• Jingga Senja

    Life is a struggle and keep it by your self.

  • Jingga Senja 2

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

  • Jingga Senja 3

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words.

Kamis, 28 Agustus 2014

Pengusaha Sukses Indonesia Dibidang Kuliner

Nurul Atik  pemilik resto California Fried Chicken (CFC)


Bekerja sebagai cleaning service merupakan awal mimpinya untuk hidup mandiri dan dapat membiayai kuliah. Namun, karena kesibukannya bekerja sebagai cleaning service di restoran cepat saji tersebut, Nurul Atik harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk melanjutkan pendidikannya. Ia malah membangun sendiri usaha makanan cepat saji yang kini sukses.

Anda pasti pernah mendengar ungkapan: “Orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.” Ungkapan ini mungkin cocok disematkan bagi seorang Nurul Atik. Pria asal Jepara ini menapaki kesuksesan dari jalan berliku.

Mantan cleaning service ini sekarang memiliki Rocket Chicken, perusahaan waralaba di bidang makanan cepat saji. Kini, ia memiliki 83 mitra di seluruh Indonesia. Ia mendapat pembayaran biaya royalti hingga Rp 100 juta dari para mitra.

Sebelum menjadi Presiden Direktur Rocket Chicken, Nurul bekerja sebagai seorang cleaning service di California Fried Chicken (CFC) di Semarang, Jawa Tengah. Dari seorang tukang bersih-bersih resto cepat saji, kini dia menjadi bos resto cepat saji milik sendiri.

Selama tiga bulan, Nurul menjadi karyawan dengan status trainee. Gaji pertama Nurul sebagai cleaning service pada saat itu hanya Rp 35.000 per bulan. Ia harus membagi gaji itu untuk kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Dengan jumlah gaji yang pas-pasan tersebut, sering ia harus berutang pada rekan-rekannya di CFC.
Karena kinerjanya yang bagus, ia kemudian diangkat menjadi pegawai tetap. Selang tiga bulan berjalan, akhirnya Nurul diangkat menjadi tukang cuci piring selama empat bulan.
Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama empat bulan. Karena kinerjanya semakin hari semakin baik Nurul diangkat lagi menjadi kasir selama enam bulan. Tak hanya sampai di situ, Nurul lalu naik pangkat menjadi seorang supervisor selama satu tahun.
Nurul juga mengecap posisi sebagai asisten manajer selama dua tahun di perusahaan yang sama. Karena kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama tiga bulan. Tak memerlukan waktu yang lama, pria yang kini berusia 42 tahun ini mengecap posisi manajer areal selama dua tahun.
Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Yogyakarta.

Dengan kesibukannya bekerja di restoran cepat saji tersebut, Nurul mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. “Pada saat menjadi cleaning service, ternyata jam kerjanya shift sehingga saya tidak bisa membagi waktu antara kerja dan keinginan untuk kuliah,” tutur Nurul.

Namun, ia tak putus asa. Nurul mempunyai jurus jitu dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata. “Setiap melangkah kita harus memiliki niat yang kuat dan harus ditekuni,” tandas Nurul.
Untuk menghemat biaya hidup, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang dengan alasan pengiritan, ia memilih berjalan kaki sampai satu kilometer. “Kalau sudah lelah, saya baru naik angkot,” ujarnya mengenang.

Kamar kos Nurul juga tak kalah memprihatinkan. Dengan luas 3X3 meter, kamar sewaan itu tak dilengkapi dengan kasur dan perabot lainnya. Kondisi seperti itu dilakoni Nurul kurang lebih selama lima bulan, sampai ia mendapat mess dari kantornya.Buka usahaSeiring karier yang terus menanjak serta kondisi ekonomi yang terus membaik, pada usia 29 tahun, Nurul pun memutuskan menikah dengan Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta yang baru dipacarinya dua bulan. “Saat itu, saya sudah menjadi manager di CFC Yogya,” ujar Nurul.

Meski begitu, gaji yang diterima Nurul tak mampu memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Apalagi menyusul kemudian pasangan Nurul dan Emy dikarunia momongan. Makanya, setelah melahirkan anak pertama mereka, Emy membantu perekonomian keluarga dengan membuka usaha roti.

Meski posisinya cukup baik di tempat kerjanya, keinginan Nurul untuk membuka usaha sendiri rupanya tak pernah padam. Puncaknya terjadi ketika krisis keuangan melanda Tanah Air tahun 1998, Nurul memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri.Nurul merasa waktu 10 tahun bekerja sudah cukup untuk berguru di restoran cepat saji Amerika Serikat itu. “Saya mantap keluar karena ingin mandiri,” ujarnya.Pada saat yang sama, seorang kawan mengajak Nurul membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng (fried chicken). Ide tersebut muncul karena pada waktu itu membuka restoran cepat saji atau fast food menjadi tren di kalangan masyarakat.

Berbekal pengalamannya, Nurul mantap menerima ajakan temannya. Ia kemudian bertindak sebagai pengembang bisnis, sementara temannya mengurusi permodalan. Usaha keras mereka membawa hasil. Bisnis mereka cepat mengembang. Saat ini, Nurul telah memiliki 86 cabang.

Seiring berjalannya waktu, lelaki kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini kembali merasa gelisah. Ia tergelitik mengibarkan bendera usaha dengan membuat restoran fried chicken sendiri. Kali ini dengan potensi pasar yang berbeda dengan usaha sebelumnya yang menyasar pasar menengah atas.

Pilihannya jatuh ke pasar menengah bawah. Selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran fast food lokal maupun asing. Pada 21 Februari 2010, Nurul lantas mendirikan usaha sendiri dengan nama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Perkembangan bisnisnya ini di luar perkiraan Nurul. Antusias masyarakat menyambut bisnis makanan cepat sajinya sangat cujup menggembirakan. Baru setahun berjalan, Nurul memiliki 83 mitra. Dengan sistem waralaba, Nurul mengembangkan bisnisnya tampa mengeluarkan modal uang sepeser pun. “Semuanya hanya didasarkan pada kepercayaan saja,” ujarnya.

Beruntung, kebanyakan mitranya adalah orang-orang yang mengenal dan tahu sosok Nurul yang telah berpengalaman dalam bisnis ayam krispi ini. “Saya cuma jual nama saja, outlet awalnya tak punya,” tandas Nurul.
Bersama mitranya, ayah tiga anak ini hanya menekankan agar menjalankan bisnis dengan kerja keras, tekun serta jujur. Bila itu menjadi landasan, Nurul yakni bahwa usaha mereka akan membawa amanah. Tak cuma bagi karyawan, tapi juga pemilik usaha franchise ayam krispi Rocket Chicken.

