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Karena berbagai pembatasan dan larangan yang ditentukan oleh masyarakat, dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri seseorang mendapat kekangan atau tekanan. Bilamana kekangan/tekanan itu dapat dilepaskan atau dikendorkan oleh misalnya lelucon sex, sindiran jenaka, atau ucapan nonsense, maka meledaklah perasaan orang dalam bentuk tawa.

Menurut tokoh psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939), lelucon memiliki kimiripan dengan impian, yakni kedua-duanya pada dasarnya merupakan sarana untuk mengatasi kekangan (censor) yang datang dari luar atau telah tumbuh dalam diri seseorang. Dalam impian, ide-ide yang terlarang dapat diserongkan atau diselubungi, sedang dalam kelakar orang bisa menyelipkan kecaman, cacian, atau pelepasan diri dari apa saja secara tidak begitu keras dan langsung.
Menurut Hans Eyeseck dan Glen Wilson, segenap humor dapat dibedakan menjadi 4 ragam atau kategori, yaitu :
1.      Humor yang disebut "nonsense". Ragam humor ini tidak berisi sindiran, serangan dan lelucon sex, melainkan menggunakan berbagai teknik permainan kata atau unsur-unsur yang tak sesuai untuk membangkitkan gelak tertawa pada orang .

2.      Humor yang disebut "satire" dan berisi sindiran terhadap orang, pejabat, kelompok atau lembaga. Ini merupakan semacam serangan tak langsung atau kecaman halus yang ditujukan kepada suatu pihak tertentu.

3.      Humor agresi secara langsung yang berisi kekerasn fisik, kebiadaban, penghinaan dan penyiksaan yang sadis.

4.      Humor berisi sesuatu lelucon sex yang bisa ditampilkan secara kasar sekali atau amat halus.

Terakhir perlu dibahas tentang kategori yang jelek. Tampaknya memang agak janggal bahwa salah satu kategori keindahan adalah kejelekan. Hal yang jelek bersifat kontradiktif terhadap hal yang indah. Kejelekkan tidaklah berarti kosongnya atau kurangnya ciri-ciri yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan mengacu pada sifat-sifat yang nyata-nyata bertentangan dengan sifat indah. Misalnya kalau ketertiban pada sesuatu hal dianggap menimbulkan perasaan senang sehingga hal itu dinyatakan indah, maka hal yang jelek bukanlah kecilnya ketertiban melainkan suatu keadaan yang amat kacau balau. Kejelekkan menimbulkan pada orang perasaan muak dan mual. Hal yang jelek kini dianggap mempunyai nilai estetis karena dapat membangkitkan sesuatu emosi tertentu yang negatif, suatu nilai estetis yang negatif,yang bertentangan dengan sifat-sifat indah. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti kalau belakangan ini ada produser film yang menyajikan tokoh-tokoh jelek atau seniman yang menciptakan sesuatu karya seni menjijikkan yang tergolong pada kategori yang jelek.


BAB IV
PENGALAMAN ESTETIK


A. Pengertian Pengalaman Estetik
Pengalaman estetik adalah tanggapan seseorang terhadap benda yang bernilai estetis. Hal ini merupakan persoalan psikologis sehingga pendekatan penelaahan menggunakan metode psikologi. Ada tiga pengertian yang dapat dirangkum daripara ahli, yaitu :
1.      Pengalaman estetis terjadi karena adanya penyeimbangan antara dorongan dorongan hati dalam menikmati karya seni.
2.      Pengalaman estetis adalah suatu keselarasan dinamis dari perenungan yang menyenangkan, menimbulkan perasaan-perasaan seimbang dan tenang terhadap karya seni yang diamatinya atau terhadap suatu objek yang dihayatinya,sehingga tidak merasa ada dirinya sendiri.Pengalaman estetis jenis ini berhubungan dengan pengalaman mistis.
3.      Pengalaman estetis adalah suatu pengalaman yang utuh dalam dirinya sendiri tanpa berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya, bersifat tidak berkepentingan (disinterested) dari pengamatan yang bersangkutan. Pengalaman tersebut adalah pencerapan itu sendiri dan merupakan nilai intrinsik.

John Hospers menyebut perbuatan yang demikian ini mencerap demi pencerapan (perceive for perceiving's) atau juga pencerapan demi untuk pencerapan itu sendiri (perceiving for its own sake) dan tidak untuk keperluan suatu maksud yang lebih jauh (The Liang Gie, 1976).



B. Teori Pengalaman Estetik
  1. Teori Jarak Psikis (psyhical distance) dari E. Bullough. Teori ini ditulis dalam bukunya yang berjudul “Psyhical Distance as factor in Art and Aesthetic Principle”. Bullough mempergunakan metode introspeksi dari psikologi yakni pengamatan diri dengan jalan merenungkan pengalaman-pengalaman sendiri. Bullough berpendapat bahwa untuk menumbuhkan pengalaman yang berhubungan dengan seni, orang justru harus menciptakan jarak psikis diantara dirinya dengan hal-hal apapun yang dapat mempengaruhi dirinya itu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi diri seseorang misalnya adalah segi-segi kegunaan dari sesuatu benda untuk keperluan/tujuan orang itu. Kebutuhan dan tujuan praktis itu harus dikeluarka agar perenungan dan tinjauan seseorang secara estetis terhadap bendanya itu semata-mata menjadi mungkin.

  1. Teori Einfuhlung  (teori tentang pemancaran perasaan diri sendiri ke dalam benda estetis) yang dikemukakan oleh Friederich T. Vischer (1807-1887).
Menurut Vischer seorang pengamat karya seni (benda estetis apapun) cenderung untuk memancarkan (memproyeksikan) perasaannya ke dalam benda itu, menjelajahi secara khayal bentuk dari benda tersebut dan dari kegiatan itu menikmati sesuatu yang menyenangkan.

Teori ini dikembangkan oleh Lipps di dalam bukunya Aesthetic yang terdiri 2 jilid. Dalam garis besarnya teori Lipps menyatakan bahwa kegiatan estetis adalah kegiatan seseorang yang dari situ timbul suatu emosi estetis khas yang terjadi karena perasaan itu menemukan suatu kepuasan atau kesenangan yang disebabkan oleh bentuk objektif dari karya seni tersebut. Nilai dari tanggapan objektif orang tergantung pada kwalitas objektif dari benda estetis yang bersangkutan.
Teori Lipps ini dalam buku E.F Carritt (The Theory of Beauty) dirumuskan sebagai kesenangan estetis adalah suatu kenikmatan dari kegiatan kita sendiri didalam suatu benda. Pernyataan ini yang kelihatannya merupakan suatu pertentangan dalam kata-kata, sebagaimana diterangkan berarti bahwa kita menikmati diri kita sendiri bilamana diobjektifkan atau menikmati suatu benda sejauh kita hidup di dalamnya (The Liang Gie, 1976;54).

C. Rintangan Pengalaman Estetik
Dalam pengalaman estetik, mengalami hambatan jika di dalam diri si pengamat terdapat sikap:
1.      Sikap Praktis: apabila seseorang mengamati pemandangan yang indah dengan tujuan untuk kepentingan praktis, misalnya membangun hotel, rumah makan dan lain-lain.
2.      Sikap ilmiah: apabila seseorang mendengarkan lagu klasik yang diselidiki adalah asal usulnya, diciptakan oleh siapa, dimana dan kapan lagu itu dibuat.
3.      Sikap melibatkan diri: apabila seseorang mempersamakan nasipnya dengan nasip seseorang yang ada dalam buku novel yang baru saja ia baca atau fim yang baru saja ia tonton.
4.      Sikap emosional: apabila ada seseorang terdapat hasrat yang menyala-nyala untuk menikmati karya seni, atau kesadaran diri yang berlebih-lebihan dalam penikmatan itu.
Menurut Stephen Pepper, musuh-musuh daripada pengalaman estetis adalah adanya kesenadaan (monoton) dan kekacau-balauan (confusion). Dan hal yang merusak pengalaman estetis itu, dalam karya seni yang baik, harus diusahakan adanya keanekaan (variety) dan kesatuan (unity) yang seimbang (The Liang Gie, 1976). 

BAB V
FILSAFAT SENI


A. Pengertian Filsafat Seni
        Filsafat seni merupakan salah satu cabang dari rumpun estetik filsafati yang khusus menelaah tentang seni. Lucius Garvin memberikan batasan tentang filsafat seni sebagai "the branch of philosophy which deals with the theory of art creation, art experience, and art criticism". (cabang filsafat yang berhubungan dengan teori tentang penciptaan seni, pengalaman seni dan kritik seni). Sedang definisi Joseph Brennan merumuskan sebagai "the study of general principles of artistic creation and appreciation." (penelaahan mengenai asas-asas umum dari penciptaan dan penghargaan seni).
Pengertian seni ini dipakai dalam bermacam-macam arti, antara lain :
1.      Sei sebagai kemahiran (skill) dilawankan dengan ilmu (science). Sering dikatakan bahwa ilmu mengajar seseorang untuk mengetahui dan seni mengajar seseorang untuk berbuat, keduanya saling melengkapi.
2.      Seni sebagai kegiatan manusia atau (human activities) dilawankan dengan kerajinan (craft). Ciri-ciri yang membedakan art dan craft ialah bahwa sni bersifat perlambang dan menciptakan realita baru, sedangkan kerajinan merupakan pekerjaan rutin yang disesuaikan dengan kegunaan praktis.
3.      Seni sebagai karya seni (work of art atau artwork) dilawankan dengan benda-benda alamiah. Karya seniadaalah merupakan produk dari kegiatan manusia. Dalam artian yang seluas-luasnya seni meliputi setiap benda yang dibuat manusia utnuk dilawankan dengan benda-benda alamiah. 
4.      Seni sebagai seni indah ( fine art) dilawankan dengan seni berguna (useful art). Seni indah dinyatakan sebagai seni yang terutama bertalian dengan pembikinan benda-benda dengan kepentingan estetis, sehingga berbeda dari seni berguna atau terapan yang maksudnya untuk kefaedahan.
5.      Seni sebagai seni penglihatan (visual art) dilawankan dengan seni pendengaran.

B. Teori Lahirnya Seni
Teori lahirnya seni membahas mengenai dorongan yang menyebabkan lahirnya seni. Abdul Kadir (1975: 3-4) mengemukakan bahwa berdasarkan sejarah estetika terdapat tiga teori tentang dorongan-dorongan manusia menciptakan seni. Ketiga teori itu adalah : 
1.      Teori Bermain (Theory of Play)
Berdasarkan teori ini lahirnya seni adalah semata-mata untuk kesenangan mengisi waktu yang terluang belaka.
2.      Teori Kegunaan (Theory of Utility)
Teori ini juga mengungkapkan bahwa semua aktifitas artistik seluruhnya ditujukan untuk kepentingan praktis dan kebutuhan sosial. Jadi teori ini berdasarkan pada aspek kegunaan.
3.      Teori Magis dan Religi (Theory of Magic and Religion)
Teori Magis dan Religi tentang lahirnya seni antara lain mengungkapkan bahwa kehadiran seni adalah untuk mendapatkan tenaga-tenaga gaib untuk keperluan berburu dan sebagainya. Pendapat ini disampaikan oleh Salmon Reinoch.

Pendukung teori magis dan religi lainnya adalah S. Gideon. Gideon berpendapat bahwa seni merupakan jalan atau cara yang lazim untuk mendapatkan kekuatan dalam memperoleh kekuasaan. Usaha untuk memperoleh kekuatan tersebut ditempuh dengan cara mendapatkan kemahiran membuat garis-garis batas (outline) gambar-gambar dari binatang yang akan ditangkap.

C. Aliran-aliran dalam Seni
Seni sebagai hasil kreasi akal budi dan rasa manusia menciptakan sesuatu yang baru mempunyai bentuk dan corak yang    beraneka ragam. Aliran-aliran dalam seni ini biasanya untuk seni lukis, diantaranya :
1.      Aliran Naturalisme
Bertujuan untuk melukiskan bentuk-bentuk alam yang sewajarnya sesuai dengan keadaan alam (nature). Manusia beserta fenomenanya diungkapkan sebagaimana adanya seperti tangkapan mata, sehingga karya yang dilukiskan seperti hasil foto atau tangkapan lensa kamera. Jika yang dilukiskan sebuah pohon kelapa, maka lukisan tersebut berusaha menggambarkan secara persis pohon kelapa yang ada di alam dengan susunan, perbandingan, perspektif, tekstur, pewarnaan dan lain-lainnya disamakan setepat mungkin sesuai dengan pandangan mata ketika melihat pohon kelapa tersebut apa adanya (Nooryan Bahari, 2008:119).