HENDY SETIYONO PENGUSAHA KEBAB

Hendy Setiono, pendiri perusahaan waralaba Kebab Turki Baba Rafi. franchisenya tidak hanya diakui di indonesia, tapi juga di mancanegara. pemuda asal surabaya ini punya keyakinan sukses yang luar biasa.dengan pakaian yang sederhana beginilah penampilan sehari-hari seorang Hendy Setiono, Presiden dirtur Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga.2011, Kebab Turki Baba Rafi siap merajai bisnis makanan cepat saji ala timur tengah, dengan target penambahan gerai di beberapa negara Asia Tenggara. Setelah sukses melebarkan sayap ke Malaysia dengan secara resmi PT. Baba Rafi Indonesia terdaftar sebagai anggota Malaysian Franchise Association, maka target selanjutnya adalah menaklukkan Negeri Gajah Putih, Thailand. Selain karena negerinya yang terkenal dengan pariwisata tradisional, karakteristik penduduknya justru menjadi alasan yang membuat KTBR tertantang untuk membuat mainstream baru dengan makanan cepat saji ala timur tengah.
Target dalam negeri tentu saja fokus pada maintaining 700 outlet yang telah beroperasi. Di Nusantara KTBR masih sejumlah 600 outlet, inilah alasan kami untuk tetap pada “sales!, sales! dan sales!” . masih terbuka banyak peluang pasar yang dapat dibidik dan diciptakan. Oleh karenanya di 2011 angka 1001 outlet akan ditembus baik di Malaysia maupun Indonesia.Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan. Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan. Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari.Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya. September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya. Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.” Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan  Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya.
Rangga-Umara pengusaha Pecel Lele
            Sebelum diberhentikan dari posisi manajerial di sebuah perusahaan, Rangga Umara (31) memilih dijual lele pecel di pinggir jalan. Kekurangan modal untuk membuatnya menjadi renternir utang. Bagaimana jatuh-bangun membangun bisnis Rangga RM Pecel Lele Lela? Ayo, lihat cerita.“Selamat pagi!” Jadi ucapan khas di Lela Lele RM, setelah Anda masuk ke sana. Tidak peduli Anda datang pada, pagi siang, siang, atau malam, masih disambut dengan salam, “Selamat pagi!”Bahwa aku “menyarankan” Staf saya dalam menyambut tamu di tambang restoran Lele Lela. Hal ini dilakukan agar karyawan termotivasi dan produk disediakan selalu segar seperti suasana pagi yang segar.Lela bukanlah nama istri atau anak, tapi berdiri Kode lebih. Oh, ya, memperkenalkan, nama saya Rangga Umara. Meskipun usia saya relatif muda, 31 tahun, pahit pahit membangun bisnis telah dirasakan sejak bertahun-tahun lalu, sebelum RM Pecel Lele Lela dikenal luas. RM adalah saya telah menyiapkan sejak Desember 2006. Jadi-jadi sekarang menyebutnya sukses. Karena, saya telah melalui masa – masa sulit. Oleh karena itu, saya lebih mampu menghargai jerih payahku, menghormati kehidupan dan lain-lain.
            Kugeluti profesi yang bisa dibilang melenceng dari pekerjaan ayah saya, Deddy Hasanudin, seorang ustaz dan ibu, Tintin Martini, pegawai negeri yang akan segera pensiun.
Pertama, tujuan saya adalah untuk menjadi seorang pengusaha. Tapi entah kenapa saya akhirnya belajar di sebuah perguruan tinggi di London Departemen Manajemen Informasi. Ini ilmu akademis membawa saya untuk bekerja di sebuah perusahaan pengembangan di Bekasi sebagai manajer komunikasi pemasaran di perusahaan.
Sayangnya, setelah hampir lima tahun bekerja, saya tahu kondisi perusahaan tidak sehat. Hal itu membuat banyak karyawan yang diberhentikan. Saat itulah aku menyadari, aku hanya menunggu giliran mereka. Itulah mengapa saya mulai berpikir lebih serius tentang rencana kehidupan berikutnya. Yang jelas, saat itu saya bisa memikirkan, tidak lagi ingin menjadi seorang karyawan dari kantor karena sewaktu-waktu bisa menjadi masalah lagi PHK.
Wira-upaya putus asa
            Akhirnya, saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Sayangnya aku bingung tentang apa bisnis. Sebelumnya, saya telah membuka usaha kecil, termasuk sewa komputer, tetapi bisnis saya selalu gagal. Dipikir-pikir, saya memutuskan untuk membuka usaha di bidang kuliner. Alasannya sederhana, saya suka makan.
Aku memilih seafood seperti kios, yang ditemukan di trotoar. Modalku hanya $ 3 juta. Uang yang saya dapatkan dari menjual hasil barang-barang pribadi ke teman-teman, seperti ponsel, parfum, dan jam tangan. Sampai saat ini, hal tersebut masih terus mereka, ia membuat kenang-kenangan. Istri saya, Siti Umairoh bahwa usia, mendukung keputusan.
Awalnya, dia pikir aku hanya bisnis sampingan seperti sebelumnya, sejak saya mulai menjual sebelum mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Dia terkejut ketika aku benar-benar menekuni bisnis ini, meskipun masih ia mendukung.
Orangtua keberatan untuk itu. Mungkin mereka khawatir tentang masa depannya begitu jelas. Maklum saya sebelumnya bekerja dengan kantor berpakaian rapi, berkeliaran malah jadi terkesan tidak jelas.Semi-permanen berukuran 2×2 meter warung Pondok Kelapa Saya telah menyiapkan di daerah. Karena modal biasa-biasa saja, saya menemukan bahwa sewa cukup murah, sekitar Rp 250 ribu per bulan. Aku mempekerjakan tiga orang, dua di antaranya telah menikah. Berbeda dari kios makanan laut di trotoar umumnya berspanduk awning biru dan putih, warungku kudesain unik.
            Rupanya, desain yang unik tidak membantu penjualan. Tiga bulan pertama, penjualan selalu minus. Tak satu pun dari para pembeli datang. Aku mencoba berbesar hati, mungkin warungku sepi karena banyak yang tidak tahu di mana warung tenda saya itu. Saya mulai mencari lokasi lain yang lebih ramai. Saya menawarkan sistem kerjasama dengan makanan dan kios-kios lain, tapi selalu ditolak.Sampai suatu hari, saya pergi ke sebuah restoran di daerah semi-permanen tempat untuk makan, masih di Kelapa Pondok. Seperti yang lain, pemilik restoran itu juga menolak kerjasamaku. Ia bahkan menawarkan untuk membeli peralatan rumah akan makan topi karena dia ditinggalkan pembeli. Saya menolak, karena tidak punya uang. Akhirnya, ia menawarkan ruang sewa seharga Rp 1 juta per bulan. Saya juga setuju.
Serupa Pisang Goreng  Bulan pertama untuk membuka usaha, mulai mencari hasil. Pembeli mulai berdatangan. Aku tahu, usaha yang bisa sukses dan bertahan adalah bisnis yang memiliki spesialisasi. Saya memutuskan untuk menjual pecel lele, makanan favorit saya sejak kuliah. Ya, selama kuliah, saya rajin berburu toko lele pecel lezat. Saya pikir, orang-orang yang menjual makanan dari no lele khusus.         Sekali lagi, semoga sukses bagi saya tidak sepenuhnya berpihak. Setelah saya menjual lele, yang menjual ayam sebagai gantinya. Jika kehabisan menu ayam, cukup pilih pembeli rumah. Namun, saya tidak mau menyerah. Karena aku tahu itu lele lezat. Jadi, ketika pembeli duduk menikmati hidangan, aku berkeliling meja, minta mereka untuk mencicipi lele hasil masakan kami. Untungnya, mereka menemukan memasak lezat.
Dari sana, saya mencoba lebih keras untuk memperkenalkan lele memasak. Saya mencoba untuk menonjolkan kelebihan lele yang terletak di daging yang lembut dan juicy. Untuk membuat penampilan fisik lele mungkin kurang menarik, lelenya I baluri tepung dan digoreng. Hasilnya? Gagal total!
Aku melihat tepung lele berbalur. Dia .. he .. he .. itu sebenarnya menyerupai pisang goreng. Aku menyerah. Aku mencoba lagi dengan tepung lele goreng. Kali ini, goreng telur dan melalui beberapa proses. Alhamdulillah, sukses! Pembeli semakin lebih suka makan lele olahan kami. Pelanggan yang suka makan ayam, lele mulai bergerak ke dalam tepung.Setelah tiga bulan pindah ke tempat baru, pendapatan rumah tangga makan saya meningkat menjadi Rp 3 juta per bulan. Saya sangat berterima kasih. Dari sana saya berpikir lebih ke bisnis totalnya. Terutama bila dibandingkan dengan penghasilan saya sebagai karyawan di kantor yang hanya “tiga titik”. Artinya, setelah ketiga, dan “koma” Ha … ha .. ha
Sekarang, ada banyak pilihan pada menu lele lele Pecel Lela. Menghimbau kepada pembeli, Pecel Lele Lela juga menghilangkan makanan untuk pembeli ulang dalam beberapa hari mendatang. Dan, pembeli bernama Lela juga akan menerima tunjangan seperti makanan gratis seumur hidup. Menarik, bukan?
Namun, keberhasilan yang saya capai bukan hanya konsep kematangan dan menu kelezatan saja, Anda tahu. Karyawan juga memiliki andil besar. Itulah sebabnya, penting bagi saya untuk membuat mereka merasa di rumah dan bekerja dengan hati.
Sebagai hadiah, mereka sering makan di restoran lain pada saya. Jika hati senang, mereka pasti akan bekerja dengan semangat. Oh yeah, tentang logo Pecel Lele Lela yang sempat diprotes kedai kopi Amerika karena mirip, juga sudah saya berubah sejak cabang dibuka untuk 16.
Jody dan Anik  pengusaha steak

Jody dan Anik, berhasil menciptakan sebuah gebrakan baru di bisnis kuliner, dengan menawarkan steak, yang harganya sangat bersahabat dan jauh dari kata mahal.
Menjadi seorang pengusaha sukses, tentunya menjadi impian besar bagi semua orang. Namun sayangnya tidak banyak orang yang bisa berhasil meraih impian tersebut, mengingat untuk mencapai sebuah kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan tekad yang kuat guna menghadapi semua rintangan dan hambatan yang sering muncul di tengah perjalanan menuju sukses. Hal inilah yang memotivasi sepasang suami istri, Jody Brontosuseno dan Siti Hariyani dalam mengembangkan usaha.
Jatuh bangun dalam menjalankan sebuah usaha, sudah menjadi bagian dari perjuangan mereka mencapai kesuksesan. Berbagai peluang usaha dari mulai berdagang roti bakar, berjualan susu, sampai berbisnis kaos partai musiman pernah mereka jalani, dan semuanya tidak bisa bertahan lama hingga harus ditutup sebelum mencapai suksesnya.
Meskipun begitu, pengalaman pahit tersebut tidak membuat sepasang suami istri ini berhenti mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Mengawali kesuksesan bisnisnya pada tahun 2000, Jody dan Anik mencoba membuka warung steak sederhana dengan memanfaatkan teras rumahnya, yang berlokasi di Jl. Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta sebagai lokasi usaha. Berbekal jiwa entrepreneur yang telah mereka miliki, pasangan serasi ini nekat membangun sebuah rumah makan steak dengan nama “Waroeng Steak n Shake” yang kini lebih dikenal dengan istilah WS, lain daripada restoran steak lainnya.
Jika biasanya kuliner ala Eropa ini hanya bisa dinikmati masyarakat menengah atas, di berbagai restoran mewah atau di hotel-hotel berbintang dengan harga yang relatif mahal. Jody dan Anik, berhasil menciptakan sebuah gebrakan baru di bisnis kuliner, dengan menawarkan salah satu makanan barat yang banyak diminati masyarakat yaitu steak, dengan harga yang sangat bersahabat dan jauh dari kata mahal.
Mereka sengaja menawarkan steak di warung sederhananya, untuk membangun image baru di mata konsumen bahwa menu ala Eropa juga bisa disajikan di warung makan biasa, dengan cita rasa yang tidak kalah bersaing dengan steak di hotel-hotel berbintang lima.
Siapa sangka jika strategi tersebut cukup menarik minat konsumen, hingga waroeng steak yang dulunya hanya bermodalkan 5 buah hot plate dan 5 buah meja makan, dengan daya tampung 20 pengunjung. Kini berhasil berkembang pesat, mencapai lebih dari 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti di daerah Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogyakarta, Bali, serta Pekanbaru. Dengan omset ratusan hingga milyaran rupiah setiap bulannya.
Terobosan baru yang ditawarkan Waroeng steak, melalui mottonya “Bukan steak biasa” ini berhasil merubah pandangan masyarakat, yang dulunya beranggapan bahwa makanan steak hanya bisa dikonsumsi orang kaya. Menjadi makanan baru yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau dan tentunya pas dikantong semua konsumen.
Dengan menanamkan image murah yang begitu kuat di hati para konsumennya. Kini duet suami istri ini tercatat sebagai salah satu entrepreneur sukses yang keberadaannya patut diperhitungkan. Karena mereka tidak hanya sukses mengembangkan puluhan cabang WS di berbagai daerah saja, saat ini Jody dan Anik juga merambah bisnis makanan lainnya yang menawarkan berbagai menu bakaran, serta membangun bisnis futsal di seputaran kota Yogyakarta.


Kisah Sukses Bubur Abah Odil
Saya mengenal Abah Odil secara pribadi baru sekitar setahun belakangan ini. Tapi kisahnya sudah saya ketahui sekitar 2 tahun yang lalu di sebuah majalah bisnis.
Abah Odil adalah sosok seorang yang tidak puas sebagai seorang karyawan. Walau sudah bergaji puluhan juta perbulan, dapat tunjangan rumah, mobil, dan berbagai fasilitas lain karena dia punya posisi penting di sebuah perusahaan, dia rela melepas itu semua untuk memenuhi kata hatinya.
Pilihan bisnis yang dia pilih adalah sebagai TUKANG BUBUR KELILING. Bagi kebanyakan orang mungkin akan menganggap Abah Odil lagi “errorDescription: :)tapi tidak banyak yang tahu sebenarnya Abah Odil punya misi dan visi yang kuat dari profesi barunya itu.
Jangan dikira bisnis Abah Odil ini langsung jalan sesuai harapan. Abah Odil juga sempat jatuh diawal usahanya. Tapi dari berbagai kegagalan inilah akhirnya Abah Odil bisa mengambil kesimpulan untuk dijadikan pelajaran dan MODAL MELANGKAH KEDEPAN.
Setelah beberapa tahun berlalu dan omsetnya meningkat, akhirnya Abah Odil tidak lagi berjualan keliling. Dia sudah punya tempat yang strategis di sebuah ruko jl. Sukarno Hatta kota Malang dan terkenal sebagai bubur ayam paling enak di kota malang. Bahkan gerai Abah Odil pernah mencapai hingga 8 lokasi di kota Malang.
Dari kisah Abah Odil ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa semangat pantang menyerah itu sangat penting dalam bisnis kuliner. Bersyukur dan terus berfikir kreatif adalah salah satu kunci sukses Abah Odil. Serta  rasa adalah segalanya bagi bisnis kuliner. Selain itu cara-cara promosi kreatif harus terus dikembangkan karena kunci sukses dari sebuah bisnis adalah PROMOSI.



DONNY PRAMONO Pengusaha Sour Sally
Ini dia Sally, gadis manis berkepang dua yang terpampang di semua produk Sour Sally. Seiring bertambahnya penggila froyo, Sally semakin terkenal. Yoghurt kini tampil lebih cantik dan sehat dalam kemasan froyo alias frozen yoghurt. Tak ayal, ia digemari banyak orang dan bisnisnya makin digandrungi.
Dari Hobi Lahirlah Sally
                Gadis itu berkepang dua dengan dress mini berwarna hitam. Matanya melirik, menggoda siapa pun yang melewatinya. Namanya Sally. Dialah ikon dari butik frozen yoghurt (froyo) Sour Sally yang belakangan ini sedang naik daun. Bisnis yang dimulai dari hobi pemiliknya, Donny Pramono. “Saya memang hobi makan yogurt. Seminggu bisa makan lima kali.”
Kegemaran Donny makin tersalurkan saat ia kuliah di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Maklum, di sana banyak gerai penjual yogurt, Tempat itu kerap dijadikan tempat ngumpul Donny dan teman-temannya. “Akhirnya terinspirasi membuat brand yang bisa go international, dimulai di Indonesia,” urainya.
Untuk mewujudkan itu, selama di LA, Donny rajin mencoba membuat froyo. Apartemen adiknya, Darwis Pramono pun dijadikan tempat eksperimen. Mesin pembuat froyo yang disewanya, disimpan di sana. Lantaran listrik tak mencukupi, ia harus menyewa genset. Tapi, untuk menghidupkan genset, Donny harus main kucing-kucingan dengan tetangganya. “Sebelum jam 5, kami harus sudah selesai, karena tetangga sudah pulang kantor,” kata pria kelahiran 30 September 1982 ini.
Lewat riset itu, penggemar futsal ini menemukan citarasa froyo yang diinginkan. “Rasa harus disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Di Amerika, lebih milky (kental susunya) dan kecut. Kalau di sini, seimbang antara kecut dan manis.” Formula itu yang akhirnya dibawa pulang ke Indonesia di akhir 2007.
Lantas anak pasangan Suwitno Pramono dan Elien Limuwa ini mengajak sepupunya yang sudah malang melintang di dunia bisnis kuliner, Telly Limbara. Telly sepaham lantaran konsep bisnis Donny dinilai menarik. Modal awal pun mereka gelontorkan.
Donny dan Telly tak main-main. Untuk memulai bisnis ini, mereka juga menyewa konsultan brand profesional. Dari situ lahirlah Sour Sally. “Sour itu artinya kecut dan Sally itu nama cewek manis,” kata Donny. Desain interiornya pun sengaja dibuat kental dengan warna khas perempuan. Tengok saja dominasi warna hijau muda yang segar dan kursi-kursi empuk dengan warna pastel pada gerainya. Begitu pula dengan pegawainya, terutama yang perempuan, mereka tampil persis dengan Sally yang chic.
Gerai pertama Sour Sally dibuka di Senayan City, pada 15 Mei 2008. Dalam dua bulan, Sour Sally menjadi buah bibir. Antreannya bahkan pernah meluber hingga ke luar gerai. Sekarang ini sudah ada sepuluh gerai di ibu kota. “Hari biasa, pengunjung bisa ratusan. Kalau akhir pekan, beberapa outlet bisa dikunjungi ribuan pembeli,” urai alumni Penn State University.
Di Sour Sally tersedia tiga rasa yaitu plain yang seimbang manis dan kecutnya, green tea yang lebih kecut, pinklicious yang lebih manis. Topping-nya beragam, dari buah-buahan, hing­ga mochi, kenari, atau sereal. “Sampai sekarang ada 20 topping tapi masih banyak Sour Sally Lovers (sebutan konsumen) yang belum mencoba,” ucapnya yang bisnisnya sempat dikira franchise.
Sekarang, malah sudah tersedia waffle yang dibubuhi froyo dan topping bernama Pinklicious Waffle. Celah inilah yang sekarang sedang digali oleh Sour Sally. Karena bagi Donny, “Setiap orang mempunyai selera sendiri dan kami ingin memuaskan semuanya.” Dengan aneka macam froyo, topping, hingga menu yang beragam, tak heran jika Sour Sally selalu dipenuhi tua muda pria wanita setiap harinya.
Pada tahun 2010 dibuka cabang Sour Sally pertama di luar negeri, yaitu di Singapura, tepatnya di Wisma Atria Shopping Center, #B1-47, kini ada dua cabang di Singapura. Sedangkan di Indonesia cabangnya tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Bali, Semarang. Omset tahunannya kini mencapai puluhan miliar.