2.      Aliran Ekspressionisme
Aliran ini bermaksud mengungkapkan perasaan-perasaan dan penderitaan batin yang timbul dari pengalaman diluar, yang ditanggapi tidak hanya dengan panca indra tetapi juga dengan jiwa. Seniman Belanda, Vincent van Goh (1853-1890),dianggap sebagai pelopor aliran ekspresionisme bahkan dia dianggap sebagai bapak seni lukis modern. Tema lukisannya yang awal banyak melukiskan kesibukan pekerja-pekerja tambang kasar dengan segala suka dukanya. Ia lebih menitik beratkan watak, menangkap kesan secara langsung, kemudian diungkapkannya dengan warna berat.

3.      Aliran Impressionisme
Dalam bahasa Indonesia, arti impression adalah kesan, jadi karya impressionisme adalah karya seni lukis yang ingin mengungkap kesan. Sekelompok pelukis di Prancis pada akhir abad ke-18, mulai tidak senang dengan cara melukis akademi yang selalu menggambar di studio. Jika ingin melukis sapi di padang rumput, mereka mengambil sapi sebagai model dan dibawa ke studio. Kelompok pembaharu mempunyai anggapan bahwa alam sebagai guru yang terbaik, membuat mereka menghambur ke jalan-jalannya, ke ladang, ke pinggir sungai untuk menggambar secara langsung. Lantaran di luar matahari mulai menyengat, mereka menjadi blingsatan karena kepanasan, sehingga mereka melukis dengan cepat baik karena panas maupun karena perjalanan matahari dari timur ke barat mempengaruhi banyangan dan pewarnaan. Secara otomatis, mereka memperhatikan keberadaan dan gerakan cahaya. Lambat laun mereka monomersatukan cahaya, dan menomerduakan unsur-unsur yang lain ( Nooryan Bahari, 2008:120-121).
Lukisan Claude Monet (1840-1926) yang berjudul Impresi : Fajar Menyingsing yang dipamerkan pada tahun 1874. Lukisan Monet yang berupa kesan benda berwarna ditolak oelh kritikus seni pada waktu itu dan diejek sebagai lukisan kesan yang belum selesai (bahasa Perancis : Impresion). Melukiskan kesan alam yang diterima dengan spontan, cepat dan pasti, bagian-bagian yang kecil tidak diindahkan, yang dipentingkan keseluruhannya hingga suasana bentuk, gerak dan sinar itu dilukiskan  tidak terpisah.

4.      Aliran Romantisme
Romantisme adalah gaya atau aliran seni yang menitikberatkan pada curahan perasaan, reaksi emosional terhadap fenomena alam, dan penolakan terhadap realisme. Dalam seni lukis gerakan ini menghasilkan kebebasan baru dalam menata komposisi, melahirkan citra goresan kuas terbuka, pembaharuan dan tingkatan warna yang lembut.
Tokoh romantik yang terkenal dari Perancis adalah Theodore Gericault (1791-1924) dan Eugene Delacroix (1798-1863). Mereka senatiasa melukiskan kejadian-kejadian yang dahsyat, kegemilangan sejarah serta peristiwa yang sangat menggugah perasaan.

5.      Aliran Realisme
Aliran ini tumbuh di Perancis pada tahun 1850an. Realisme melukiskan kenyataan hidup pada jaman itu dan biasanya memperhatikan kaum malang di dalam masyarakat dan tidak pernah menyembunyikan kesusahan. Pelopor realisme adalah Gustave Courbet, seorang yang sederhana penduduk Ornans di Perancis timur. Courbet(1819-1877) menentang aliran klassisisme yang dianggapnya penuh dengan kepalsuan dan mengecam kelompok romantisme karena mencampurbaurkan doktrin politik dengan doktrin seni sehingga mengabaikan segi seni demi tercapainya tujuan politik bagi seniman.

6.      Aliran Kubisme
Seni rupa yang kubistis, mempunyai wujud tang bersegi-segi dan berkesan monumental, terutama untuk seniu patung. Bapak aliran kubisme adalah Pablo Picasso dan G. Braque.
Pada perkembangannya ada dua tingkatan kubisme. Yang pertama, kubisme analitis. Pada tahap ini pelukisnya memecahkan setiap objek yang kita kenal seperti wajah orang, biola, meja, dan lain-lain sampai menjadi kubus-kubus yang kemudian menyerupai susunan balok-balok dalam bentuk semacam patung yang berkesan tiga dimensi.Yang kedua, kubisme sintetik. Setelah merobek-robek objek menjadi bentuk yang paling dasar, kemudian menjelmakan kembali pada suatu struktur yng mungkin mirip atau tidak terhadap objek yang semula. Sesudah itu objek dilukis secara realistis dalam susunan komposisi tertentu. Kesan lukisan ini akhirnya menjadi dua dimensional.


7.      Aliran Dadaisme
Aliran ini lahir di Jerman pada tahun 1916, dengan maksud sebagai reaksi atas kekejaman perang dunia pertama yang berakibat keputusasaan pada seniman-seniman Jerman, khususnya dan kemudian menjalar ke Perancis, bahkan sampai ke Amerika. Aliran ini mengetengahkan lukisan yang bersifat kekanak-kanakan. Kadang-kadang lucu dan menggelikan, bombastis, naif, tetapi mengandung keindahan kanak-kanak yang murni. Pelopor aliran ini adalah Picasso.

8.      Aliran Surealisme
Surealisme pada awalnya adalah gerakan dalam sastra yang ditemukan oleh Apollinaire untuk menyebut dramanya.  Pada tahun 1924 istilah ini diambil alih oleh Andre Beton untuk manifesto kaum surealis. Dalam kreatifitas seninya, kaum surealis berusaha mambebaskan diri dari kontrol kesadaran, menghendaki kebebasan besar, sebebas orang bermimpi.
Aliran ini muncul pada tahun 1924. aliran ini mengawinkan dunia yang tidak nyata dengan dunia nyata. Teori dan tekhnik dari psychoanalitis Freud telah menjadi dasar tekhnik dasar pengungkapan aliran ini, yaitu :
a.Surealisme Fotografis : disini bentuk objeknya masih kita kenal walaupun tidak  dalam bentuk yang wajar .
b.Surealisme morphic  :  aliran ini tidak bersumber pada ingatan sebagai “tempat objek”. Lukisannya hampir abstrak (Budhy Raharjo J 1986;166-192).
       
D. Nilai Seni
Karya  seni sebagai hasil cipta manusia memiliki nilai untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Jika seni tidak bernilai maka seni tidak akan diciptakan orang dan tidak mungkin berkembang hingga dewasa ini. Seni tidak hanya menyajikan bentuk-bentuk yang dapat diserap indera manusia semata, tetapi juga mengandung tujuan abstrak yang bersifat rohaniah, yaitu suatu makna yang dapat memberi arti bagi manusia.
Karya Seni yang mengandung makna inilah yang disebut seni bernilai. Nilai-nilai tersebut :
1.      Nilai Kehidupan
Nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan manusia yang bersifat mendasar sesuai harkat dan cita-cita manusia ditampilkan dalam media seni. Misalnya ide kebahagiaan, ide kebaikan, ide keadilan, ide kebenaran dan lain-lain.

2.      Nilai Pengetahuan
Karya seni dapat memberikan suatu pemahaman terhadap alam sekitarnya dan berbagai aspek kehidupan yang melingkupinya. Misalnya karakteristik tata budaya atau adat kebiasaan suatu masyarakat. Hal ini bersifat informative yang akan menimbulkan pengetahuan terhadap tata kehidupan yang ada.

3.      Nilai Keindahan
Dalam hal ini pengertiannya menyangkut perasaan manusia. Dalam realitasnya memang tidak semua seni itu indah, seni tidak hanya mencoba untuk menyatakan keindahan. Keindahan hanya merupakan salah satu diantara hal-hal yang dicoba untuk dinyatakan oleh seni.

4.      Nilai Inderawi dan Nilai Bentuk 
Nilai Inderawi menyebabkan seseorang pengamat menikmati atau memperoleh kepuasan dari ciri-ciri inderawi yang disajikan oleh suatu karya seni. Nilai bentuk menyebabkan seseorang mengagumi bentuk besar (struktur) dan bentuk kecil (tekstur).



5.      Nilai Kepribadian
Perlunya watak atau karakteristik tertentu yang dapat membedakan yang satu dengan yang lain. Artinya sebuah karya seni seharusnya memiliki gaya (style) tersendiri yang didukung oleh unsur-unsur atau ciri-ciri tertentu yang tersusun secara keseluruhan dan bersifat tetap, misalnya dalam hal seni bangunan (arsitektur). Gaya arsitektur rumah adat Minangkabau akan berbeda dengan gaya arsitektur rumah adat Toraja.

6.      Nilai keindahan Inderawi dan nilai bentuk
Nilai keindahan inderawi menyebabkan seorang pengamat menikmati atau memperoleh kepuasan dari ciri-ciri inderawi yang disajikan oleh suatu karya seni. Nilai keindahan bentuk menyebabkan seseorang mengagumi bentuk besar (struktur) dan bentuk kecil (texture).


E.  Sifat Dasar Seni
Seni merupakan hasil kreasi akal budi dan rasa manusia yang hidup sepanjang masa dan dikagumi oleh manusia yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Sifat dasar seni itu adalah 
1.      Seni bersifat kreatif
Seni yang sesungguhnya senantiasa kreatif, selalu menghasilkan sesuatu yang baru. Seni sebagai suatu rangkaian kegiatan manusia selalu menciptakan suatu realitas  yang baru, sesuatu apapun yang tadinya belum ada atau belum pernah muncul dalam gagasan seseorang.
2.      Seni bercorak individualis
Seni senantiasa dilakukan oleh seseorang individu tertentu dan hasilnya juga merupakan suatu individualitas tertentu yang khas.


3.      Seni adalah ekspresif  
Seni menyangkut perasaan manusia dan karena itu penilaiannya juga harus memakai ukuran perasaan estetis.

4.      Seni adalah abadi
Sekali suatu karya seni telah selesai diciptakan sebagai suatu relitas baru, karya itu akan tetap langgeng sepanjang zaman walaupun seniman penciptanya sudah tidak ada lagi.

5.      Seni bersifat semesta
Seni berkembang di seluruh dunia dan tumbuh sepanjang masa, karena manusia memiliki perasaan dan seni adalah bahasanya yang melakukan komunikasi  antar mausia dengan bahasa perasaan(The Liang Gie;1996,46).

F. Kritik Seni
    Kritik seni termasuk dalam filsafat seni. Sifatnya memang dapat mendua, yakni sebagai bidang pengetahuan dan sebagai proses kegiatan. Tapi dalam arti umum sesungguhnya kritik adalah suatu penafsiran yang beralasan dan penghargaan terhadap sesuatu hal berdasarkan pengetahuan, ukuran baku dan cita rasa yang bertalian dengan hal itu dari orang yang melakukannya. Jadi kritik lebih merupakan suatu perbuatan yang bersifat pribadi, berdasarkan keyakinan subyektif dan cita rasa perseorangan.
     Kritik seni adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada satu karya seni tertentu (atau paling banyak kepada sekumpulan karya seni yang tergolong dalam style yang sama, misalnya sejumlah patung yang dibuat oleh seorang seniman saat itu). Jadi hasil kritik itu tidak bisa berlaku umum untuk karya-karya seni lainnya dari orang yang sama, apalagi dari seniman lainnya. Kini para ahli estetik umumnya sepaham bahwa peranan kritik seni bukanlah untuk memberi nilai A, B, C dan D atau angka 1 sampai 10 terhadap sesuatu karya seni seperti halnya memeriksa kertas ujian, melainkan memperbesar pemahaman, meningkatkan apresiasi atau membuka mata dari publik terhadap sesuatu yang bermutu yang mungkin terluput dari pengamatan mereka. Dalam hubungan ini maka kritik seni dapatlah dipandang sebagai penerapan dari estetik terhadap karya seni satu per satu. Untuk menjadi ahli kritik seni yang baik sehingga dapat memberikan tafsiran yang tepat dan penilaian yang beralasan kuat, seseorang harus memilliki pengetahuan filsafat seni dan mungkin juga cabang-cabang estetik lainnya (The Liang Gie:1976,32).