Swandani Kumarga  pemilik restoran Dapur Solo (DS)
Salah satu dari sekian restoran tradisional yaitu Dapur Solo (DS). Rumah makan yang terletak di kawasan Sunter ini menyajikan aneka makanan Jawa, khususnya dari Solo. Makanan tradisional yang bervariasi di restaurant Dapur Solo ini merupakan tujuan untuk memopulerkan aneka makanan yang pada saat ini cenderung merupakan makanan barat seperti Burger, Hotdog, Pizza, Pasta dan masih banyak makanan barat lainnya. Pengusaha Dapur Solo ini dalam membangun usaha makanan tradisional, benar-benar dimulai dengan keringat dan tekad yang keras. Banyak usaha-usaha yang bisa kita ciptakan untuk membuat diri kita menjadi semakin mandiri. Dampak positifnya dalam membangun usaha ialah terbukanya lapangan kerja bagi orang lain, membangun perekonomian banyak orang dan membantu perekonomian negara. Kita lihat salah satu keberhasilan ekonomian karena adanya usaha-usah ayang dirintis masyarakat negara Indonesia yang sadar akan perlunya membangun sebuah usaha untuk kelangsungan hidup mereka dan orang lain.
            Awalnya bukan terinspirasi, tetapi karena ingin membantu suami untuk mencari uang, kan uang tidak harus dari kantong suami, karena saya hobi makan rujak juga yah. Jadi pertama kali saya menjual rujak dulu. Bertahap gitu.
            Dari rumah ke rumah, Door to door, tetangga lewat mulut ke mulut. Dengan selembaran. Hanya berawal dari garasi rumah, hanya dapur rumah. Sebenarnya niat saya cuma ingin menjual rujak, akhirnya saya coba-coba, lalu menulis saya dikertas A4 dan dibagi dua, tulisannya juga hanya menyediakan rujak dan es jus. Hanya rujak dan es buah saja yang saya jual waktu itu.
Modal saya hanya Rp 100rb, waktu itu Rp 100rb hanya bisa mendapatkan gilingan es, buah-buahan, juga kurang lebih gelas 2-3 lusin. Orang bilang usaha harus pake modal besar, tetapi bagi saya modal tekad, niat, ulet dan keberanian. Menurut saya ini yang menjadi modal dasarnya.
Mereka tadinya menganggap hanya main-main, tetangga juga hanya kasian. Tetapi saya tidak malu, karena saya tidak mencuri. Usaha saya juga mendapatkan respon positif dari anak sekolah, tetapi saya tidak malu, orang duit yang saya dapatkan halal. Kalau kita semua dijalan yang benar ngapain malu. Pada dasarnya kita tidak perlu malu untuk memulai sebuah usaha.
            Keluarga saya, kebetulan latar belakang orang tua saya memang dagang sembako. Kalau orang bilang ada bakat turunan, padahal menurut saya bukan bakat, karena sebenarnya semua orang mempunyai bakat, tinggal orang tersebut ingin menggali bakat tersebut atau tidak.
Keluarga saya sangat men-support sekali usaha saya ini, terutama suami saya sangat membantu. Karena biasanya perempuan mempunyai usaha dirumah bisa sambil mengurus anak. Dulu suami saya bekerja sebabgai proyek manager, tetapi akhirnya kita berdua membangun usaha ini bersama-sama, hingga menjadi sebesar ini. Anak saya perempuan, umurnya 24 tahun. Saya hanya memiliki satu putri yang bekerja di HSBC. Semua ini, usaha dan keluarga telah diberkati oleh tuhan. Dan karena Tuhan telah memberikan kepercayaan kepada kita.
Karena kita ingin mempopulerkan makanan tradisional, dan ingin mempertahankan budaya makanan indonesia, membuat makanan tradisional sejajar dengan makanan lainnya. Obsesi saya hanya itu. Ingin mengangkat makanan tradisional dan mengalahkan makanan barat.
            Selangkah demi selangkah saya kerjakan dengan tekun. Akhirnya setelah ditekuni selama 5 tahun, usaha ini menjadi lebih besar. Omset awal hanya Rp10rb. Mulai setiap bulan mengalami peningkatan, omsetnya mencapai Rp50rb sampai Rp100rb perhari dan saya juga mempunyai target, jadi setiap bulannya harus mengalami peningkatan. Suka dukanya, jika masyarakat bosan dengan hanya variasi makanan yang itu-itu saja. Akhirnya saya menambahkan gado-gado sebagai inovasi baru terhadap makanan. Hanya melihat pembuatan gado-gado, kita mencoba-coba. Testernya suami dan tetangga. Intinya selalu berdoa, kalau mendapatkan ide, pasti mencoba ide baru itu. Karena tester tersebut berhasil, akhirnya kita memasukan gado-gado sebagai menu baru kita.
            Saya ada cabang di Daerah Melawai, Jakarta Selatan. Saya tidak mau latah karena wirausaha-wirausaha yang sudah sukses membuka banyak cabang karena ingin menjadi semakin terkenal. Bagi saya tidak merasa ada saingan. Saya menganggap semua teman untuk saling mengembangkan. Kalau merasa saingan, kita bertekad untuk mengalahkan. Saingan adalah sahabat. Bersaing dalam kreativitas. Setiap orang berbeda-beda cara mengembangkan usahanya. Tetapi tergantung bagaimana kita merangkul semuanya menjadi teman. Kalau persaingan semakin banyak, itu berarti perekonomian negara kita semakin terangkat. Banyaknya lapangan kerja yang senakin banyak terbuka. Dan kita bersaing secara sehat dan secara kreativitas. Tidak ada sirik atau iri terhadap pesaing lain.
            Saya tidak pernah mengalami kegagalan. Karena saya melakukannya dengan bertahap. Tidak pernah mengalami kegagalan besar yang benar-benar membuat bangkrut. Karena mungkin saya tidak langsung menginginkan usaha yang langsung berhasil. Tidak ada rugi dalam makanan kecuali benar-benar rugi besar. Kecuali kita tidak mampu bersaing, kemungkinan besar akan rugi tentu saja ada. Menjaga kualitas tentunya, kemudian kebersihan, service-nya juga harus sebaik mungkin bisa dijaga, suasana rumah makan yang nyaman, dan rasa makanan itu sendiri menjadi taste utama yang menarik pembeli, harga juga sesuai kantong masyarakat. Jangan menjadi latah, jangan melihat untung saja. Jangan ikut-ikutan latah jika pesaing lain menaikkan harga.
            Tentu saja. Kenapa tidak. Semua orang berhak membuat usahanya masing-masing agar menjadi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Sebetulnya kalau kita mau berusaha, modal usaha itu adalah tekad, berdoa karena kita punya tuhan, meminta hikmat, intinya percaya bahwa tuhan punya rencana atas semua yang kita kerjakan. Kita sebagai manager pengelola, kalau dipercaya oleh tuhan, maka kita harus memegang kepercayaan itu. Sedikit demi sedikit pasti usaha kita akan maju.
            Sudah ada 100 karyawan, sudah termasuk cabang yang di Melawai. Dari 1 orang karyawan hingga sekarang karena tuhan. Itu merupakan kepercayaan Tuhan pada kita. Amanah kalau menurut agama saya.
                Sehari rata-rata Rp5 juta/hari atau Rp150juta/bulan, tidak usah sombong kita sebagai orang. Tahun depan saya berencana membuka Perseroan Terbatas atau PT, yang awalnya dari perseorang, dan hanya wirausaha sendiri, manajemen yang baik, bekerja sama kepada orang lain, dan menambah partner dalam usaha. Wirausaha tidak ada kata pensiun. Karena wirausaha tidak pernah mengenal umur. Untuk Target sekarang, saya masih punya mimpi, yaitu tetap mempopulerkan makanan tradisional diantara makanan internasional. Kalau tuhan mengijinkan tahun depan saya akan membuka Perseroan Terbatas yang partnernya yah teman-teman saya sendiri. Tahun depan saya berniat membuka Fitness Center, Butik dan Female Gym. Rancangannya pun sudah ada dan dibuat oleh arsitektur yang handal. Nanti saya perlihatkan.


Surya agung pengusaha makanan india

Tidak ada yang bisa menebak secara pasti garis kehidupan seseorang, entah itu seorang baik, jahat, bijaksana, terpandang maupun mantan narapidana sekalipun. Semua memiliki garis hidup dan takdir tersendiri dan semuanya bisa meraih kesusksesan jika didukung dengan kerja keras dan kemauan yang tinggi untuk maju. Surya agung, seorang yang selama ini dicap kriminal dan tidak berguna. Surya agung bukanlah seorang dari kalangan yang terpandang bukan pula dari riwayat yang baik namun dirinya meruapakan seorang mantan narapidana yang telah tiga kali keluar masuk penjara dan di dekade waktu terakhirnya dirinya menghabiskan seluruh waktunya di jeruji besi.

Dengan semua reputasi yang buruk tersebut tentu orang menilai bahwa dirinya adalah orang yang tidak memiliki masa depan dan akan sulit untuk menggapai cita-citanya seperti yang diharapkan. Namun siapa sangka sekarang setelah lepas dari penjara Surya agung  berhasil sukses lewat bisnis kulinernya, dan hebatnya dia mencapai kesuksesan tersebut hanya dalam waktu yang relatif singkat yakni setengah tahun. Tentu semua orang tidak bisa menyangka Surya agung  bisa sukses dalam waktu secepat itu dengan status dirinya yang bahkan mungkin terpinggirkan di masyarakat, namun Balamurukan membuktikan dirinya bisa melakukannya.

Kilas balik kesuksesan Surya agung sebagai seorang pengusaha kuliner yang sukses di mulai dari bulan Mei tahun lalu dimana saat itu dirinya keluar dari salah satu penjara di Singapura setelah melewati berbagai kasus kriminal yang menjeratnya. Surya agung  yang berumur 41 tahun dan memiliki anak yang masih kecil (sekitar 8 tahun) dan baru keluar penjara kala itu merasa bingung karena dengan umurnya yang sudah tidak produktif lagi dan memiliki reputasi yang baru keluar dari tahanan tentu akan sulit mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginan, di tengah kebingungannya datanglah lembaga Industrial and Services Cooperative Society atau bisa disebut dengan Iscos menawarkan bantuan dan memperkenalkan dirinya dengan Dr Leong Kaiwen.

Bantuan Iscos yang merupakan organisasi sosial yang bergerak dalam bidang rehabilitasi mantan napi agar bisa kembali berintegrasi dengan masyarakat. Untuk itu dia memperkenalkan dirinya pada Dr Leong Kaiwen yang kelak mengubah garis hidup dan peruntungannya. Dr Leong Kaiwen yang merupakan Profesor Ekonomi di NTU yang juga merupakan pemimpin lembaga non-profit bernama Princenton Mind, kemudian memfasilitasi Surya agung  yang berkeinginan untuk merintis usaha kuliner India sesuai dengan negara asal nenek moyangnya. Surya agung kemudian mengikuti berbagai pelatihan yang bisa membantu dalam pembentukan usaha kulinernya memalui fasilitasi Dr Leong Kaiwen.

Setelah melalui berbagai pelatihan kemudian Surya agung  membuka sebuah kedai makanan. Modalnya merupakan pinjaman lunak dari perusahaan yang memfasilitasi usaha skala kecil dan menengah. Saat ini usaha Surya agung terus maju dan berencana untuk memperluas usahanya dengan membuka beberapa kedai lagi dalam beberapa waktu kedepan. Harus diakui selain kemauan dukungan pemerintah dan lembaga sosial disana memang juga cukup membantu kalangan kecil yang membutuhkan perbaikan ekonomi.
   

Daus-Usya  pengusaha makanan khas Indonesia di London
Suara Pance Pondaag menyanyikan Demi Kau dan Si Buah Hati menemani Firdaus Ahmad menyetir Mercedes 120 CDI di jalanan London yang padat pada suatu siang akhir Februari lalu. Mobil jembar yang sanggup mengangkut sepuluh orang itu adalah kendaraan "dinas" laki-laki 54 tahun ini dari rumah ke restorannya.

Nusa Dua Restaurant berdiri di sudut Dean Street 11, Soho, di jantung ibu kota Inggris itu. Bangunan tiga lantai ini satu-satunya restoran Indonesia di kawasan belanja dan tempat nongkrong anak-anak muda itu. "Sejak Presiden Barack Obama datang ke Indonesia, menu favorit di sini nasi goreng," kata Daus.

Selain itu, ada banyak makanan khas Indonesia di daftar menu: ayam kremes, sayur asem, sambal terasi, tahu isi, soto ayam, tempe, dan kerupuk udang. Saya makan di sana ketika restoran masih tutup menjelang sore. Tapi, di depan pintu, pelanggan dari pelbagai ras yang akan makan malam sudah antre mengular.

Resto ini adalah buah kerja keras Daus selama 20 tahun. Ia tiba di London pada akhir 1981 dengan tiket pesawat yang dikirim saudaranya, sopir di Kedutaan Besar Indonesia di London. Daus nekat berangkat ke Inggris karena penghasilan sebagai kondektur angkutan kota Kampung Melayu-Bekasi tak menentu.

Mendarat di Bandar Udara Heathrow yang sibuk, lulusan SMA 1 Indramayu ini termangu dua jam. Ia tak tahu jalan keluar. Ia amati setiap penumpang. Asumsinya, orang yang kusut pasti baru mendarat setelah penerbangan yang jauh. Ia ikuti mereka menyeret koper. "Saat itu saya baru tahu arti 'exit' itu keluar," katanya, terbahak.

lalu bekerja di restoran Indonesia sebagai pencuci piring. Tapi resto ini tak berumur lama. Pemiliknya ketahuan mengakali pajak. Pemerintah mengambil alih dan menjualnya. Pembelinya adalah tukang masak asal Malaysia. Resto itu kini jadi rumah makan Asia yang tukang masaknya adalah pemilik lama, bekas majikan Daus.

Seorang pengusaha Singapura kemudian mendirikan Nusa Dua Restaurant. Daus diajak bergabung dan naik pangkat jadi chef. Tapi perkongsian ini hanya bertahan tiga tahun. Pengusaha itu tak sanggup membayar cicilan modal. Royal Bank of Scotland (RBS) menyitanya. Daus kelimpungan tak punya pekerjaan.

Pada 1991 ia sudah menikahi Usya Suharjono, perempuan manis yang tengah kuliah kesekretariatan di London. Ayah Usya adalah wartawan radio BBC seksi Indonesia. Ia mengikuti orang tuanya ke London setelah lulus SMA 2 Jakarta Pusat pada 1983. Daus punya ide mengambil alih Nusa Dua.

Usya maju sebagai negosiator dengan bank karena ia fasih berbahasa Inggris. Daus hingga kini masih gagap. Kepada tiga anaknya, ia berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi dijawab dalam bahasa Inggris. Usya membujuk bahwa resto itu merugikan RBS karena tak mendatangkan untung, sementara pajak tetap harus dibayar.

Daus meyakinkan mereka akan mengelola rumah makan dengan jaminan membayar cicilan 1.000 pound tiap bulan tepat waktu. ”Jika tahun pertama pembayaran tak jelas, bank silakan ambil alih lagi,” katanya. Deal. RBS ternyata setuju.

Sejak itu, Daus yang pegang kendali. Ia belanja, ia memasak, ia pula yang melayani pembeli. Karena makanan racikannya enak, pelanggan lama kembali, dan pembeli baru berdatangan. Restorannya mulai untung dengan omzet 10 ribu pon (Rp 140 juta) setiap pekan. Dalam waktu enam tahun, utang 100 ribu pound lunas.

Tabungannya mulai kembung. Daus membeli sebuah rumah seluas 300 meter persegi seharga Rp 5,2 miliar di sudut jalan dekat sekolah anaknya. Rumah sembilan kamar itu kini disewakan kepada pelancong asal Indonesia dengan tarif 19,5 pound semalam. Meski tak ada papan nama, orang tahu rumah bata merah di sudut jalan kompleks elite Colindale itu ”Wisma Indonesia”.

Daus-Usya tinggal tak jauh dari situ. Tiga mobil nangkring di garasi. Semuanya Mercedes yang harga satu unitnya rata-rata Rp 1,4 miliar. Daus kerap bolak-balik London-Bekasi untuk menengok keluarga besarnya di Jatiasih.

Setelah semua pencapaian ini, Daus hanya punya satu cita-cita: pulang kampung setelah anak-anaknya mandiri dan membuat taman pendidikan agama untuk anak-anak miskin.



Muhdi  Pengusaha Keripik Singkong
Saat datang ke Medan, Sumatera Utara, tahun 1986, Muhammad Muhdi (46) bukanlah siapa-siapa. “Naik kereta (sepeda motor) saja saya tidak bisa,” kata Muhdi. Namun, 25 tahun kemudian, ia adalah pengusaha keripik singkong dan turunannya dengan 75 karyawan dan mulai mengekspor produknya.

Berbincang dengan Muhammad Muhdi selama sekitar dua jam membawa kesimpulan bahwa ia sukses sebagai pengusaha keripik singkong karena ia orang yang optimistis dengan hidupnyi. Namun, optimisme itu pun tidak ia peroleh dengan singkat. Ada masa ia terjepit dan terjatuh, tetapi bisa bangun lagi dan berhasil seperti saat ini.

Selulusnya dan Madrasah Aliyah Pondok Baru, Payaman, Magelang, Jawa Tengah, Muhdi pergi ke Medan menjadi nazir Masjid Nurul Imam di kawasan Kompleks Perhubungan Udara, Padang Bulan, Medan. Ia juga bekerja macam-macam, seperti menjadi tukang kebon Taman Kanak-kanak Ikadiasa, Kompleks Perhubungan Udara, Jalan Penerbang, Medan. A Siong, seorang pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur. 

Usahanya menanjak saat ia mulai memasok logistik, seperti telur, beras, minyak goreng, minyak tanah, hingga sirup, ke Pondok Pesantren Roudhatul Hasanah, Medan. Semua berbalik saat krisis moneter tahun 1997. Pemilik toko tempat ia mengambil barang bangkrut. Ia mencoba berdagang bahan pokok.

Di tengah situasi tak menentu, ia pulang kampung saat Lebaran tahun 1999. Di situlah ide membuat keripik singkong muncul. “Ada orang buat keripik manual. Saya lalu beli peralatannya,” cerita Muhdi. Ia membeli alat potong Rp 120.000, wajan Rp 75.000, dan alat penampi Rp 15.000. Ia bawa peralatan itu ke Medan.

Sesampai di Medan, ia langsungmembeli singkong 5 kilogram di pasar dan minyak goreng 2 kilogram untuk praktik membuat keripik. Ternyata keripiknya tenggelam dalam minyak.

Esoknya ia beli singkong ke petani, dengan asumsi kualitas singkong lebih baik. Eh, sama saja, keripik tenggelam di dalam minyak.

Usut punya usut, ternyata api kurang besar, sementara wajan kebesaran. Ber kali-kali dicoba, baru ketemu formula pas, antara banyaknya minyak, besarnya api, panas minyak, dan besarnya wajan. Wajan yang ia beli dari Magelang ternyata kebesaran sehingga ia perlu mengganti wajan dari tukang pisang yang membantu ia menemukan formula pas untuk menggoreng keripik.

Akhir tahun 1999, produksinya membutuhkan 100 kilogram singkong per hari dan proses menggoreng nonstop hingga malam hari. Masyarakat sekitar mulal terusik dengan aktivitas produksi keripiknya, terutama karena limbah singkong. Ia pun pindah ke kawasan Medan Tuntungan di pinggĂ­r kota. “Saya sewa rumah yang kata orang berhantu Rp900.000 untuk tiga tahun,” katanya. Kebetulan air di kawasan itu bagus.