BAB VI
SENIMAN


A. Pengertian
Jika dilihat dari profesinya, seniman mempunyai kelebihan atau perbedaan khusus dalam cara memandang terhadap hal-hal disekelilingnya.
Louis O.Kattsoff dalam bukunya Element of Philosophy menganggap, bahwa dorongan-dorongan artistic seniman dalam mengungkapkan perasaan-perasaan merupakan masalah psikologis yang bersifat suigeneris.  (L.O>Kattsoff, 1970).
Dilihat dari uraian di atas, ternyata seniman dalam mengungkapkan persepsinya lebih mengutamakan perasaan terhadap diri dan lingkunganya. Pandangan seperti ini sesuai dengan unsur kodrati manusia, bahwa keindahan hanya dapat dirasakan. Seniman adalah insan yang menturutkan kata hatinya, orang yang menganak-emaskan emosinya dan mengabaikan rasionya.  (Sudarso, 1977).
Pendapat yang mengabaikan rasio dalam karya seni tidak selalu benar. Banyak karya seni yang dibuat dengan pertimbangan rasio. Misalkan dalam seni lukis, sebuah pemandangan alam yang naturalistik harus memperhitungkan perspektif dan bentuk buah dan pohon dibagi dengan petimbangan logis. Walaupun demikian diakui penekanan perasaan sangat dominan dalam proses penciptaan karya seni.
Pada masa lalu, tidak ada perbedaan yang tegas antara seniman dengan pengrajin atau tukang.      Tetapi dengan adanya perkembangan seni, para ahli mulai memperhatikan bahwa terdapat perbedaan antara seniman dengan tukang atau pengrajin. Seniman dalam berkarya selalu berubah dan berkembang, yang lebih khusus lagi mereka mempertahankan bahwa karya seninya itu adalah ekspresi pribadi. Sedangkan tukang atau pengrajin dalam berkarya selalu tetap, kontinyu dan lambat perkembangnnya dan yang lebih khusus lagi kesemuanya itu ditujukan hanya untuk kegunaan semata.
Perbedaan lainnya ialah tukang atau pegrajin adalah seorang dengan kemahiran mata dan tangan, sedangkan seniman memiliki kelebihan pengkhayalan yang kreatif.
Suatu ciri khas seniman, dia disamping memiliki kemampuan tersebut, juga memiliki kepekaan terhadap gejala-gejala yang ada di dalam lingkungannya. Kemampuan seperti ini menurut J. Kets seorang penyair Romantik (1795-1882) ialah "Negative Capability", yaitu kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa (Suyadi, 1985).
Kemampuan negative capability identik dengan proses mencari. Proses inilah yang menyebabkan seorang seniman seluruh hidupnya penuh rasa ingin tahu, mendalaminya dan mendambakan keindahan yang ideal.

B. Teori Penciptaan Karya Seni
        Seniman, dalam menciptakan hasil karyanya ada beberapa teori, diantaranya adalah teori metafisis, ekspresi/pengungkapan dan teori psikologik.
1.      Teori Metafisis
Teori seni yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang dikembangkan oleh Schopenhauer. Mengenai sumber seni, Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Illahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita dunia ini yang merupakan cerminan semu dan mirip dengan realita Illahi itu. Karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimesis (tiruan) dari realita dunia  (The Liang Gie. 1976).



2.      Teori Ekspresi (pengungkapan)
Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia, Beneditto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris "Aesthetics as Sciences of Expression and General Linguistyic".
Beliau antara lain menyatakan bahwa "art is expression of impression" (seni adalah mengungkapkan dari kesan-kesan). Expression adalah sama dengan intuition, yaitu pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (image).
Dengan demikian pengungkapan itu terwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti misalnya : image warna, garis dan kata.
Bagi seseorang mengungkapkan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan.  (The Liang Gie. 1976).

3.      Teori Psikologis
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak di atas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa keinginan-keinginan bawah sadar dari seorang seniman.
Sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu.


4.      Teori Permainan
Suatu teori lain tentang sumber seni adalah teori permainan (play theory) yang dikemukakan oleh F.Schiller. Asal mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan.
Seseorang yang semakin meningkat taraf kehidupannya tidak memakai habis energinya untuk keperluan sehari-hari, kelebihan tenaga itu lalu menciptakan kebutuhan dan kesempatan untuk melakukan rangkaian permainan imaginative dan kegiatan yang akhirnya menghasilkan karya seni  (The Liang Gie, 1976).


BAB VII
PERWUJUDAN KEINDAHAN


Ada banyak keindahan di dunia ini. Manusia suka dengan keindahan, dari keindahan tersebut maka manusia mengapresiasikannya  menjadi berbagai bentuk “nilai”. Dalam perkembangannya nilai-nilai yang terkandung dalam keindahan tersebut membuat suatu kehidupan menjadi lebih bermakna dan berati. Dari berbagai bentuk keindahan yang ada, maka keindahan tersebut dapat dibedakan menjadi beberapa perwujudan, yaitu:
1.  Keindahan alam
2.  Keindahan seni
3.  Keindahan moral
4.  Keindahan intelektual
5.  Keindahan absolut (mutlak)

A. Keindahan Alam
Keindahan alam menampakkan diri pada :
1. Keselarasan (harmony)
2. Ketakselarasan yang luar biasa (extreme disharmony)
3. Kewarna-warnian (coloruful)
4. Ketenangan (calm, idyllic)
5. Keluasan tak terpahami

      Keindahan alam dapat bertalian dengan bentuk, ukuran, perimbangan dan warna.
      Perilaku alam mengikuti hukum-hukum tertentu, misalkan hukum tentang permukaan pembungkus    yang minimum (lawn of the minimum enclosing area), hal ini nampak pada :
1. bola  :  kelapa, semangka
2. lingkaran :  sarang tawon
3. pilin  :  nebula, pakis, keong
Menur Eric Newton  :  hal-hal yang indah dalam alam merupakan suatu hasil dari perilaku alam dan perilaku itu mematuhi hukum-hukum tertentu. Hasil perilaku itu menampakkan diri dalam suatu pola  dan pola-pola yang rumit itu akan terjadi/tercipta bilamana terjadi interaksi dari berbagai fungsi.
Pola yang rumit itu dapat  pula mewujudkan keindahan alamiah.

Perbedaan antara keindahan alam dan karya seni  : 
Keindahan alam
1.  Hanya salah satu atribut dari alam, karena alam diciptakan untuk berbagai kemanfaatan.
2.  Sukar dinikmati secara estetis saja, karena memungkinkan pertimbangan-pertimbangan lain.  
3.  Dalam menyerapan keindahan alamiah, pengamat memindahkan perasaannya kepada benda alam yang bersangkutan.
4.  Keindahan alamiah merupakan hasil tambahan dari fungsi pada sesuatu benda alam.

Keindahan seni
1.  Merupakan asensi dari karya seni
2.  Khusus diciptakan untuk dinikmati nilai estetisnya tanpa banyak pertimbangan lain.
3.  Dalam mencipta karyanya, seniman memindahkan perasaan estetis pada benda ciptaannya    untuk kemudian diteruskan kepada si pengamat.
4.  Keindahan seni merupakan hasil dari cinta seniman dan pemahamannya terhadap pola alam.

B.  Keindahan dalam Seni
Pada jamanYunani bentuk keindahan dalam karya seni terdapat pada unsur :  symmetria ( untuk seni penglihatan  dan harmonia untuk seni pendengaran).

Secara umum keindahan seni terdapat dalam : unity, harmony, balance, contras dan disharmony.  

C. Keindahan Moral
Keindahan moral terdapat pada Ide kebaikan :menurut  Plato terdapat pada watak yang indah dan hukum yang indah.
Keindahan moral juga mempunyai arti sesuatu yang baik.dilihat dari segi tingkah laku.

D. Keindahan Intelektual
Plotinus  berpendapat bahwa keindahan moral terdapat pada:  ilmu yang indah dan kebajikan yang indahKeindahan intelektual juga berarti ;buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah.

E. Keindahan Absolut (mutlak)
1 .Ada pada Tuhan
2. Tuhan itu indah dan menyengi hal-hal yang indah
3. Tugas seniman adalah untuk lebih mendekatkan diri sendiri dan
pengamat pada Tuhan


BAB VIII
UNSUR-UNSUR ESTETIKA INDONESIA


Konsep (pemikiran) tentang keindahan di Indonesia sudah ada pada jaman dahulu, pada waktu kehidupan manusia masih primitif. Secara sadar atau tidak, mereka sudah memberi hiasan pada perabot rumah tangga, alat pertanian, alat berburu, dan menghias dirinya bila ada kegiaatan yang dianggap penting(berburu, upacara adat, pemilihan kepala suku). Walaupun masih sangat sederhana, hiasan itu tidak sekedar umsur pelengkap/penghias belaka, tetapi mengandung unsur magis yamg dianggap sakral. 
Hal ini nampak dalam perilaku mereka yang menghiasi wajah ataupun tubuhnya dengan goresan-goresan berwarna hitam dan putih (tolak bala) bila mereka akan melakukan pekerjaan yang dipandang mempunyai makna, maksud dan tujuan yang dianggap mulia. Mereka juga menghias senjatanya bila akan berburu dengan maksud dan tujuan memberikan kekuatan magis pada senjatanya itu agar hasil buruannya dapat bermanfaat bagi keluarganya. Dalam upacara keagamaan mereka membuat sesaji, berdoa, berpakaian dan menghias diri, bernyanyi, menari dan memukul gendang.Hal ini menunjukkan bahwa estetika lahir karena pemenuhan kebutuhan kerohanian. Estetika tradisonal ini dalam perkembangannya tidak sama antar suku dan daerah, ada yang punah, ada yang mengalami pembauran dan ada yang mengalami perubahan.

Unsur-unsur estetika Indonesia
Unsur-unsur estetika Indonesia terkandung dalam seni budaya, adat-istiadat, dan kegiatan ritual  diantaranya secara konkrit terdapat pada : ragam hias, batik, candi, musik, wayang, seni tari dan upacara adat.


A. Ragam Hias
Ragam hias tradisional merupakan peninggalan nenek moyang dan merupakan hasil dari seni budaya bangsa yang mempunyai nilai tinggi. Dalam motif-motif yang digoreskannya, mengandung makna (arti) yang dalam.  Motif-motif itu biasanya berkaitan dengan pandangan hidup dari sesuatu daerah/suku bangsa dimana ragam hias itu diciptakan. Oleh karena itu perlu dicari apa arti (makna) yang tersembunyi di dalamnya dan untuk apa motif-motif itu dibuat. Dalam ragam hias tradisonal, terkandung unsur-unsur filsafati yang tercermin dalam bentuknya yang indah dan mengandung makna simbolis, religius, etis dan  filosofis.
Dalam ragam hias itu biasanya menggunakan motif ; fauna, flora, alam semesta, dan manusia atau gabungan dari unsur-unsur itu.
Di dalam unsur-unsur itu terkandung makna/ajaran bagaimana manusia itu seharusnya berbuat dan bertingkah laku yang baik agar selamat di dunia dan di akhirat.
Ragam hias juga digunakan untuk sengkalan-sengkalan (sengkalan memed), yang ada pada bangunan-bangunan kraton maupun gapura-gapura, yang berisi kapan bangungan itu didirikan dan siapa raja yang berkuasa saat itu. 
Dalam perkembangannya ragam hias tradisional perlu dilestarikan, jangan sampai kehilangan maknanya sehingga yang tinggal hanya fungsi dekoratifnya saja.

Untuk melestarikan ragam hias tradisional tersebut ,ada tantangan yang perlu untuk diantisipasi diantaranya: 
1.      Sikap praktis dan efisien: dengan digunakannya mesin bubut  dan alat bantu yang lain (cap) akan menghemat tenaga dan beaya,sehingga yang dikerjakan secara tradisional memakan beaya ekonomi tinggi
2.      Sikap kreatif:  ragam hias tradisional mempunyai pola yang baku, sehingga kreatifitas dikawatirkan akan menjadi penghambat karena akan menghilangkan nilai simboliknya.
3.      Ekonomis: cenderung beaya ekonomi tinggi,sehingga menjadi kendala.

Oleh karena itu,ragam hias tradisional perlu dilestarikan,     disamping itu, kreasi baru dari para seniman juga wajib untuk ditingkatkan, karena keduanya merupakan dua hal yang saling melengkapi dan akan berguna untuk melestarikan  seni budaya bangsa.