Ia membuat dapur dan mulai berproduksi lagi. Ia memanggil lima orang tetangganya di Tuntungan untuk bekerja kepadanya. Produksi terus meningkat, dari 150 kg per hari menjadi 0,5 ton, kemudian 1 ton per hari. Tenaga kerja meningkat menjadi 15 orang.

Tahun 2002, pemilik rumah hendak menjual tanah dan rumah sewanya di Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Ia pun mencari pinjaman bank untuk membeli rumah dan tanah itu. Sementara itu, produksi meningkat menjadi 2 ton per hari. Pada tahun itu, ia juga mengikuti pelatihan di Dinas Perindustrian dan Perdagangin Kota Medan, dan mulai mendaftarkan produknya ke dinas kesehatan dan memberi merek “Kreasi Lutfi”, mengambil nama anaknya. Ia juga mulai membuat keripik aneka rasa.

Produksi sempat berhenti total selama tiga bulan pada 2004 karena para penjualnya lari. Se1uruh produk dibawa penjual sehingga ia menjual kendaraan operasional untuk menutup utang. Utang bank pun tak terbayar. Ia memulai lagi menggoreng keripik dengan modal Rp 1,1 juta. Jadilah 200 bal keripik. Ia meminta salah satu mantan penjualnya untuk menjadi distributor. Mulai dari situ bisnisnya kembali menanjak dan sejak tahun 2005 ia memproduksi 4 ton singkong setiap hari.

Ia juga melebarkan sayap ke bisnis gaplek, mengolah kulit ubi menjadi makanan ternak. Kini ia tengah menjajaki bisnis opak dan pembuatan tepung singkong agar bisa menggantikan tepung terigu. Total karyawannya 75 orang.
Awal tahun ini ia mulai mengekspor keripiknya ke Korea Selatan. Dua minggu sekali ia mengirim satu kontainer kenipik singkong ke Korea Selatan. Satu kontainer berisi 2.566 kotak keripik. Satu kotak berisi 2,6 kg keripik. ”Ini khusus untuk diameter singkong 5,7 cm,” kata dia.
Muhdi, yang selalu tampil sederhana itu, mengatakan, semua itu dimulai dari kepepet (terjepit). Ia mengatakan bahwa ilmunya sederhana saja, yakni menyelaraskan otak, otot, dan omong, membuat produknya mutu, mudah, dan murah, serta bekerja dengan senang,santal, tetapi selesai.

Begituiah Muhdi, yang menyelesaikan kuliahnya di Institut Agama Islam Negeri Sumut, dengan harapan bisa mengajar di Medan. Namun, malah jadi pengusaha keripik.

Hendra Pengusaha snack zone

Tak hanya hadir di pasar-pasar tradisional, sekarang ini bisnis aneka camilan mulai merambah pusat perbelanjaan di kalangan masyarakat kelas atas. Hendra Gunawan, merupakan salah satu pemain bisnis camilan yang membidik konsumen kelas atas untuk mengembangkan roda usahanya.
Mengawali bisnisnya sejak tahun 1979 silam, cikal bakal bisnis Hendra diawali dari usaha sang ayah yakni Suhaili Gunawan yang saat itu menjual kerupuk Bangka di lantai basement Plaza Hayam Wuruk. Dari bisnis kerupuk yang diberi nama Rotary Snack tersebut, kini Hendra bisa sukses membangun lebih dari 7 gerai bisnis camilan di mall-mall besar yang ada di seputaran kota Jakarta.
Jika dulunya bisnis keluarga yang dibangun sang ayah hanya menjajakan kerupuk Bangka dengan konsep yang sederhana, sekarang ini Hendra mulai mengusung konsep bisnis yang baru  untuk membidik pangsa pasar yang lebih luas. Melihat perkembangan bisnis camilan keluarganya mengalami perkembangan yang cukup pesat, Hendra mulai menawarkan sesuatu yang berbeda dengan melengkapi aneka macam camilan dari berbagai daerah di Nusantara.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin modern, Hendra sengaja mengubah nama Rotary Snack menjadi Snack Zone yang mengusung konsep bisnis lebih menarik. Dengan jargon utamanya “Your One Stop Snack Outlet”, Hendra mulai memperluas pangsa pasarnya yang dulunya hanya di dominasi oleh ibu-ibu, sekarang ini Ia mulai membidik anak muda yang pada dasarnya juga menyukai aneka macam makanan ringan.
Sampai hari ini, perkembangan Snack Zone sendiri terbilang sangat signifikan. Lelaki alumni  S-1 Manajemen Keuangan lulusan Ukrida, Jakarta, serta S-2 Akunting dan Finansial dari University of Technology Sydney, Australia ini menggurita ke beberapa pusat perbelanjaan yang ada di ibu kota negara (Jakarta). Sebut saja seperti gerai Snack Zone di Plaza Indonesia, Mega Mall Pluit, Mall Kelapa Gading, Plaza Semanggi, Senayan City, food court Bank Indonesia, serta menitipkan beberapa jenis barang dagangannya di Giant supermarket.

Keunikan Snack Zone

Meskipun sekarang ini pelaku bisnis camilan sudah mewabah di berbagai daerah, namun Hendra cukup pintar untuk melakukan diferensiasi sehingga tidak heran bila konsep Snack Zone yang diusung Hendra tersebut cukup menyita perhatian konsumen kelas atas. Beberapa diferensiasi yang dilakukan Hendra antara lain menyediakan ragam camilan yang sangat bervariasi, yaitu lebih dari 500 jenis camilan seperti misalnya kerupuk ikan, rempeyek kacang, keripik pisang, keripik singkong, abon sapi, aneka kue kering, manisan, permen, dan lain sebagainya.
Bahkan tak hanya itu saja pelayanan yang ditawarkan Hendra untuk memanjakan para konsumennya, Ia juga sengaja menggandeng para produsen camilan di berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas atas yang menginginkan ragam camilan khas daerah tertentu. Contohnya saja seperti kacang sangrai Manado, kue lapis mandarin dari Solo, bagelen, intip gula, manisan pala, lanting, serta aneka makanan ringan khas nusantara yang dikemas secara eksklusif di setiap gerai Snack Zone.
Keunikan inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Sehingga tidak perlu diragukan lagi bila Hendra mematok target penjualan yang cukup tinggi untuk setiap gerai camilan yang Ia miliki. Luas setiap gerai Snack Zone kurang lebih 30-60 m2, dan setiap m2 dari tokonya ditargetkan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta per bulan dengan profit sekitar 30%-40% dari omzet. Tentunya angka tersebut terbilang cukup menggiurkan untuk sebuah gerai bisnis camilan.
Kejeliannya dalam membidik target pasar, kini mengantarkan lelaki kelahiran 1980 ini menjadi salah satu pengusaha yang sukses berbisnis camilan di kelas atas. Semoga informasi kisah sukses pengusaha ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk segera terjun di dunia usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses!



Cholis makanan ringan dari jamur.
Bagi kebanyakan orang, lulus dari perguruan tinggi biasanya langsung memilih bekerja dan namun tak banyak yang langsung memilih berwirausaha. Adalah Cholis, sang sarjana kesehatan yang lebih memilih langsung berkecimpung ke dunia usaha.

Cholis memulai petualangan bisnisnya dari menjual kaos dan berbagai bisnis yang disukainya, namun tepat pada tahun 2008, Cholis membanting stir ke bisnis makanan ringan dari jamur. Melalui bendera Mushroom Factory, Cholis bercerita menuturkan sangat menyukai makanan dan ingin mengangkat makanan ringan sehat berkarakter Indonesia.

"Kita ingin membuat kemasan baru tentang makanan tradisional dengan sajian bumbu rempah-rempah Indonesia dikemas dengan secara bagus, dan kita bisa makan dimana saja dan kapan saja," kata Cholis kepada detikFinance.

Cholis mengaku memilih jamur karena jamur sudah sangat familiar dengan masyarakat Indonesia. Selain itu, ia ingin membantu para petani jamur yang sudah jarang melakukan budidaya jamur.

"Karena unik, kedua karena rasa makanan ini. Kita menyukai makanan ini dan kita ingin memberitahu setiap orang bahwa ini makanan yang asik sekali dan tidak kalah dengan cemilan asing yang sudah banyak beredar," imbuhnya.

Cholis yang merupakan Juara I Wirausaha Mandiri tahun 2010 ini menjelaskan, harga yang ditawarkan untuk produk makanan atau jajanan ringan dari jamur ini relatif berbeda untuk setiap daerah.

"Untuk di wilayah Jawa Timur dijual Rp 10.000 sampai Rp 18.000, kalau Jawa Barat mulai Rp 13.000 sampai 18.000," sebutnya.

Hendra Pengusaha snack zone

Tak hanya hadir di pasar-pasar tradisional, sekarang ini bisnis aneka camilan mulai merambah pusat perbelanjaan di kalangan masyarakat kelas atas. Hendra Gunawan, merupakan salah satu pemain bisnis camilan yang membidik konsumen kelas atas untuk mengembangkan roda usahanya.
Mengawali bisnisnya sejak tahun 1979 silam, cikal bakal bisnis Hendra diawali dari usaha sang ayah yakni Suhaili Gunawan yang saat itu menjual kerupuk Bangka di lantai basement Plaza Hayam Wuruk. Dari bisnis kerupuk yang diberi nama Rotary Snack tersebut, kini Hendra bisa sukses membangun lebih dari 7 gerai bisnis camilan di mall-mall besar yang ada di seputaran kota Jakarta.
Jika dulunya bisnis keluarga yang dibangun sang ayah hanya menjajakan kerupuk Bangka dengan konsep yang sederhana, sekarang ini Hendra mulai mengusung konsep bisnis yang baru  untuk membidik pangsa pasar yang lebih luas. Melihat perkembangan bisnis camilan keluarganya mengalami perkembangan yang cukup pesat, Hendra mulai menawarkan sesuatu yang berbeda dengan melengkapi aneka macam camilan dari berbagai daerah di Nusantara.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin modern, Hendra sengaja mengubah nama Rotary Snack menjadi Snack Zone yang mengusung konsep bisnis lebih menarik. Dengan jargon utamanya “Your One Stop Snack Outlet”, Hendra mulai memperluas pangsa pasarnya yang dulunya hanya di dominasi oleh ibu-ibu, sekarang ini Ia mulai membidik anak muda yang pada dasarnya juga menyukai aneka macam makanan ringan.
Sampai hari ini, perkembangan Snack Zone sendiri terbilang sangat signifikan. Lelaki alumni  S-1 Manajemen Keuangan lulusan Ukrida, Jakarta, serta S-2 Akunting dan Finansial dari University of Technology Sydney, Australia ini menggurita ke beberapa pusat perbelanjaan yang ada di ibu kota negara (Jakarta). Sebut saja seperti gerai Snack Zone di Plaza Indonesia, Mega Mall Pluit, Mall Kelapa Gading, Plaza Semanggi, Senayan City, food court Bank Indonesia, serta menitipkan beberapa jenis barang dagangannya di Giant supermarket.

Keunikan Snack Zone

Meskipun sekarang ini pelaku bisnis camilan sudah mewabah di berbagai daerah, namun Hendra cukup pintar untuk melakukan diferensiasi sehingga tidak heran bila konsep Snack Zone yang diusung Hendra tersebut cukup menyita perhatian konsumen kelas atas. Beberapa diferensiasi yang dilakukan Hendra antara lain menyediakan ragam camilan yang sangat bervariasi, yaitu lebih dari 500 jenis camilan seperti misalnya kerupuk ikan, rempeyek kacang, keripik pisang, keripik singkong, abon sapi, aneka kue kering, manisan, permen, dan lain sebagainya.
Bahkan tak hanya itu saja pelayanan yang ditawarkan Hendra untuk memanjakan para konsumennya, Ia juga sengaja menggandeng para produsen camilan di berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas atas yang menginginkan ragam camilan khas daerah tertentu. Contohnya saja seperti kacang sangrai Manado, kue lapis mandarin dari Solo, bagelen, intip gula, manisan pala, lanting, serta aneka makanan ringan khas nusantara yang dikemas secara eksklusif di setiap gerai Snack Zone.
Keunikan inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Sehingga tidak perlu diragukan lagi bila Hendra mematok target penjualan yang cukup tinggi untuk setiap gerai camilan yang Ia miliki. Luas setiap gerai Snack Zone kurang lebih 30-60 m2, dan setiap m2 dari tokonya ditargetkan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta per bulan dengan profit sekitar 30%-40% dari omzet. Tentunya angka tersebut terbilang cukup menggiurkan untuk sebuah gerai bisnis camilan.
Kejeliannya dalam membidik target pasar, kini mengantarkan lelaki kelahiran 1980 ini menjadi salah satu pengusaha yang sukses berbisnis camilan di kelas atas. Semoga informasi kisah sukses pengusaha ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk segera terjun di dunia usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses!




“Bakso Malang Kota – Cak Eko”

Ya, inilah sekilas cerita sukses Cak Eko. Pengusaha muda berusia 35 tahun ini berbagi pengalaman jatuh bangunnya dalam berwirausaha. Ketika berumur 23 tahun, waktu itu adalah awal mula dia terjun dalam bidang usaha.
Pertama, dia pernah berbisnis handphone. Tidak sempat berjalan lama dan gagal. Faktor yang menyebabkan kegagalan di bidang seluler ini kata dia antara lain tidak fokus, tidak mampu menguasai pasar, menganggap usaha tersebut hanya sambilan dan tambah-tambah penghasilan saja.
Kedua, dia mencoba peruntungan usaha di bidang agribisnis. Namun mengalami kegagalan. Penyebab kegagalannya ternyata mendasar sekali, yaitu tidak menguasai ilmunya. Disebutkan bahwa dia tidak mengetahui dosis pupuk yang harus diberikan, akibatnya terjadi gagal panen yang akhirnya mengalami kerugian.
Ketiga, seorang Cak Eko juga pernah terjun dalam bisnis busana, namun kembali mengalami kegagalan. Penyebab kegagalannya adalah kurang mempelajari situasi dan kondisi pasar yang sedang terjadi, kurang memiliki rasa percaya diri, dan tidak mampu bersaing dalam hal marketingnya.
Keempat, dia pernah menggeluti usaha kerajinan. Berbagai kerajinan diproduksinya, namun lagi-lagi ia harus menerima pil pahit alias gagal. Penyebabnya adalah belum mengetahui segmentasi pasar, hanya mengikuti kata hatinya yang tertarik untuk melakukan ekspor dan tidak mempelajari betul bagaimana caranya menembus pasar ekspor, pemasaran secara door to door sehingga kesulitan dalam hal cash flow, dan sulit menagih uang ke konsumen bahkan pernah sampai tiga minggu lamanya. Hal tersebut menyebabkan uang untuk modal berikutnya mengalami kemacetan.
Keempat usaha tersebut adalah sebagian usaha yang pernah dia geluti dan semuanya gagal. Menurut penuturannya dia pernah sepuluh kali mengalami kegagalan dalam membangun usaha, sehingga selain itu ada enam jenis usaha lain yang pernah digelutinya dan mengalami kegagalan. Namun, dia adalah seseorang dengan tipe pekerja keras dan pantrang menyerah. Setiap kali jatuh dan gagal, ia terus bangkit, tidak tinggal diam, berusaha menciptakan usaha baru dengan semangat yang tetap. Dalam benaknya, dia harus terus maju, besar, dan dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Bagi pria jebolan Fakultas Teknik Sipil – Institut Teknologi Semarang ini, kegagalan merupakan pelajaran bisnis yang tidak ia dapatkan di bangku perkuliahan. Bahkan ketika kuliah ia pernah mendapat nilai E dan harus mengulang mata kuliah yang bersangkutan dengan wirausaha itu.
Awal tahun 2006, ia mulai tertarik untuk berbisnis bakso. Ketertarikannya bermula dari sebuah bandara, ia melihat sebuah gerai yang dikerumuni banyak orang dan tentunya laku keras. Namun dalam bayangannya ia dihadapkan pada masalah permodalan, di bandara itu kira-kira diperlukan tiga ratus juta untuk menyewa sebuah gerai. Kendala lainnya adalah dia tidak bisa membuat bakso. Untuk kendala yang kedua ini nampaknya tidak terlalu sulit bagi dia untuk mengatasinya. Dia pergi ke Surabaya dengan maksud ingin mempelajari bagaimana proses pembuatan bakso. Disana, ia menyuruh seorang kerabatnya untuk mencarikan orang yang biasa membuat bakso. Setelah dipertemukan dengan si pembuat bakso, ia belajar selama sehari suntuk. Setelah itu, ia kembali ke Jakarta dan melakukan eksperimen selama 3 bulan.
Setelah 3 bulan bereksperimen, akhirnya ia menemukan formula kering. Meski demikian, ia sempat ragu akan bakso buatannya itu. Ia pun membawa bakso buatannya tersebut untuk dicobakan kepada teman-temannya. Dia tidak menyebutkan tester baksonya itu buatan dia sendiri, ia mengatakan pada teman-temannya bahwa bakso tersebut adalah membeli dari orang lain. Namun apa yang terjadi, setelah dicoba ternyata bakso tersebut diakui teman-temannya lezat sekali, bahkan ada salah seorang temannya minta no hp si pembuat bakso (yang padahal dirinya) karena minggu depan ada acara besar katanya. Betapa terkejutnya Cak Eko waktu itu, betapa tidak, bakso buatannya itu terpakai dan bahkan temannya tadi ingin membeli dalam jumlah banyak karena kelezatannya itu. Akhirnya dia mengaku bahwa bakso tersebut adalah hasil jerih payahnya selama tiga bulan. Dia mulai percaya diri dan yakin bahwa bakso buatannya itu harus segera dikomersialkan.
Pada saat itu, ia dihadapkan pada sebuah kendala. Ia harus mempunyai modal sekitar 40 juta, 30 juta untuk menyewa tempat dan 10 juta untuk peralatan. Dia tidak terjebak dan terlarut dalam menghadapi kendala tersebut dan akhirnya menemukan solusi. Dia mencari tempat yang murah di Bekasi, berkeliling kesana kemari. Dia menemukan sebuah Pujasera yang baru saja dibangun, lalu dia menemui pemiliknya. Ternyata disana sudah ada 3 produsen bakso yang hendak beroperasi. Si pemilik Pujasera sempat menolak Cak Eko dengan dalih tidak sampai hati kepada ketiga produsen bakso yang telah lebih dulu darinya. Dia terus memutar otaknya, bagaimana caranya agar ia bisa berproduksi disana. Timbullah sebuah ide, ia mengusulkan kepada si pemilik Pujasera untuk melakukan tender di rumahnya dengan cara mentesterkan bakso masing-masing. Pada hari minggunya ia mendapat kabar bahwa tender dimenangkan olehnya. Betapa senangnya hati Cak Eko waktu itu, ia bisa berproduksi tanpa harus menyewa toko. Selanjutnya ia membeli peralatan dan bahan baku. Waktu itu modalnya kurang lebih 2,5 juta. Omset pertama ia jualan lumayan besar, sekitar 900 ribu. Omset tersebut terbilang besar dan luar biasa, apalagi awal berjualan pada saat itu.
Setelah mulai berjalan, ternyata dia tidak puas dengan penghasilannya pada saat itu. Dia membuka cabang di Tamrin Square, Bekasi. Kemudian membuka cabang ketiganya di Surabaya. Dia cukup lelah dengan membuka beberapa cabang baru usaha baksonya itu. Dia berfikiran ‘kapan dapat menikmati hasilnya’. Akhirya dia memutuskan untuk membangun pola usaha kemitraan. Dengan cara yang unik, banyak orang yang ingin bermitra dengannya. Lalu, dia mendirikan tempat produksi di Surabaya. Tujuannya agar mempermudah memasok ke Indonesia bagian timur.