B. Batik
      Batik sebagai karya seni termasuk seni indah dan seni berguna yang didalamnya sarat kandungan makna filosofi. Hal ini terdapat pada  Seni batik klasik dan tradisional. Dikatakan dengan istilah “klasik” karena batik merupakan suatu karya yang bernilai seni tinggi, berkadar keindahan dan langgeng, artinya tidak akan luntur sepanjang masa. Sedangkan pengertian “tradisional” bahwa batik dikerjakan dengan cara-cara dan kebiasaan yang berlangsung secara turun temurun.


Sejarah dan Perkembangan Batik
   Pada awalnya, batik tulis hanya dikerjakan oleh putri-putri keraton sebagai pengisi waktu luang, kemudian menyebar juga kepada “abdi dalem” atau orang-orang yang dekat dengan keluarga keraton (Amri Yahya,1971;24).
Batik sebagai salah satu karya seni budaya bangsa Indonesia telah mengalami perkembangan seiring dengan perjalanan waktu. Perkembangan yang terjadi membuktikan bahwa batik sangat dinamis dapat menyesuaikan dirinya baik dalam dimensi ruang, waktu, dan bentuk. Dimensi ruang adalah dimensi yang berkaitan dengan wilayah persebaran batik di Nusantara yang akhirnya menghasulkan sebuah gaya kedaerahan misalnya batik Jambi, batik Bengkulu, batik Yogyakarta, batik Pekalongan. Dimensi waktu adalah dimensi yang berkaitan dengan perkembangan dari masa lalu sampai sekarang. Sedangkan dimensi bentuk terinspirasi dan diilhami oleh motif-motif tradisional, terciptalah motif-motif yang indah tanpa kehilangan makna filosofinya, misalnya Sekar Jagat, Udan Liris dan Tambal.

Pada waktu batik tradisional diciptakan tidak lepas dari pengaruh adat istiadat, kebudayaan daerah maupun pendatang, kepercayaan serta budaya dalam agama. Pengaruh budaya Hindu terlihat pada motif meru, sawat, gurda, dan semen yang merupakan simbol-simbol dalam kepercayaan Hindu. Pengaruh budaya Islam terlihat adanya perubahan, dimana tidak ada bentuk binatang dan lambang dewa-dewa. Meskipun unsur simbolisme jaman Hindu tetap ada, tetapi sudah distilir, sehingga menjadi unsur dekoratif. Pengaruh Tionghoa, batik dengan motif Lok Chan dan Encim. Pengaruh dari India dengan motif Cinde, Belanda dengan motif Buketan dan Jepang dengan motif Hokokai. Sedangkan Pengaruh adat terlihat pada batik tulis Irian Jaya dengan ragam hias suku Asmat. Pengaruh adat juga terlihat pada batik tulis Kalimantan Timur dengan ragam hias lambang perdamaian suku Dayak Bahau dan ragam hias Tongkonan Toraja, Sulawesi Selatan.
Berbicara masalah batik klasik dan tradisional tidak lepas dari makna simbolik. Menurut Ernst Cassirer, manusia adalah animal symbolicum, (Cassirer, 1987 : 40) makhluk yang dapat mengerti dan menggunakan simbol-simbol (tanda-tanda). Manusia juga dapat menciptakan dan memahami makna dari simbol-simbol itu, sehingga dapat dipakai sebagai norma, penuntun (petunjuk) ke arah tingkah laku dan perbuatan yang baik.
Batik sebagai karya seni, mengandung makna filosofi yang menarik untuk diteliti baik dari segi proses,motif,warna,ornament,fungsi dan nilai dari sehelai batik yang sarat akan kandungan makna simbolik.

a.      Proses
Berbicara masalah proses pembuatan sehelai kain batik klasik/tradisional melalui suatu rangkaian yang panjang mulai dari “membatik” sampai dengan “mbabar”. Berbeda dengan batik cap dan printing.
       b.   Motif
Pada pokoknya, motif batik terdiri atas empat macam, yaitu :
1.                  Ceplok, misalnya Kawung, Ceplok Manggis dan Ceplok Mendut.
2.                  Garis miring, misalnya motif Parang, Udan Liris, dan Rujak
            Senthe
3.                  Geometris, misalnya Truntum, Grompol, dan Tirtatejo.
4.                  Semen, misalnya Semen Rama, Semen Condro, Sido Mukti, dan
            Sido Luhur.

Makna Simbolis dalam motif batik tradisional itu, diantaranya :
1).  Kawung
Menurut sejarah, motif Kawung diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma di Mataram. Beliau menciptakan dengan mengambil bahan-bahan dari alam atau hal-hal yang sederhana dan kemudian diangkat menjadi motif yang baik (Koeswadji, 1981 : 112).
Motif  Kawung diilhami oleh pohon aren atau palem yang buahnya berbentuk bulat lonjong berwarna putih jernih atau disebut kolang kaling.
Bila ditinjau menurut gambaran buah aren atau kolang kaling, maka motif Kawung mempunyai makna simbolis sebagai berikut : pohon aren sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dari batang, daun, ijuk, nira, buah, secara keseluruhan dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Hal ini mengingatkan agar manusia dalam hidupnya dapat berdaya guna bagi bangsa dan negaranya seperti pohon aren.
Motif  Kawung mempunyai makna simbolis yang dalam, agar pemakai motif tersebut menjadi manusia unggul dan kehidupannya bermanfaat dan bermakna.
2). Parang Rusak
Motif batik tradisional Parang Rusak diciptakan oleh Sultan Agung di Mataram. Sesuai dengan arti kata, Parang Rusak mempunyai arti perang atau menyingkirkan segala yang rusak, atau melawan segala macam godaan (Koeswadji, 1985 : 25).
Motif  batik tradisional Parang Rusak mempunyai makna agar manusia di dalam hidupnya dapat mengendalikan nafsunya, sehingga mempunyai watak dan perilaku yang luhur.
3). Truntum
Motif Truntum merupakan simbolisasi istri yang bijaksana. Motif ini juga dipakai oleh kedua orang tua dari kedua mempelai pada waktu upacara adat pernikahan anaknya. Hal ini bermakna sebagai orang tua berkewajiban untuk menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru berumah trangga yang banyak liku-likunya. Dalam pengertian yang lain, motif batik tradisional dengan ragam hias Truntum merupakan lambang cinta yang bersemi kembali. (Nian S. Djumena, 1986 : 57).
4).  Semen
Motif batik Semen mempunyai corak yang beraneka ragam. Semen dari kata semi-semian, yang berarti berbagai macam tumbuhan dan suluran. Pada motif ini sangat luas kemungkinannya dipadukan dengan ornamen lainnya, antara lain: naga, burung, candi, gunung, lidah api dan sawat atau sayap. Apabila ditinjau dan dirangkai secara keseluruhan dalam bentuk motif Semen mempunyai makna bahwa hidup manusia dikuasai (diwengku) oleh penguasa tertinggi.
Kehidupan berasal empat unsur yaitu: bumi, air, api, dan angin yang memberikan watak dasar pada hidup itu sendiri. Bila jalan hidupnya sesat, pada hidup yang akan datang berada di dunia bawah atau lembah kesengsaraan. Sebaliknya jika jalan hidupnya penuh dengan kebaikan akan masuk ke dunia atas (kemuliaan). Kesimpulan ornamen penyusun motif Semen adalah bahwa hidup tidak mudah, sengsara atau mulia tergantung dari perbuatan dan pengendalian hidup manusia itu sendiri. Batik dengan ragam hias tumbuhan seperti motif Semen Remeng, cirinya: latar belakang berwarna hitam. Batik Semen dengan latar belakang putih disebut batik Semen latar putih. Remeng berarti samar-samar dengan kata lain keadaan diantara terang dan gelap. Maksud dari Semen Remeng adalah pemakai diharapkan mampu melihat atau membedakan yang terang dan yang gelap atau yang baik dan yang buruk (Depdikbud, 1995: 167).
Diantara motif-motif batik tradisional yang ada dan dipakai oleh golongan masyarakat luas adalah motif  batik Semen Rama dan Ratu Ratih. Motif ini merupakan simbolisasi istri yang baik, yang melambangkan kesetiaan seorang istri kepada suami (Nian S.Djumeno,1986:12). Apapun kedudukan seorang istri, di dalam kehidupan rumah tangga yang menjadi kepala rumah tangga adalah suami. Istri harus taat dan setia kepada norma yang ada dalam kehidupan rumah tangga, tidak dibenarkan terlalu menuntut.

5).  Tambal
Motif batik Tambal sebagai simbolisasi wanita karier. Motif ini dipakai oleh Ni Sedah Mirah sebagai busana kerja (jarik).Dia bekerka sebagai pegawai pamong praja yang rajin,tertib,cekatan,disiplin,cerdas dan selalu dapat menyelesaikan tuganya dengan baik. Motif batik ini juga mempunyai makna menambah atau memperbaiki sesuatu yang kurang. Kekurangan itu harus ditutup (ditambal). Ragam hias ini juga mempunyai nilai mitos, yaitu dianggap dapat menolak bahaya dan digunakan sebagai selimut orang yang sakit (Nian S.Djumeno,1986:26). Dengan menggunakan motif ini, memberikan sugesti kepada orang yang sakit supaya cepat sembuh.
6). Tritik
Motif ini dipakai oleh anak gadis kalangan Ningrat yang sudah tetesan dan terapan tetapi belum dewasa (Nian S.Djumeno,1986:75). Dengan memakai motif ini maka harus berhati-hati dalam mengarungi kehidupan remaja dan bisa membawa diri dalam hidup pergaulan yang penuh dengan liku-likunya, jangan sampai terpelosok ke dalam pergaulan yang sesat.
7). Cindhe (Patola)
Motif ini dulu hanya boleh dimiliki dan dipakai oleh kalangan Ningrat dan merupakan lambang kehidupan seseorang. Kain ini dianggap sakral dan merupakan pusaka turun temurun (Nian S.Djumeno,1990:104). Motif ini sekarang sudah tidak menjadi milik Ningrat lagi, tetapi sudah menjadi milik masyarakat. Motif ini biasanya  dipakai sebagai busana pengantin dengan dandanan paes ageng
8).  Udan Liris
Motif ini artinya hujan gerimis atau hujan rintik-rintik. Motif ini tersusun atas :
1.                  Motif api, yang berarti kesaktian dan ambisi
2.                  Setengah kawung, menggambarkan sesuatu yang berguna
3.                  Banji Sawat, melambangkan kebahagiaan dan kesuburan
4.                  Mlinjon, melambangkan salah satu unsur kehidupan
5.                  Tritis, melambangkan adanya ketabahan hati
6.                  Ada-ada, melambangkan adanya prakarsa
7.                  Untu Walang, melambangkan adanya kesinambungan
Dalam hal ini motif  batik Udan Liris diartikan sebagai pengharapan agar si pemakai dapat selamat sejahtera, tabah, berprakarsa dalam menunaikan kewajiban demi kepentingan nusa dan bangsa (Mari S. Condronegoro,1995:21).
9).  Mega Mendhung
Motif ini berbentuk awan (mendhung) di langit sebagai pertanda akan datangnya hujan. Oleh karena itu diberi warna biru tua untuk menggambarkan awan gelap. Air adalah lambing kehidupan. Dalam mitologi Hindu dikenal air amerta yang dapat memberi kehidupan dan dapat menyebabkan hidup abadi (langgeng). Dalam penggambaran mendhung yang biru tua, ada degradasi warna kea rah warna biru yang cerah (biru muda) dengan harapan simbolik akan memperoleh kehidpan yang cerah. (Timbul Haryono, 2008: 13).
10).  Kapal Kandas
Dilukiskan kapal-kapal yang kandas dengan binatang laut disekitarnya dan burung yang terbang di udara diatasnya, seolah-olah tidak peduli dengan musibah kapal-kapal tersebut. Hal ini bermakna bahwa kegagalan dalam perjuangan mengarungi lautan kehidupan merupakan hal yang biasa dialami oleh manusia, banyak teman senasip, namun manusia harus tetap tegar bahkan tak boleh terlalu mengharapkan pertolongan orang lain (Kushardjanti, 2008: 33).

c.       Warna Batik
Warna batik mempunyai arti simbolis, bahkan dianggap mempunyai kekuatan magis dan sakral. Warna itu adalah :
1.      Warna coklat soga/merah
Warna coklat soga/merah termasuk warna hangat. Warna ini berasosiasi dengan tipe pribadi yang hangat, terang, alami, bersahabat, kebersamaan, tenang, sentosa, dan rendah hati. Menurut Magnis Suseno (1984 : 133).
2.      Warna putih
Warna putih makna simboliknya adalah lambang kesucian, jujur, bersih, spiritual, pemaaf, cinta, dan terang. Putih dalam arti yang positif yaitu kesucian dan jujur merupakan karakter dari orang maupun kelompok masyarakat yang yakin pada kebenaran yang mutlak bahwa kebenaran hanya dapat dicapai apabila diawali dengan kejujuran.
3.      Warna hitam (biru tua), Indigo
Warna ini bermakna keabadian, kesemprnaan, misteri, kegelapan, kukuh, formal, keahlian. Secara positif, hitam berarti mencerminkan kekukuhan dan keahlian. Sifat ini berarti manusia harus mempunyai ketegasan dalam mengambil keputusan, kukuh dalam pendirian, dan sanggup melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. Warna hitam dalam konotasi negatif berarti misteri dan kegelapan.
4.      Warna kuning emas
adalah simbol ketentraman, dari segala sesuatu yang mengandung makna Ke-Tuhanan (keagamaan) atau kebesaran.
5.      Warna kuning adalah simbol ketentraman.
6.      Warna merah melambangkan keberanian dan kegembiraan.
7.      Warna biru melambangkan kesetiaan.
8.      Warna hijau merupakan lambang ketentraman dan ramah tamah, kesuburan, harapan.
9.      Warna ungu melambangkan keagungan.
10.  Warna orange melambangkan kegembiraan dan menarik.
11.  Warna coklat adalah lambang tunas (Budhy Raharja, 1986 : 40).

d.      Simbolisme dalam Ornamen
Menurut Sewan Susanto, ornamen utama dari motif batik tradisional Yogyakarta yang mempunyai makna simbolis ialah :
“Meru melambangkan gunung atau tanah yang disebut juga bumi. Api atau lidah api melambangkan nyala api yang disebut juga agni atau geni. Ular atau naga melambangkan air atau banyu disebut juga tirta (udhaka). Burung melambangkan angin atau maruta. Garuda atau lar garuda melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi, yaitu penguasa jagad dan isinya (Sewan Susanto, 1980 : 212).”
  Unsur-unsur motif tersebut diatas menurut kepercayaan Jawa Kuno menggambarkan kehidupan manusia yang berasal dari empat unsur hidup, yaitu tanah, api, air, dan udara yang dikuasai oleh Penguasa Tertinggi, yang tidak lain adalah Tuhan. Disamping ornamen utama yang menggambarkan unsur-unsur kehidupan sangkan paraning dumadi, juga mengandung ajaran-ajaran keutamaan. Melalui unsur-unsur dasar kehidupan tersebut, manusia dapat mengembangkan dan mengendalikan dirinya dengan segala kemungkinan tentang baik buruk. Bahagia dan sengsara manusia itu tergantung bagaimana ia dapat berbuat serta mengendalikan dirinya sendiri (Sewan Susanto, 1980 : 28).

1.      Ornamen Garuda
Burung garuda adalah sejenis burung rajawali raksasa yang gagah perkasa, di dalam mitos merupakan makhluk khayal yang ajaib. Di dalam ornamen motif kadang-kadang digambarkan bentuk badannya seperti manusia, kepalanya seperti burung raksasa, dan mempunyai sayap.
Garuda adalah suatu makhluk khayalan atau mitos yang melambangkan sifat perkasa dan sakti.Kadang-kadang digambarkan dengan bentuk dan badannya seperti manusia,kepalanya seperti burung raksasa dan bersayap. Garuda juga gambaran kendaraan Dewa Wisnu.Di dalam motif batik, ornamen garuda digambarkan sebagai bentuk stilir dari burung garuda, suatu bentuk burung yang perkasa seperti rajawali,tapi kadang-kadang juga distilirkan dengan burung merak. Bentuk ornamen burung garuda digambarkan beberapa macam,antara lain :
a.      Bentuk dengan dua sayap lengkap dengan ekor, seperti gambaran burung merak-ngigel yang dilihat dari depan. Bentuk semacam ini disebut pula  “sawat”.
b.      Bentuk garuda disusun dengan dua sayap. Bentuk semacam ini disebut pula “mirong”.
c.       Garuda digambarkan dengan satu sayap. Bentuk ini seolah-olah menggambarkan makhluk bersayap dari samping. Sebagai variasinya, pada pangkal sayap digambarkan kepala burung atau kepala burung raksasa atau bentuk yang lain. Bentuk sayap garuda dapat dibedakan atas dua macam, yaitu sayap terbuka dan sayap tertutup. Ornamen garuda dalam motif batik sangat terkenal, bahkan hampir menjadi ciri umum dan  khas batik Indonesia berornamen garuda (Sewan Susanto, 1973 : 265).

Dalam perkembangannya, ornamen garuda mengalami banyak perubahan dan sangat bervariasi. Seringkali dijumpai ornamennya bukan lagi sebagai bentuk garuda, tetapi lebih menyerupai bentuk-bentuk burung, binatang, atau tumbuhan yang lebih abstrak.

2.      Ornamen Meru
Meru merupakan gambaran gunung yang tampak dari sebelah samping, biasanya digambarkan tiga buah gunung yang dirangkai menjadi satu dan yang di tengah sebagai puncaknya. Ornamen meru juga digambarkan dalam bentuk yang bermacam-macam tergantung selera dan daerah pembatiknya. Kadang-kadang ornamen meru digabungkan dengan bentuk ornamen tumbuh-tumbuhan yang menjalar di bagian atas maupun di bawahnya, sehingga hampir-hampir tidak tampak lagi ornamen aslinya. Dapat juga berbentuk rangkaian tiga buah gunung dengan hiasan daun-daunan di puncaknya, atau hanya sebuah gunung dengan variasi di bagian sampingnya.
Dalam kebudayaan Jawa-Hindu, meru untuk melambangkan puncak gunung yang tinggi, tempat bersemayamnya para dewa. Pada motif batik, meru untuk menyimbolkan unsur tanah atau bumi dan menggambarkan proses hidup tumbuh di atas tanah, proses hidup tumbuh ini disebut “semi” (Jawa), dan hal yang menggambarkan semi disebut semen. Maka motif batik yang tersusun atas ornamen meru, timbuhan dan lain-lain disebut semen. Motif batik secara turun temurun atau tradisi memiliki arti, apabila para pembuat pola kurang memahami setiap ornamen, maka bentuk meru juga mengalami perubahan-perubahan. Antara lain bentuk meru yang digabung dengan bentuk tumbuhan (Sewan Susanto, 1973 : 261).

3.      Ornamen Lidah Api
Ornamen Lidah Api dalam motif batik biasanya digambarkan sebagai deretan nyala api. Ornamen ini kadang-kadang untuk hiasan pinggir atau batas antara bidang yang bermotif dengan bidang yang tidak bermotif. Ornamen Lidah Api juga disebut ornamen cemukiran atau modang. Bentuk lain bisa juga berupa deretan ujung lidah api dan diantaranya membentuk seperti blumbangan memanjang. Bentuk ornamen lidah api ditinjau dari makna simboliknya berarti kesaktian atau ambisi.

4.      Ornamen Ular atau Naga
Naga atau ular besar di dalam mitos, mempunyai kekuatan yang luar biasa dan sakti. Ornamen ini biasanya digambarkan dengan bentuk kepala raksasa yang aneh memakai mahkota, badannya berupa ular yang berkaki dan kadang-kadang bersayap. Bentuk lain berupa gambaran dua buah ornamen naga yang disusun berhadapan atau bertolak arah secara simetris. Ornamen naga juga merupakan bentuk-bentuk khayalan dan banyak dijumpai pada motif batik Semen.

5.      Ornamen Burung
            Ornamen burung ini selain berfungsi sebagai ornamen utama, juga dipakai sebagai pengisi bidang yang digambarkan seperti bentuk burung kecil-kecil. Ornamen burung yang utama bentuknya seperti burung merak berjengger dan sayapnya terbuka dengan bulu yang tidak bergelombang. Dalam agama Hindu, burung merak dikenal sebagai wahana dewa perang bernama Dewa Skanda dan Dewi Parwati. Banyak arca Dewa Skanda digambarkan menunggang burung merak. Seringkali orang keliru melihat arca Dewa Skanda itu mengendarai burung unta, setelah diteliti burung berjambul itu adalah lambang burung merak. Ragam hias burung merak sebagai lambang kesucian dan dunia atas. Biasanya burung merak dalam ragam hias pada batik ditampilkan dengan ekor yang mekar dengan bulu merapat satu sama lain (Hamzuri, 2000 : 156). Dapat juga berbentuk seperti burung phoenix dengan bulu ekor dan sayap panjang dan bergelombang, kadang-kadang terdapat bulu di kepala berbentuk jambul. Burung phonix hanya dikenal di Cina. Burung ini dipandang sebagai burung surga, juga sebagai lambang dunia atas atau langit. Bentuk lain berupa burung khayal dan aneh, misalnya : burung dengan kepala naga, burung berkepala dua dan mempunyai jengger atau bentuk burung yang badannya melingkar. Ornamen burung banyak terdapat pada motif batik Semen tradisional.

e.       Fungsi Batik
1.      Busana
Batik sebagai busana harian,resmi dan adat. Berbicara masalah busana adat, tidak akan lepas dengan batik. Menurut Melati Listyorini (Kedaulatan Rakyat,1 Mei 2002), busana adat kaya akan makna simbolik, berisi piwulang sinandhi dan kaya akan ajaran yang bernilai luhur. Ajaran dalam busana ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, baik dalam berhubungan dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, pencipta segala sesuatu  di muka bumi ini.
2.      Upacara adat/tradisi
Batik selalu ada dan dibutuhkan dalam kegiatan upacara adat/tradisi, misalnya tradisi pernikahan. Di dalam tradisi ini dibutuhkan motif batik yang sesuai dengan pandangan hidup masyarakat setempat terkandung harapan bagaimana hidup bahagia, sejahtera dan selamat di dunia dan akhirat.
3.         Interior
Interior yang menggunakan motif batik mempunyai pesona dan daya tarik yang banyak diminati, baik di rumah pribadi, kantor maupun hotel-hotel berbintang.
4.         Cenderamata
Berupa dompet, tas, kipas, pernik-pernik yang menjadi aset komoditas ekonomi dan pariwisata.
C. Candi
   Candi merupakan peninggalan budaya Hindhu dan Budha. Relief-relief yang dipahatkan pada arca-arca yang berdiri serta pola penempatan bangunan juga berorientasi pada budaya Hindhu dan Budha. Sebuah bangunan candi menarik bukan hanya disebabkan candi merupakan bangunan keagamaan, melainkan mengandung nilai estetis. Nilai ini dapat terlihat pada kehalusan serta keagungan seni yang terpancar dari bentuk bangunan serta relief-relief yang melekat atau terpahat pada bangunannya itu. Relief sebagai media visual memiliki beberapa fungsi, antara lain : sebagai ungkapan historis, filosofis dan edukatif. Fungsi historis dari suatu relief dapat ditunjukkan dengan penggambaran candra sengkala, angka tahun suatu pendirian bangunan,serta prasasti-prasasti. Fungsi filosofis suatu relief antara lain dapat ditunjukkan lewat penggambaran obyek-obyek yang secara keseluruhan memiliki makna filsafati yang dalam. Sedangkan fungsi edukatif ditunjukkan dari arti filosofis penggambaran relief yang berisikan tuntunan atau pendidikan moral bagi kehidupan  manusia.  Banyaknya hiasan yang terdapat pada bagian candi disesuaikan dengan tingkat ketertiban yang ada di alam semesta. Pada bagian kaki candi, merupakan simbol dari kehidupan alam nyata dipenuhi dengan bermacam-macam hiasan, tubuh candi yang merupakan gambaran dari kehidupan alam roh hanya terdapat sedikit hiasan, sedangkan pada atap candi yang merupakan simbol dari alam dewata  hanya terdapat satu macam hiasan, yaitu hiasan mahkota atau gentha.
Dalam bangunan candi, terdapat keindahan visual dan keindahan simbolik.
Keindahan visual terdapat pada :
1. Pengaturan tinggi rendah bangunan
2. Pengaturan hiasan bidang
3. Pengaturan hiasan konstruktif
4. Area-area yang diatur secara selaras dan harmonis

Keindahan Simbolik : 
         Berisi makna simbolik dari relief-relief yang berguna bagi kehidupan manusia ke arah kehidupan yang lebih baik.
          Ditinjau dari ukuran keindahan dalam estetika Hindhu, candi memenuhi ke enam unsur keindahan, yang disebut dengan istilah Sad-Angga. Ke enam unsur keindahan itu adalah :
1. Rupabedha, artinya perbedaan bentuk.
2. Sadresya, artinya kesamaan dalam hal penglihatan.
3. Pramana, artinya sesuai dengan ukuran yang tepat.
4. Warnikabhangga, artinya penguraian dan pembuatan perbedaan
     warna.
5. Bhawa, artinya keindahan daya pesona yang muncul  
             (Djelantik,1999: 195).