Puspo  Wardoyo  pengusaha Ayam Bakar Wong

                Puspo  Wardoyo, merintis waralaba Ayam Bakar Wong Solo hingga menjadi sebesar sekarang ini dari titik paling bawah. Ia pernah menjajakan ayam bakar di kaki lima. Sejak kecil Puspo sudah terbiasa berurusan dengan ayam. Orangtuanya penjaja ayam. Pagi hari, Puspo kecil membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar. Siang sampai malam, ia membantu orangtuanya menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo.Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan. Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo. Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. "Dengan uang, jarak antara Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang, " kata Puspoyo menirukan ucapan temannya tadi. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara MedanSolo Berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis jarak antara SoloSemarang ditempuh sekitar empat jam.Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo. "Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan, " pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? "Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, " katanya. Ketika tengah merantau di ibu kota itu, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa boleh buat, demi mewujudkan citacitanya, ia berusaha mengumpulkan modal dengan kembali menjadi guru. Bedanya, kali ini ia tidak lagi menjadi pegawai negeri seperti sebelumnya ketika menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten Magelang. "Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi," katanya. Di sinilah anak pasangan Sugiman Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut. Dua tahun menjadi guru ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400. 000. Dengan uang inilah keinginannya menaklukkan kota Medan tak terbendung lagi. Uang tabungan itu sebagian ia gunakan untuk menyewa rumah dan membeli sebuah motor Vespa butut. Masih ada sisa Rp 700.000 yang kemudian ia manfaatkan sebagai modal membangun warung kaki Lima di bilangan Polonia Medan. Disini ia menyewa lahan 4x4 meter persegi seharga Rp 1.000 per hari. Suatu saat pegawainya tertimpa masalah. Ia terlibat utang dengan rentenir. Puspo membantunya dengan cara meminjamkan uang. Sebagai ucapan terimakasih, sang pegawai membawa wartawan sebuah harian lokal Medan. Si wartawan yang merupakan sahabat suami pegawai yang ditolong Puspo kemudian menuliskan profilnya. Judul artikel itu Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo. Artikel itu membawa rezeki bagi Puspo. Esok hari setelah artikel dimuat, banyak orang berbondong-bondong mendatangi warungnya. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian untuk menaklukkan "jarak" Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang pun menjadi kenyataan. Bukan itu saja, penilaian atas prestasi bisnis yang dirintis Puspo lebih jauh melewati impian yang ia tinggalkan sebelumnnya.
                Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo) melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibarkibar setelah berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva "mengapung" dari daerah pinggiran. Dalam waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggaktonggak bisnisnya di pusat kota metropolis ini. Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan memasuki berbagai kota besar di Indonesia.Fenomena Wong Solo mengundang decak kekaguman berbagai kalangan dari pejabat pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari libur. Bahkan ketika bulan Ramadhan kemarin, semua outlet tersebut membatasi jumlah pengunjung saat berbuka puasa.
                Skala usaha Wong Solo itu memang belum sekelas para konglomerat masa lalu yang dengan enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. "usaha saya memang
belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu," paparnya. Kendati masih tergolong usaha menengah, namun kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang. Untuk mewujudkan mimpimimpinya, ayah sembilan anak dari empat istri ini telah melewati rute perjalanan yang berlikaliku lengkap dengan segala tantangannya.Ada masa ketika di waktuwaktu awal merintis usaha di Medan ia nyaris patah semangat garagara selama berhari-hari tak pernah meraih untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam bakar plus nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku. Pernah pula seluruh dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis hujan. "Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi". katanya. Istrinya yang tak sabar melihat lambannya usaha Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar memberitahu ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. "Mertua saya bilang, kapan kamu akan tobat," katanya menirukan ucapan sang mertua.Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha warung ayam bakar “Wong Solo” akan berkembang seperi sekarang. Maklum, rumah makan yang dibukanya hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3x4 meter di dekat bandara Polonia, Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagibagi menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi. Di tahun kedua, naik menjadi 10 ekor ayam per hari Namun sekarang, 13 tahun kemudian, di memiliki lebih dari 16 cabang tersebar di medan, Banda Aceh, Padang, Solo, Denpasar, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Jakarta, Malang dan Yogyakarta meskipun masih mengandalkan ayam bakar, namun menunya kini makin beragam hingga 100 jenis. Sudah terbiasa bagi Wardoyo untuk menyisihkan 10 % dari keuntungannya untuk amal. Dia percaya, Tuhan akan memperkaya orang yang banyak beramal. Maka jangan heran bila Anda kebetulan mampir di salah satu rumah makannya menyaksikan karyawannya sedang berkerumun di saat menjelang atau usai jam kerja. Mereka sedang melaksanakan ibadah “kultum” atau kuliah tujuh menit.Promosi dari mulut ke mulut membuat warungnya makin terkenal. Terlebih ketika seorang wartawan daerah membuat tulisan tentang “Wong Solo”, makin ramai saja orang yang makan ke warungnya. Pernah suatu hari dia kewaalahan memenuhi pesanan pelanggan. Di saat tiga ekor ayam jualannya habis, datang pembeli lain yang bersedia menunggu asalkan Wardoyo mau mencari ayam batu ke pasar. Diapun memenuhi permintaan pelanggan tersebut dengan membeli tiga ekor ayam lagi. Namun datang lagi pelanggan lain yang juga bersedia menunggu Wardoyo mencari ayam ke pasar. “Seharian itu, hingga larut malam saya pontang panting ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus berdatangan,” kata Wardoyo mengenang.
               
Bersamaan dengan bertambahnya pelanggan, dua tahun kemudian Wardoyo memperluas warungnya hingga layak disebut rumah makan. Jiwa seni Wardoyo nampak tergurat pada bentuk bangunan dan penampilannya yang cenderung “nyleneh”. Dalam bentuk bangunan, misalnya, Wardoyo tak segansegan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar seorang arsitek guna mewujudkan imajinasinya terhadap suatu bentuk bangunan.Perpaduan seni dan entrepreneurship Wardoyo juga tertuang dalam pendekatan terhadap konsumen. ”Saya berusaha menghafal namanama semua pelanggan saya. Sehingga sewaktu mereka datang saya harus menyambut mereka dengan menyebut namanya,” papar Wardoyo. Inilah yang disebutnya sebagai “menjadikan pelanggan sebagai saudara”. Seiring dengan berkembangnya “Wong Solo”, Puspo Wardoyo membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menikmati nilai tambah Wong Solo melalui system waralaba. Untuk waralaba tersebut, Wardoyo telah membuat standarisasi dalam hal rasa dan gerai (outlet). Jika seseorang membeli waralaba “Wong Solo” di Jakarta, dipastikan sama rasa dan penataan gerainya dengan “Wong Solo” Medan atau di tempat lain.Setelah sukses membesarkan “Wong Solo”, apa harapan Puspo Wardoyo selanjutnya ? Dengan sungguhsungguh dia menyahut,” Ingin terus bekerja keras, kaya raya, banyak istri, dan masuk surga.” (sumber: kerjasejahtera.blogspot.com)
                Sekarang gerai Wong Solo telah berdiri hampir di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Keuletan Puspo Wardoyo dalam membesarkan warung makan ayam bakarnya menjadi idaman masyarakat memang tidak mudah. Ia harus merasakan terlebih dahulu berbagai cobaan, rintangan, halangan, hingga masa-masa sulit yang mencekam. Bermodalkan kesabaran, kerja keras, pantang menyerah, dan dibumbui ketaqwaan dalam menjalankan usaha berdasarkan syariat Islam, tak pelak ia mampu menorehkan prestasi yang gemilang, yakni ia mendapat penghargaan Enterprise-50 sebagai Waralaba Lokal Terbaik dari Pesiden RI, Megawati Soekarnoputri.