D. Seni Musik
Seni musik pada jaman dahulu lahir dengan hasrat orang pada waktu itu ingin memiliki bahasa khas, yang berlainan dengan bahasa tutur, untuk komunikasi dengan dunia supranatural, atau alam para arwah leluhur. Kata-kata ini tepat karena sebagai seni yang berlainan dari bahasa, musik ternyata mampu mengungkapkan pengalaman batin yang tak mungkin dideskripsikan. Musik mampu menuntun orang ke arah kebersamaan, atau komunikasi berbagai perasaan dan pengalaman hidup, sehingga dapat disebut sebagai suatu bentuk tingkah laku sosial dan mempersatukan kelompok lewat suatu cara simbolik dan dapat diingat-ingat, sehingga dapat diulang-ulang dan dirasakan bersama (Suhardjo Parto, 1983:11).
Menurut Ki Ageng Suryamentaram, seni musik mempunyai pengaruh untuk memperhalus budi pekerti manusia. Seni musik dapat dibedakan menjadi :
1.      Lagu-lagu rendah misalnya lagu yang berirama marah,dan jorok.
2.      Lagu-lagu sedang, misalnya lagu yang bernuansa gembira, susah dan ngelangut.
3.      Lagu-lagu luhur, yaitu lagu-lagu cinta alam, Tuhan dan hidup yang baik.

Musik tradisional di Indonesia sebagian besar alatnya dimainkan dengan dipukul (musik perkusi). Hanya beberapa alat saja yang cara memainkannya dengan ditiup.

E. Wayang
Wayang mempunyai fungsi sebagai tontonan dan tuntunan, yang di dalamnya terdapat "keindahan bentuk" dan "keindahan isi". Macam-macam wayang dianrtaranya :
a. wayang kulit/purwo
b. wayang golek
c.wayang klitik
d. wayang orang
e. wayang topeng
f.  wayang beber
g. wayang ukur

Wayang kulit dalam arti lahir sebagai tontonan, dapat menjadi wayang purwo dalam arti bathin, yang berisi tuntunan. Hal ini dibedakan karena fungsi kelir sebagai latar depan atau sebagai latar belakang.
Wayang kulit dalam artian lahir yaitu kulit yang diprada dengan warna-warni. Kelir merupakan tempat Dalang dan menjadi latar belakang boneka kulit yang warna-warni itu dan menjadi tontonan di siang hari serta penonton bebas berkomentar.
Wayang Purwa dalam artian bathin merupakan tontonan dan tuntunan. Kelir menjadi latar depan yang transparan dan menjadikan wayang kulit menjadi bayang-bayang kehidupan. Dalang dan wayang ada di balik kelir.Kelir diibaratkan sebagai hati nurani rakyat, yang perlu didengar dan ditanggapi secara positip.
Salah satu senjata yang ampuh dalam dunia pewayangan adalah :Layang Kalimasada merupakan Serat (tulisan) yang sakti dan disakralkan. Dalam lakon Baratayudha, Pandhawa yang memiliki layang Kalimasada (mungkin Kalimah Syahadat (dan disimpan di Udheng Prabu Darmo Kusumo.

F. Seni Tari
Hakekat seni tari adalah gerak, dan gerak itu ditempatkan   pada perspektif yang luas sebagai salah satu aspek kebudayaan.
Menurut John Martin, seorang ahli tari dari Amerika memberikan tekanan bahwa gerak betul-betul merupakan substansi baku dari tari (Soedarsono, 1972:2). Gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dan pengalaman emosional dari kehidupan manusia. Seni tari pada dasarnya merupakan ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan dalam gerak-gerak yang ritmis.
Kamaladevi, seorang ahli tari dari India berpendapat bahwa seni tari berlandaskan pada insting manusia, dan materi dasar dari tari adalah gerak dan ritme. Tari dapat dikatakan sebagai insting, suatu desakan emosi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berekspresi yaitu gerakan-gerakan luar yang ritmis dan lama-kelamaan nampak mengarah kepada bentuk-bentuk tertentu (Iyus Rusliana, 1986:10). Sedangkam menurut Soedarsono, ahli tari Indonesia, mendefinisikan tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah (Soedarsono, 1972:4). Dalam definisi ini, Soedarsono memakai gerak dan ritme sebagai substansi dasar, tetapi gerak-gerak itu bukanlah tari apabila gerak-gerak itu adalah gerak-gerak sehari-hari atau natural. Gerak-gerak ritmis itu distilir supaya indah.Istilah indah bukan hanya berarti bagus, tetapi dapat memberi kepuasan kepada orang lain. Lebih lanjut dijelaskan bahwa gerak-gerak ritmis yang indah itu merupakan pancaran jiwa manusia.

Di dalam tari Jawa, tari mempunyai tiga unsur pokok yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, yaitu :
1.      Wiraga, yakni keseluruhan gerak tubuh yang diperhalus dan diperindah ,sehingga merupakan bentukkan tari tertentu.
2.      Wirama, yakni wiraga tari tersebut diiringi suara gamelan atau musik dan tersusun menurut ragam irama lagu gendhing.
3.      Wirasa, artinya wiraga yang berirama dan mengandung arti, maksud dan rasa tertentu, yang diungkapkan secara simbolik atau perlambang.

Dilihat dari fungsinya, tari digolongkan menjadi :
1.      Tri upacara, misalnya tari Kecak, tari Bedhaya Ketawang
2.      Tari sosial/tari pergaulan, misalnya tari Poco-poco. 
3.      Tari tontonan, misalnya saja tari Gambyong.

Dilihat dari penggarapannya, tari dibedakan menjadi :
1.      Tari tradisonal, yaitu seni tari yang mempunyai sifat turun-temurun dan mempunyai sifat tetap.
2.      Tari klasik, yaitu seni tari yang sudah ada di puncak kesempurnaan dalam pola gerak seni tari tradisional.
3.      Tari kreasi baru, yaitu seni tari yang mempunyai sifat bebas dalam berkreasi dan memadukan gerak-gerak tari tradisional dan tari klasik dengan irama musik yang bebas pula.

G. Upacara Adat
     Di Indonesia adat di tiap-tiap daerah tidak sama. Hal ini disebabkan kebudayaan dan sifat-sifat dari tiap-tiap kelompok masyarakat tersebut berbeda-beda. Adat senantiasa tumbuh dari suatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat adat itu berlaku. Dalam hal ini tidak mungkin dibuat suatu adat yang baru, bila adat tersebut bertentangan dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Menurut FD. Hellman, adat di Indonesia mempunyai 4 sifat umum yang merupakan satu kesatuan,yaitu :
a)      Sifat religio magis (magisch-religiuos) yang merupakan pembulatan atau pembedaan kata yang mendukung unsur beberapa sifat atau cara berfikir seperti frelogika, animisme, ilmu gaib dan lain-lain.
b)      Sifat komun (commun) artinya sifat yang mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan sendiri.
c)      Sifat konstan (constant) yaitu prestasi dan kontraprestasi, dilakukan sekaligus bersama-sama pada waktu itu juga.
d)     Sifat-sifat konkret (visual). Pada umumnya masyarakat Indonesia kalau mengadakan (melakukan) perbuatan hukum itu selalu konkret (nyata)  (Imam Sudiyat, 1982:30-33).

Upacara adat mempunyai :
1.  Nilai estetis dan simbolis
2.  Berlatar belakang kepercayaan agama

Misalnya upacara adat pernikahan menurut agama Islam.Secara agama sahnya pernikahan adalah proses ijab-kabul.Secara adat,pesta walimahan tiap daerah dan suku bangsa mempunyai tradisi yang berbeda.Kegiatan ritual itu tujuannya semuanya sama ,yaitu agar nanti menjadi keluarga bahagia ,lahir dan bathin.

BAB IX
ESTETIKA TIMUR


A. Estetika India
    1. Natyasastra : 
Natyasastra merupakan karya sastra pertama tentang Estetika di India yang ditulis pada abad ke-VI oleh Bharata, yaitu merupakan kitab tentang pentas dan memandang seni drama sebagai seni yang bermutu tinggi.Disini diuraikan tentang , "rasa" lahir dari manunggalnya situasi yang ditampilkan bersama dengan reaksi dan keadaan batin para pelakunya yang senantiasa berubah (Agus Sachari,1989:27).
Rasa dalam bahasa Sanskerta dinamakan "bhava"yang jumlahnya menurut kitab Natyasastra  ada delapan yaitu emosi senang, kegembiraan, kesedihan, kemurkaan, kebulatan tekad, ketakutan, kebencian dan emosi kagum. Inilah delapan keadaan jiwa yang pokok dan baku, yang tertera dalam jiwa manusia dan sewaktu-waktu dapat tumbuh dan disadarinya. Kedelapan  bhava ini tidak selalu nampak dalam keadaan yang murni tetapi sering tercampur, saling berhubungan dan bersifat sementara.
Dalam estetika India masalah "rasa" juga dibahas oleh;    
a)      Batta Lollata (abad ke 9); "rasa",merupakan tingkat spiritual,yang ditingkatkan sampai ketitik   puncak tertinggi ,yang sebanding dengan situasi yang direpretansentasikan,reaksi-reaksi siaktor dan lain-lain.
b)      Sankuka; "rasa bukanlah tingkat spiritual yang ditingkatkan ketitik puncak tertinggi, tetapi "rasa" adalah suatu duplikasi dari suatu tingkat spiritual ,yang ditarik oleh penonton dari pertunjukan itu, dari tingkah laku si aktor, dan selanjutnya.pengertian tentang imitasi keadaan spirituil yang dinamakan sebagai "rasa"oleh penonton, bagi Sankuka adalah lain dari semua bentuk kesadaran. Seekor kuda yang diimitasi oleh seorangpelukis kataya, bagi yang melihatnya tampak bukan asli dan bukan palsu, sekedar sebagai image, dan setiap penilaian baik tentang realitasnya atau tentang tidak realitasnya, sama sekali tidak dapat diterima.
c)      Batta Nayaka, "rasa"bukannnya berada pada intensifikasi atau imitasi keadaan spiritual, ia tumbuh dari kenyataan, bahwa di dalam pengalaman-pengalaman estetika, realita tidak dipandang ada hubungannya dengan segala bentuk dari ego, tetapi telah di "awamkan" dengan kata lain, drama yang dipergelarkan atau puisi yang sedang di deklamasikan, mempunyayi kemampuan untukmembangkitkan didalam diri penonton, dalam satu saat tertentu , sesuatu yang melampaui egonya sendiri atau melampaui perhatian-perhatian praktisnya yang didalam kehidupan sehari-hari disebut dengan "suatu lapisan tebal dari kebabalan mental" dari yang membatasi dan meredepkan kesadarannya.

     2. Silpa sastra : 
Pedoman seniman dalam berkarya. Karya sastra dinilai berkualitas dan indah apabila mematuhi aturan yang ada dalam silpa sastra.
Kecintaan terhadap alam merupakan unsur yang memberikan inspirasi bagi seniman untuk berkarya .Seniman dalam menciptakan hasil karya seninya ,bersifat naturalis dan bernuansa religi, yang tidak realistis, yang menggambarkan bentuk kesempurnaan dari bentuk alam.
Misalnya  :  Dewa Durga mempunyai 10 tangan.
                 :  Dewa Siwa mempunyai 4 kepala.

Pengalaman Estetis
Menurut Sankuka yang hidup pada abad ke 10, berpendapat bahwa pengalaman estetis berada di luar bidang kebenaran dan ketidak benaran. Pendapat ini jika dibandingkan dengan pemikiran estetika di Barat, mirip dengan pendapat Immanuel Kant. Pendapat Sankuka ini dikritik oleh Abhinavagupta, yang menyatakan bahwa bila hidup nyata ditiru, efeknya bukan kenikmatan estetik, tetapi suatu kelucuan belaka.
Bhatta Nayaka berpendapat bahwa pengalam estetik adalah semacam jatuhnya wahyu, artinya bahwa dengan menerima wahyu berarti kebekuan rohani kita tersingkirkan, sehingga kita dapat melihat kenyataan dengan suatu cakrawala yang meluas. Menurut Nayaka, hakekat rasa bukanlah menirunya, melainkan melepaskan kenyataan dari keterikatan ego seseorang dan menjadikannya pengalaman umum. Lewat penglaman estetika rasa yang diwahyukan itu bukan persepsi  akal budi, melainkan suatu pengalaman yang penuh kebahagiaan, akhirnya kesadaran pribadi melenyap, maka ia akan sampai pada Brahma Tertinggi (Agus Sachari,1989:29).

Menurut teori Sankkya, seniman harus dapat : 
1).  Mencipta kemiripan/ekspresi
2).  Mengekspresikan jiwa manusia yang menjadi idealnya
Tugas seorang seniman harus dapat mengungkapkan ekspresi kejiwaan.

B. Estetika Tiongkok
Estetika Tiongkok dilandasi oleh kepercayaan :  Taoisme, Budhisme, dan Konfusianisme. Dalam kepercayaan Taoisme mengajarkan hubungan antara manusia dan alam semesta. Budhisme mengajarkan bagaimana hubungan antara  manusia dengan yang mutlak, dan Konfusianisme mengajarkan hubungan antara manusia dengan masyarakat. Berdasarkan kepercayaan ini konsep estetika Tiongkok bersifat naturalisme. Segala sesuatu harus bercermin pada alam, termasuk hukum-hukumnya.

Tao  :  prinsip absolut yang menjadi sumber semua nilai-nilai dan kehidupan. Tao berarti sinar terang dan sumber segala yang sensasional. Manusia dianggap sempurna jika hidupnya diterangi oleh Tao. Tao adalah kemutlakkan , sesuatu yang memberikan keberadaan, kehidupan dan gerak serta membuat sesuatu serba tertib dan damai (Agus Sachari,1989:21).

Seniman 
Seniman harus dapat menangkap Tao (roh yang tersembunyi di dalamnya) dan menampilkannya lewat karya seni. Untuk dapat menampilkan karya seni yang baik, inderanya harus disucikan.
Menurut Hsieh Ho, yang hidup di akhir abad ke-V Masehi, ada 6 prinsip dasar bagi seniman.
1.      Dapat menangkap gema spiritual dalam barang-barang dan menampilkan hidup dan geraknya dalam karya-karyanya.
2.      Seniman harus dapat menangkap ch'I (ekspresi gerak hidup).
3.      Menempatkan "alam nyata" sebagai titik pangkal.
4.      Keselarasan dalam warna-warna.
5.      Perencanaan matang dalam pembuatan karya seni.
6.      Meneruskan pengalaman seniman kepada si pengamat dalam rangka pendidikan dan penerusan nilai-nilai budaya (Dick Hartoko, 1984: 73-75)

Para seniman tradisional di Cina (Tiongkok) kebanyakan pelukis dan sastrawan. Ia mempunyai kedudukan dan kewibawaan yang besar di masyarakat dan berdaulat penuh terhadap hasil karya seninya. Ia juga mengembangkan seni kaligrafi kearah seni lukis dengan rasa cinta terhadap alam. Unsur-unsur utama estetika cina dalam seni rupa adalah:
1.      kebebasan dan kedaulatan. Tidak tergantung dari kemauan atau selera orang lain, selera pemesan.
2.      Perfeksi (penyempurnaan wujud). Bakat dan tenaga sepenuhnya diarahkan kepada hasil pekerjaan yang sesempurna mungkin.
3.      Cinta alam. Selalu diusahakan agar jiwa seniman bersatu dengan alam dilingkungannya dalam rasa cinta yang intensif.

     Keramik di jaman dinasti Han terbuat dari jenis tanah kaolin, yang berbentuk:
1.      Bejana  : sebagai tempat untuk abu jenazah,air suci dan ada yang khusus untuk hiasan                           
2.      Kaligrafi Cina  :  merupakan seni nasional pada dinasti Chou. Pada jaman ini keramik menjadi berkurang nilai religiusnya. Pada jaman dinasti Ch'ng, pada abad ke-XVII seni merupakan bagian hidup manusia, tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kejiwaan, dinamisme kreatif yang memanivestasikan keaktifan-keaktifan tidak permanen dari Tao.

Seni lukis, ukiran, sastra, sulam menyulam, arsitektur tradisional, merupakan bagian hidup para biarawan, seniman dan bangsawan.
Etika dan estetika selalu berkaitan dan merupakan subyek dari peraturan-peraturan konstan dalam kehidupan yang bersifat alami. Dalam tahun 1924, Kaisar Ts'ai Yuan Pei (1867-1940) didalam bukunya berjudul "Elemen Filsafat" (Chih Hsuah Kangyao) , menyodorkan sebuah teori tentang seni sebagai suatu substitusi agama. Pertanyaannya, apakah tak mungkin bagi seseorang yang telah menyingkirkan diri dari agama, pada akhirnya dia akan menemukan suatu kenikmatan hidup dari kesenangan kepada keindahan? Pertanyaan ini dijawab oleh Hsú Ching-yu, dalam bukunya yang berjudul "Filsafat tentang yang indah" ( Mei-ti chih- hsueh).
Menurut Fung Tung Sien, memandang seni sebagai jiwa manusia hidup dan sebagai manivestasi kemajuan manusia menuju dunia yang lebih sempurna, lebih baik dan  lebih indah. 
Jadi pemikiran-pemikiran estetika cina dari dulu sampai saat ini tetap tunduk dan taan kepada ide-ide kuno yang meminta kepada seni untuk merefleksikan transendentasi jiwa dan mengungkapkan tuntutan-tuntutan yang lebih tinggi dari jiwa (Abdul Kadir, 1974: 43-44)

CEstetika Jepang
Konsep estetika Jepang adalah merupakan perpaduan antara tradisi, kepercayaan dan alam. Ketiga hal ini hidup, tumbuh dan berkembang sejak zaman dahulu sampai sekarang. Titik tolak estetika Jepang adalah alam. Mereka mempunyai keyakinan bahwa fenomena-fenomena alam sehari-hari seperti matahati, bulan, gunung, air terjun dan pepohonan diyakini mempunyai roh atau "kami". Alam merupakan tempat para pendekar menimba semangat perang dan alam pulalah yang menginspirasikan seseorang untuk memperoleh semangat dan makna hidup. Agama/kepercayaan di Jepang adalah Shinto dan Budha yang mengajarkan agar manusia dekat dengan alam. Menurut kepecayaan Shinto, alam ini dianggap penuh dengan roh nenek moyang, sehingga ada suatu kewajiban untuk memelihara kelestarian dan keselarasan dengan alam. Hal ini dibuktikan dengan kecintaan yang dalam pada alam dan pemahaman akan perubahan pada gejala musim yang selalu berganti. Kebudayaan menikmati alam dikenal dengan nama "furyu" . Mereka yang tidak mempunyai naluri furyu digolongkan sebagai orang yang sangat tidak berbudaya. Naluri ini tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga mengandung makna religius.
Kepercayaan Budha berkembang di Jepang dengan ciri yang khusus, dikenal dengan kepercayaan Zen Budha. Zen Budha ini menghasilkan suatu adat istiadat (tradisi) Jepang yang khusus yaitu "upacara minum teh" dan dianggap sakral, sejajar dengan upacara keagamaan. Pengaruh Budhisme yang lain adalah "ketidaksimetrisan" yang  menjadi unsur yang memberi guratan dalam estetika Jepang . Seniman Jepang secara naluri tidak menyukai simetris yang itu-itu saja dan sedapat mungkin menghindari keteraturan. Simetri dipandang menimbulkan kejenuhan dan kekakuan. Oleh karena itu seniman Jepang menembusnya dengan gaya konvensional yang dapat menerobos kekakuan dengan sentuhan warna yang lembut dan halus. Pengaruh Zen Budha dalam bidang militer memungkinkan tinbulnya kelompok baru yang dinamai "Samurai", dengan semangat Bushido. Golongan Samurai ini dilambangkan sebagai bunga Sakura (bunga yang dianggap terindah di Jepang) yang rela mati untuk mengabdi pada raja ( tuannya) walaupun di usia muda.

Hasil karya seni di Jepang bersifat naturalis (mencotoh alam), karena itu bangsa Jepang ingin selalu dekat, hidup selaras dan serasi dengan alam.
Konsep estetika dalam kehampaan dan asimitris:
1.      Kehampaan (kekosongan)
konsep estetika di Jepang dapat dilihat dari sudut perbandingan Barat dan Timur mengenai kehampaan. Salah satu dasar pemikiran Barat ialah bahwa yang kosong  (hampa) dianggap tidak menarik.  Hanya yang "berisi' atau "penuh' yang menarik. Kehampaan (kekosongan) dianggap bisa menampilkan sesuatu. Kekosongan itu dapat diisi informasi yang lain, dan mungkin lebih dari itu, tidak hanya sekedar informasi. Kekosongan (kehampaan) bersifat positif dan dinamis.
Estetika Timur bagaimanapun juga menganggap bahwa keindahan itu mempunyai arti memiliki sesuatu yang menarik perhatian. Misalnya dalam hal merangkai bunga Ikebana, ruang kosong diantara tangkai-tangkai atau rantin-ranting mempertegas ruang dari tangkai atau ranting yang terisi. Hal demikian itu, merupakan kombinasi atau gabungan yang terisi penuh dan kosong atau hampa yang akan menciptakan pengalaman estetis. Seni merangkai bungan Ikebana merupakan simbolisasi hubungan antara Ten, Chi dan Jin (alam, bumi dan manusia) yang harmonis.

2.      Asimitris
Asimitris menjadi unsur yang menjadi guratan mendalam dalam estetika Jepang, hasil pengaruh dari Budhisme. Dalam kuil-kuil Budha yang terdiri dari beberapa bangunan atau wisma dapat ditari sebuah garis lurus antara wisma Dharma, wisma Budha, dan Pintu Gerbang, yang biasa diistilahkan dengan Gerbang Gunung, dan di sekitar tiga bangunan itu ada beberapa bangunan yang tidak diatur secara asimetris. Asimetris juga terdapat dalam ruangan tempat upacara minum teh berlangsung dan dalam taman yang nyata dalam batu-batuan untuk jalan setapak (Muji Sutrisno dan Chist Verhaak, 1993)
Seniman Jepang secara naluri tidak menyukai simetris dan sedapat mungkin menghindari keteraturan. Simetris dipandang menimbulkan kejunehan dan kekakuan. Oleh karena itu, seniman menmbusnya dengan gaya konvensional (asimetris)  yang dianggap dapat menerobos kekakuan.
Masuknya aliran Zen dari Budhisme ke Jepang pada akhir abad ke-11 terjadi perubahan-perubahan sesuai dengan kepribadian masyarakat setempat. Zennisme yang lebih cocok dengan kepribadian rakyat Jepang membangkitkan kecenderungan masyarakat kembali ke agama aslinya, yakni Shinto. Pada tahun 1868, Shinto dijadikan agama resmi Jepang. Tanpa meninggalkan Budhisme, kebudayaan Jepang menjadi perkawinan antara agama Buda dan Shinto disebut "Ryobo-Shinto" yang mengandung pengaruh besar dari aliran Zen. Berdasarkan Sintese ini berkembanglah esteika Jepang yang sampai dengan masa industrialisasi modern masih sangat menonjolkan ciri khasnya, yaitu:

a)      Kesederhanaan (pengaruh Budha). Perwujudan agar sepolos mungkin, tidak banyak perhiasan. Kepribadian Jepang mencar kesungguhan dan kebenaran dengan kehidupan dalam kesederhanaan.
b)      Disiplin yang keras pada dirinya sendiri (pengaruh Shinto). Disiplin yang sangat menonjol dalam kehidupansehari-hari, menyerap dalam perwujudan kesenian, hingga merupakan unsur estetik yang khas Jepang yait disiplin dalam goresan dan disiplin dalam kesederhanaan.
c)      Logika. Semua perwujudan seni harus memenuuhi syarat penggunaan yang praktis. Sebagai akibat dari unsur logika ini, Jepang menjadi unggul dalam "industrial design" modern dalam masa kini. Mereka erhasil mewujudkan seni, juga dalam bentuk-bentuk mesin, mobil, kereta api, pesawat terbangm alat televisi, telepon, radio dan komputer.
d)     Hemat Ruang. Keterbatasan ruang dalam kehidupan sehari-hari memaksa mereka menggunakan sedikit mungkin ruang. Kebiasaan ini menjadi unsur kebudayaan tersendiri yang meresap kedalam konsep estetika mereka (Djelantik, 1999: 199-200)/

D. Estetika Mesir
Kepercayaan bangsa Mesir pada dewa-dewa, telah dikenal semenjak jaman "Mina", yaitu kepala keluarga Fir'aun yang pertama, kira-kira sekirat tahun 3300 sebelum masehi. Dewa-dewa cosmos itu, hidup subur dalam alam kepecayaan bangsa Mesir, memberi bentuk dan corak yang tertentu dalam pertumbuhan kebudayaan mereka. Sekalipun pada masa keruntuhan kerajaan Mesir, bangsa Persi telah datang menaklukkan lembah Nil dan kemudian berpindah tangan pada bangsa Romawi, namun kepercayaan kepada dewa-dewa itu masih tetap merupkan satu-satunanya agama resmi dari bangsa mesir. Dalam abad ke 2 dan 3 masehi, agama nasrani telah meluan dalam lingkungan keluarga kerajaan. Sudah banyak orang yang memeluk agam aitu namun bangsa mesir masih tetap dengan kepercayaab mereka, walaupn mereka di bawah jajahan bangsa romawi. Bangsa Mesir kono semenjak jaman pra sejarah sudah mengenal dan memuja dewa alam. Diantara dewa-dewa yang terbesar dan pernah mempunyai kedudukan yang tertinggi dalam kepercayaan rakyat adalah Dewa Ra atau Re dan Dewa Osiris.

Kesenian di Mesir mempunyai dua bentuk, yaitu :
1.      Seni hieratis, yaitu seni yang berdasarkan pada kepercayaan yang bersifat religius.
2.      Seni rakyat, yaitu seni yang berdasarkan kerajinan.
Kedua jenis seni itu bisa hidup secara berdampingan.

Seni arsitektur mempunyai tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat dan kehidupan religius, hal ini nampak dalam bangunan :
a)      Makam  : dengan bentuk mastaba (pola geometris),untuk tempat jenasah,dan juga tempat untuk menyimpan              harta kekayaan.                 
b)      Kuil/candi :  kuil makam, misalnya Ratu Hatshepsut, Kuil dewa, misalnya Amon di Karnak, di tepi sungai Nil.
c)      Piramida : merupakan lambang kebesaran seni Mesir purbakala yang sampai sekarang masih tetap dikagumi, karena bentuknya yang sangat besar .Bentuk bangun segi  banyak piramid dipandang sebagai bentuk bangun segi banyak yang unik dan dianggap sakral.

Dalam bidang seni pahat/seni patung : 
a)      Patung potret wajah Tutabkhamon (berlapis emas)
b)      Ratu Nefretete (arca sedada), merupakan lambang kecantikan timur.

Sphinx  ;  manusia singa.
Seni relief  :  Fir'aun diperlihatkan sebagai raksasa yang ada diantara orang-orang yang dipahat sangat kecil.
Tari perut merupakan seni tari  yang sangat terkenal dan berasal dari Mesir. Dalam bidang seni lukis, pewarnaan dengan menggunakan lilin (pernis bening) sudah digunakan pada jaman Mesir kuno, yang mempunyai kualitas tahan lama.
    
Keagungan seni Mesir ada pada mutu kelanggengan seni itu sendiri,terdapat pada :
1). Simetri, misalnya pada Mastaba.
2). Ukuran raksasa/keagungan, misalnya pada Piramida.
3) Kerumitan, ada pada patung-patung.
4). Keindahan, terdapat pada relief, lukisan dan seni tari.

E. Estetika Islam
 Ada persepsi bahwa menikmati keindahan itu akan merusak keimanan atau menyebabkan terperosok terhadap kesombongan yang dibenci Allah dan seluruh manusia. Hal ini tidak benar karena di dalam sebuah hadist, Ibnnu Mas'ud meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : "innallaaha jamiilun yyuhibbul jamaal, yang artinya sesungguhnya Allah Maha Indah dan Dia menyukai keindahan". Keindahan yang sempurna hanya ada pada Allah. 
Sudut pandang Islam Ortodok ,terutama yang bersandar kepada mistik, tercermin pada pandangan Al-Qhazzali dalam buku Kimiya-i Sa'adat (Kimiyatus sa'adah = uraian tentang kebahagiaan) yang ditulisnya sekitar tahun 1106. Menurut al-Ghazzali, keindahan sesuatu benda terletak di dalam perwujudan dari kesempurnaan, yang dapat dikenalai kembali dan sesuai dengan sifat benda itu. Bagi al-Ghazalli "jiwa" (roh) , spirit, jantung, pemikiran, cahaya yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam (inner world), yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama. Konsep tentang pengertian hakiki ini memberikan suatu segi pemandangan baru atas keindahan dan seni, yang dapat memuaskan hati. Sebuah lukisan atau bangunan yang indah juga mengungkapkan tentang keindahan hakiki pada diri si pelukis atau arsitekya. Keindahan hakiki ini terkandung dalam tiga prinsip:
1.      Pengetahuan : pengetahuan yang sempurna hanya ada pada Tuhan
2.      Kekuatan :  yaitu kekuatan untuk membawa diri sendiri dan orang lain kepada kehidupan yang lebih baik.   
3.      Kemampuan :  yaitu kemampuan untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan ketidak- mampuan.

Karena pengetahuan, kekuatan dan kemampuan untuk menyingkirkan kesalahan yang absolut hanya pada Tuhan, dan karena sifat-sifat demikian itu ada pada manusia dengan ukuran manusiawi dan juga berasal dari Tuhan, maka berikutnya adalah : cinta pada manifestasi tentang keindahan hakiki yang disuguhkan oleh seniman (artis) yang sempurna, akan membawa manusia kepada Tuhan (Abdul Kadir, 1974:56).

Hubungan antara Islam, Seni dan Seniman
Islam dan seni tidak ada hubungan. Islam sebagai agama adalah tata hubungan manusia dengan Tuhan dalam beribadat yang diperlukan kekhusyukkan dan takwa. Seni merupakan bidang kebudayaan. Agama dan kebudayaan, membentuk din Islam. Jadi, meskipun seni tidak masuk agama islam, namun ia tetap bagian dalam diin Islam, karena ia merupakan bidang kebudayaan Islam.
Bagi Islam, seni dan moral berjalan sejajar. Seni itu halal sejauh mengandung nilai moral religius dan haram bila mendatangkan nilai mudhorot. Seni yang baik, seperti halnya rejeki maka manusia wajib menikmatinya. Lewat seni yang diajarkan oleh Islam, manusia dapat mengambil hikmahnya karena di dalam seni Islam terkandung ajaran bagaimana manusia itu harus bertingkah laku yang baik dan mensyukuri karunia Allah untuk lebih dekat dengan-Nya.
Islam tidak menganut paham "seni untuk seni", tetapi seni untuk mengabdi kepada agama. Hal ini nampak dalam hasil karya seni yang  bernafaskan Islam, seperti halnya kaligrafi, seni musik dan arsitektur. Contohnya di dalam seni arsitektur masjid. Masjid dibangun untuk tempat beribadah. Masjid tidak hanya indah , misalnya dengan permadani yang tebal,mimbar yang bagus, cat yang selaras, tulisan ayat-ayat suci al-Qur'an yang indah pada dinding dan tiang masjid. Memperindah masjid dikehendaki, tetapi tidak memegahkannya, masjid tidak kenal perabot, dindingnya tidak digantungi dengan gambar atau lukisan.Seni patung/pahat yang menggunakan objek makluk bernyawa tidak dibenarkan oleh agama Islam. Bermegah-megah dengan masjid dilarang, karena hal itu melewati batas.
  
Seniman
Tugas dari seniman adalah untuk dapat membawa atau mendekatkan manusia kepada Tuhan lewat hasil karya seninya. Bagi Islam, seniman yang baik adalah seniman yang mampu menyuguhkan keindahan sebagai karunia Allah, yang akan mengantarkan untuk lebih dekat dengan Tuhan-Nya.
BAB X
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir, 1974, Diktat Estetika Timur (terjemahan dari Enciklopedia of the World Art) ASRI, Yogyakarta

Abdul Kadir, 1974, Diktat Estetika Barat (terjemahan dari Enciklopedia of the World Art) ASRI, Yogyakarta

Abdul Kadir, 1975, Pengantar Estetika (terjemahan dari Enciklopedia of the World Art) ASRI, Yogyakarta

Agus Sachari, 1989, Estetika Terapan, NOVA, Bandung

Amri Yahya, 1971, Seni Lukis Batik sebagai Sarana Peningkatan Apresiasi Seni Lukis Kontemporer, IKIP, Yogyakarta

Beardley, Manroe, 1967, Aesthetic Inquiry : Essayon Art Critism and The Philosophy of Art, Belmountm California

Budhy Raharja,J, 1986, Seni Rupa, C.V. Irama Bandung

Cassirer Ernts, 1987, Manusia dan Kebudayaan, Sebuah Isei tenta Manusia. Alih Bahasa Alois A. Nugroho, PT. Gramedia, Jakarta

Dick Hartaka, 1984, Manusia dan Seni, Yayasan Kanisius, Yogyakarta

Dickie, George T, 1973, Aesthetics, The Encyclopedia Americana, Vol. I, Americans Corortion, New York

Djelantik, 1999, Estetika, Sebuah Pengantar, Masyarakat seni Pertunjukkan Indonesia, Bandung

Francis J. Kovack, 1974, Philosophy of Beauty, The University of Oklahoma Press, Norman

Frondizi, Risieri, 2001, Pengantar Filsafat Nilai, Pustaka Belajar,Yogyakarta

Hamsuri, 1994, Batik Klasik (Classical Batik), Djambatan, Jakarta

Hassan Shadily, 1980, Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru, Van Hoeve, Jakarta

Herbert Read, 1954, The Philosophy of Modern Art, The World Publishing
Company, Cleveland and New York

Humar Sahman, 1993, Estetika, Telaah Sistemik dan Historik, IKIP Semarang,Press, Semarang

Imam Sudiyat, 1981, Hukum Adat, Liberty, Yogyakarta

Iyus Rusliana, B.A, 1986, Pendidikan Seni Tari, Angkasa, Bandung

Jacobus, LA, 1968, Aesthetick and Art, Mc Crow Hill Book Company (Inv), New York

Kattsoff, LO, 1986, Pengantar Filsafat (terjemahan), Tiara Wacana, Yogyakarta

Koeswadji K, 1981, Mengenal Seni Batik di Yogyakarta, Proyek Pengembangan Perindustrian, Yogyakarta

Loren Bagus, 1991, Metafisika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Mari S. Condronegoro, 1995, Budaya Adat kraton Yogyakarta Makna dan Fungsi dalam Berbagai Wacana, Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta

Mudji Sutrisno, Chist Verhaak, 1993, Estetika Filasafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta

Nian S. Djumena, 1986, Ungkapan Sehelai Batik, Djambatan, Jakarta, 1990, Batik dan Mitra, Djambatan, Jakarta

Nooryan Bahari, 2008, Kritik Seni, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Parmono R, 1985, Menggali Unsur-unsur Filsafat Indonesia, Andi Offset,Yogyakarta

Sewan Susanto, 1973, Seni Kerajinan Batik Indonesia, Departemen Pendidikan RI, Jakarta

Soedarso SP,1987, Tinjauan Seni, Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni, Saku Dayan Sama, Yogyakarta

Soedarsono, RM.,1972, Djawa dan Bali : Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia, Akademi Seni rupa Indonesia, Yogyakarta

Suhardjo Parta, 1983, Pathet-pathet dalam Gamelan Jawa, Prinsip-prinsip Pembentukannya, Latar Belakang dan Alasannya, AMI, Yogyakarta

Suyadi, M.P. Drs.,1985, Manusia dan Keindahan dalam Ilmu Budaya Dasar Modul 1-3, Universitas Terbuka, Departemen P&K

Susane K. Langer, 1953, Feeling and form, A theory of Art Develped from Philosophy in a New key, Charles Scribner's Sons, New York

The Liang Gie, 1976, Garis Besar estetika (Filsafat Keindahan), Karya        Kencana, Yogyakarta
           …........, 1996, Filsafat Seni, Sebuah Pengantar, Pusat Belajar Ilmu Berguna
(PUBIB) Yogyakarta
          ……......, 1996, Filsafat Keindahan, Pusat Belajar Ilmu berguna (PUBIB)
Yogyakarta

Wadjiz Anwar, L.Th., 1980, Filsafat Estetika, Nur Cahaya, Yogyakarta

Wiryomartono Bagoes P, 2001, Seni dan Keindahan dari Plato, sampai       Derrida, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta